[ X ] CLOSE

Ikatan Apoteker Indonesia: Ivermectin Seharusnya Tak Boleh Dijual Bebas

Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) menegaskan Ivermectin, obat yang diklaim menyembuhkan Covid-19, seharusnya tak boleh dijual bebas.
Ikatan Apoteker Indonesia: Ivermectin Seharusnya Tak Boleh Dijual Bebas
SOLOPOS.COM - Ivermectin (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SOLO – Ivermectin, obat yang diklaim bisa menyembuhkan Covid-19 kini heboh diperbincangkan hingga memicu Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) angkat bicara. Menurut Ketua PP IAI, Nurul Falah Eddy Pariang, Ivermectin seharusnya tak dijual bebas.

“Penelitian secara in vitro, artinya baru penelitian dalam skala laboratorium, masih sangat awal dan membutuhkan uji klinik untuk memastikan. Yang pasti, Ivermectin adalah golongan obat keras yang harus didapatkan dengan resep dokter. Karena itu kami menghimbau agar sejawat apoteker di apotek dalam melayani Ivermectin dipastikan ada resep dokter,” ungkap Nurul seperti dikutip Suara.com, Sabtu (3/7/2021).

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, ratusan warga di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Jateng) diklaim sembuh dari Covid-19 setelah minum obat cacing dan obat untuk hewan, Ivermectin. Mantan Bupati Sragen, Untung Wiyono, juga mendorong pemerintah pusat untuk memproduksi massal obat ini.

Baca Juga: Resep Tengkleng Kambing Enak Khas Solo, Cocok Buat Menu Iduladha

Dia tak memungkiri Ivermectin yang kini kabarnya masih dijual bebas merupakan obat antiparasit yang biasa dipakai untuk menyembuhkan penyakit cacingan, terutama pada hewan.

Sementara itu, Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Bidang Farmasi, Keri Lestari, mengatakan World Health Organization (WHO) alias Badan Kesehatan Dunia belum merekomendasikan Ivermectin sebagai obat Covid-19. Saat ini, Ivermectin baru boleh digunakan untuk uji klinik.

“Beredar informasi bahwa obat ini [Ivermectin] bisa digunakan untuk pencegahan, untuk pengobatan saja belum direkomendasikan, apa lagi untuk pencegahan, karena adanya efek samping yang masih perlu ditelaah lebih dalam mengenai keamanan penggunaan obatnya. Profil obat tersebut sebagai obat cacing atau obat anti parasit yang sesuai ijin edar, dinyatakan obat tersebut indikasinya digunakan hanya satu tahun sekali, kalau digunakan untuk pencegahan berarti penggunaannya rutin dalam jangka panjang, ini tentu memerlukan perhatian khusus dan pembuktian lebih jauh,” terang Keri.

Manfaat Ivermectin

Di sisi lain, Dewan Pakar PP IAI, Dr Apt. Yahdiana Harahap, mengakui Ivermectin yang masih dijual bebas mampu menghambat replikasi SarsCov-2 berdasarkan penilitian skala laboratorium alias in vitro. Meski demikian, hal ini tidak bisa langsung ditranslasikan dengan kajian klinis

Baca Juga: Ratusan Warga Sragen Diklaim Sembuh dari Covid Setelah Minum Obat Cacing

“Sebelum sampai pada uji klinis, masih dibutuhkan sejumlah studi lanjutan setelah uji in vitro dilakukan, terutama adalah penyesuaian dosis dari dosis sebagai anti parasit menjadi dosis anti virus,” ungkapnya.

Dalam beberapa literatur ditemukan penghitungan IC 50 bagi Ivermectin yang dijual bebas, yaitu 5 mikromolar. IC 50 adalah kadar obat dalam darah, sehingga obat tersebut mampu membunuh 50% virus di dalam tubuh. Studi in vitro yang dilakukan oleh peneliti Australia juga menggunakan kadar 5 mikromolar.

Setelah uji in vitro, kemudian dilanjutkan dengan studi in vivo. Sebagai informasi, dosis anti parasit yang diijinkan adalah 200–400 mikrogram/kg BB, sementara dosis yang ada di pasaran adalah 12 mg. Pada uji in vivo digunakan dosis sebesar 8,5 kali dosis obat yang beredar di pasaran, dan ternyata kadar obat yang ditemukan dalam darah hanya 0,28 mikromolar.

Baca Juga: Obituarium Ki Manteb Soedharsono, Sosok Rendah Hati, Tak Pelit Bagikan Ilmu dan Materi

Yahdiana mengatakan jika ingin mengorelasikan obat cacing ke anti virus, maka yang perlu diperhatikan adalah dosisnya. Dosis yang diberikan harus pas agar mampu membunuh virus dalam tubuh.

“Kalau dalam studi in vitro ditemukan kadar 5 mikromolar yang mampu membunuh virus, sementara dengan dosis 8,5 kali dari dosis obat yang ada di pasaran saat ini hanya mampu menghasilkan 0,28 mikromolar, artinya, apabila akan dilakukan uji klinis, maka dosis yang digunakan seharusnya adalah 250 kali lipat. Itu baru dari sisi hitungan kadar, sementara masih perlu kita pertimbangkan mengenai karakter lain dari obat ini,” tandasnya.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago