Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 22 Mei 2021. Esai ini karya Y. Argo Twikromo, dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, antropolog, dan peneliti MINDSET Institute.
Impelementasi Catur Gatra Tunggal

Solopos.com, SOLO -- Catur gatra tunggal merupakan konsep penataan kota dalam kerajaan Jawa masa lalu yang bernuansa keseimbangan. Tata kelola semacam ini merupakan warisan kebijaksanaan para leluhur bangsa dalam mengelola kehidupan dengan mengedepankan relasi selaras.

Dalam konteks ini, upaya merajut konektivitas atas landasan kebijaksanaan masa lalu, masa kini, dan masa mendatang akan menghadirkan koridor tata kelola keharmonisan kehidupan bangsa secara berkelanjutan. Transformasi atas prinsip keselarasan dalam setiap dinamika dan perkembangan kehidupan relatif akan memberikan ruang kedekatan dengan budaya bangsa sendiri.

Nilai-nilai dan kebijaksanaan yang terkandung dalam  catur gatra tunggal perlu ditransformasikan maupun diimplementasikan dalam konteks tata kelola kehidupan masa kini. Terutama dalam upaya mereduksi berbagai ketimpangan dan ketidakmerataan kehidupan yang terjadi.

Berbagai capaian kemajuan dan keunggulan dalam perkembangan kehidupan global saat ini perlu diberi koridor keselarasan agar dapat berdampingan secara seimbang dan padu serasi dengan kehidupan bersama bangsa ini. Sekurang-kurangnya, keharmonisan kehidupan bersama dapat terkelola kembali melalui pengutamaan relasi selaras antara manusia dengan sesama, dengan alam, dengan Sang Pencipta, dan juga antarberbagai komponen perkembangan kehidupan.

Panembahan Senopati sebagai pendiri Kesultanan Mataram merupakan raja yang bijaksana dalam menggagas serta mengimplementasikan catur gatra tunggal. Pada masa pemerintahannya (1587-1601), Kotagede sebagai pusat pemerintahan Keraton Mataram Islam dikelola dengan konsep catur gatra tunggal dan diberi landasan konsep kosmologi Jawa.

Konsep kosmologi Jawa bertumpu pada keharmonisan mikrokosmos dan makrokosmos. Penataan ruang kota ditopang oleh empat komponen kehidupan secara selaras dan padu serasi, yaitu: keraton sebagai pusat pemerintahan, masjid sebagai pusat keagamaan, alun-alun sebagai pusat kegiatan sosial kemasyarakatan, dan pasar sebagai pusat perekonomian.

Keberadaan empat komponen tersebut merupakan satu kesatuan holistik yang saling mendukung dan saling melengkapi. Catur gatra tunggal mengandung kebijaksanaan tentang keseimbangan relasi antarempat komponen tersebut. Kesatuan relasi holistik ini menghasilkan ekosistem kehidupan yang relatif mengedepankan hubungan seimbang dan harmonis antarkomponen kehidupan.

Konsep catur gatra tunggal memberikan ruang internalisasi atau penghayatan bagi sikap dan perilaku dalam mewujudkan keharmonisan kehidupan  masyarakat. Konsep ini merupakan penyeimbang ketika terjadi dominasi salah satu komponen terhadap komponen-komponen lain. Dalam tatanan ini, berbagai komponen kehidupan dirajut dan dipertemukan dalam relasi harmonis.

Koneksi dalam Kehidupan

Konsep catur gatra tunggal juga terkoneksi dengan kebijaksanaan para leluhur tentang tata kelola kehidupan yang mengedepankan relasi selaras antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta. Kebijaksanaan leluhur tersebut ditransformasikan dan diimplementasikan oleh Panembahan Senopati dalam keseimbangan pengelolaan komponen pemerintahan, keagamaan, sosial kemasyarakatan, dan perekonomian.

Prinsip keselarasan dan tidak adanya dominasi antara yang satu dengan yang lainnya menjadi titik temu secara padu serasi. Keberadaan catur gatra tunggal juga ditopang oleh berbagai turunan prinsip keselarasan yang sudah terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, baik berupa narasi, mitos, simbol, ungkapan, maupun perilaku.

Tanpa disadari beberapa ungkapan ataupun simbol ikut menopang dan memelihara prinsip keselarasan kehidupan, seperti ngono ya ngono ning aja ngono (begitu ya begitu, tapi jangan begitu), tuna sathak bathi sanak (rugi materi-barang dagangan, tapi untung persaudaraan), manunggaling kawula Gusti (bersatunya–rasa serta kehendak–rakyat dan pemimpin), dan hamemayu hayuning bawana (memperindah keindahan dunia). Walaupun tampak berbeda-beda konteks dan tingkatannya, semuanya bermuara pada prinsip relasi keselarasan dalam dinamika kehidupan.

Kebijaksanaan Lokal

Ketika salah satu komponen sangat memungkinkan untuk mendominasi komponen yang lain, Panembahan Senopati secara bijaksana sudah memperkirakan kemungkinan tersebut sehingga merajutnya pada hubungan yang selaras dan tidak ada yang saling mendominasi antarempat komponen yang berkembang saat itu.

Ungkapan tuna sathak bati sanak merupakan keseimbangan dari urusan ekonomi dan urusan sosial, meskipun rugi dalam urusan ekonomi, memberi keuntungan berupa hubungan lebih erat  dalam urusan sosial atau persaudaraan. Perlu dipahami bahwa perkembangan kehidupan saat ini cenderung mengedepankan eksploitasi melalui kompetisi dalam meraih capaian kehidupan yang diinginkan.

Ruang bagi masing-masing komponen kehidupan untuk saling bersaing semakin menjadi terbuka. Dalam konteks ini, ekosistem yang mewujudkan kehidupan bersama secara selaras juga menjadi relatif terganggu dan sering kali justru mengakibatkan ketimpangan di sana-sini.

Dengan demikian, kebijaksanaan yang terkandung dalam catur gatra tunggal dapat menjadi penyeimbang berbagai eksploitasi dan kompetisi yang terjadi. Transformasi kebijaksanaan tersebut dapat digunakan sebagai landasan implementasi kehidupan selaras masa kini.

Kesediaan dan kesadaran untuk saling memahami, menghargai, melengkapi, menopang, dan berkolaborasi secara selaras merupakan prasyarat yang perlu dikedepankan agar dapat mereduksi eksploitasi dan dominasi secara kurang seimbang.

Dalam konteks saat ini, rajutan relasi keseimbangan antarkomponen kehidupan dapat lebih diperluas secara relatif fleksibel mengingat komponen kehidupan berkembang semakin kompleks. Selain itu, transformasi secara holistik dari berbagai turunan prinsip keselarasan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat juga perlu diberi ruang sesuai konteks masa kini.

Berbagai bentuk narasi, simbol, sikap dan perilaku, serta ritual modern perlu diberi sentuhan nilai-nilai keselarasan agar menjadi penopang dalam mewujudkan keharmonisan kehidupan bersama secara holistik.

 

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago