Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Impor Baju Bekas Dilarang, Ini Alasan Penggemar Tetap Milih Thrift

Sejumlah penggemar pakaian thrift di Kota Solo menilai, thrifting menjadi suatu hal yang menurut mereka cukup menyenangkan dan ramah kantong.
SHARE
Impor Baju Bekas Dilarang, Ini Alasan Penggemar Tetap Milih Thrift
SOLOPOS.COM - Pengunjung memilih baju saat Thrifting Festival yang diselenggarakan Java Thrifting Day di Solo Grand Mall, Jumat (25/3/2022). (Solopos/Siti Nur Azizah)

Solopos.com, SOLO – Sejumlah penggemar pakaian thrift di Kota Solo menilai, thrifting menjadi suatu hal yang menurut mereka cukup menyenangkan dan ramah kantong. Membeli pakaian thrift menurut mereka dapat memangkas sepertiga dari harga baru produk yang sama.

Salah satunya, Johari Abdul Chalim, 22, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Solo. Alim, panggilannya bisa dibilang selalu berkunjung ke event thrifting yang digelar di Kota Bengawan.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Ia mengatakan, harga pakaian thrift bisa sepertiga dari harga pakaian asli atau baru. Alim mencontohkan, ia pernah membeli celana thrift model chinos merek Uniqlo seharga Rp200.000. Padahal, bila di toko resmi dan dengan kondisi baru, celana tersebut dibanderol Rp600.000.

“Misalnya merek Uniqlo chinos pants, itu kalau baru bisa Rp600.000 tapi kalau thrift ya sekitar Rp200.000 beruntung di bawahnya lagi,” kata dia saat ditemui Solopos, Senin (15/8/2022).

Harga tersebut dinilai sangat ramah kantong mahasiswa namun juga tak ketinggalan mode. Menurut Alim, merek barang yang dijual pada event thrift boleh dikata lebih branded dan berkualitas. Hal itu juga yang menjadi pertimbangan kedua Alim lebih suka membeli pakaian thrift.

Baca juga: Pengusaha Minta Kemendag Hukum Importir Baju Bekas, Ini Alasannya

“Pertama harga. Kedua merek, baru kualitas, bahannya, kemudian [kualitas] sablon. Terkadang kalau merek [terkenal] kan mestinya kelihatan keren,” imbuh mahasiswa semester lima tersebut.

Tak hanya dalam event, Alim juga sering membeli pakaian thrift melalui online shop. Namun ia tak bisa menghitung, berapa kali rata-rata ia membeli pakaian thrift dalam sebulan. Menurutnya, ia hamper selalu membeli pakaian thrift yang ia inginkan.

“Sering online. Kadang pas event. Targetku kadang [membeli] sesuai yang diinginkan,” kata dia.

Sementara itu, Haryas, 25, lebih mempertimbangkan model pakaian dibanding harga saat ia hendak membeli pakaian thrift. Haryas sendiri cenderung menyukai pakaian dengan model-model vintage. Karenanya ia kerap berburu pakaian dengan model dan merek jadul di toko pakaian thrift.

“Nomer satu model, nomor dua brand lawas, tiga baru, harga,” kata Haryas, Senin.

Baca Juga: Mendag Sebut Bisnis Baju Bekas Boleh, Impornya yang Dilarang

Sama halnya dengan Alim, Haryas mengaku ia dapat memangkas sepertiga biaya yang harus ia keluarkan untuk membeli pakaian. Sejauh pengalamannya, ia sempat membeli pakaian thrift dari harga Rp20.000 hingga Rp500.000, tergantung model yang ia pilih.

“Rp20.000 sampai Rp500.000. Iya sepertiga [perbandingan harga thrift dengan pakaian baru],” kata dia.

Dea Nur, 24, seorang pekerja perbankan yang gemar membeli pakaian thrift. Saat diwawancara Solopos, Dea mengatakan ia hampir dalam dua atau tiga bulan membeli pakaian thrift. Tak tanggung, ia mengaku bisa membeli tiga potong pakaian sekaligus.

“Sering malah. Dan sekali beli aku bisa tiga langsung kalau cocok modelnya,” katanya saat berbincang dengan Solopos.

Baca Juga: Penjual Thrift Pastikan Produk Mereka Bersih dan Tak Bakal Rugikan IKM

Dibandingkan datang ke event thrift, Dea cenderung banyak membeli pakaian thrift di online shop. Bahkan ia harus adu cepat dengan pembeli lain saat toko pakaian thrift tersebut sedang menjual pakaian menggunakan fitur siaran langsung.

Tampaknya faktor harga pakaian thrift menjadi pertimbangan terbesar bagi penggemarnya. Namun Dea juga mempertimbangkan model pakaian saat hendak membeli pakaian thrift. Menurutnya model yang ada di toko pakaian thrift jauh lebih menarik perhatiannya.

Ketiga, Dea mempertimbangkan ukuran pakaian. Ia mengaku kerap mendapat pakaian dengan ukuran yang pas sesuai badannya.

“Kalau brand sih enggak terlalu penting, cuma senang model dan ukuran karena jarang banget dapat model dan ukuran yang pas kalau beli di toko-toko [selain thrift],” imbuh dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode