Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

IHSG Hari Ini Berpotensi Rebound di Tengah Melemahnya Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini berpotensi rebound hingga ke level 6.888. Lantas apa rekomendasi sahamnya?
SHARE
IHSG Hari Ini Berpotensi Rebound di Tengah Melemahnya Rupiah
SOLOPOS.COM - Ilustrasi Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Dok/JIBI/Bisnis)

Solopos.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Rabu (7/7/2022)  hari ini berpotensi rebound hingga ke level 6.888. Lantas apa rekomendasi sahamnya?

Tim riset PT Yugen Bertumbuh Sekuritas menyatakan bahwa peluang investasi jangka panjang masih terbuka lebar bagi investor dalam pasar modal Indonesia.

PromosiJos! Petani & Peternak Klaten Bisa Jadi Penopang Kedaulatan Pangan

Pergerakan IHSG yang berada dalam tekanan adalah peluang berharga yang dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi pembelian mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang cukup stabil.

Hal itu terlihat dari rilis data perekonomian terlansir ditambah dengan kinerja emiten yang diperkirakan akan cukup bagus sepanjang semester pertama tahun 2022, hari ini IHSG berpotensi menguat.

Adapun rekomendasi saham tim riset Yugen Bertumbuh Sekuritas hari ini diantaranya adalah ASII, JSMR, KLBF dan BINA. Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup pada posisi 6.646,41, atau turun 0,85 persen pada Rabu (6/7/2022). Sepanjang perdagangan IHSG bergerak pada rentang 6.602,89 – 6.706,91.

Baca Juga : IHSG Diprediksi Kembali Bertaji, Cermati Saham-Saham Ini

Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper Jordan dalam risetnya menjelaskan, IHSG ditutup melemah dikarenakan tekanan jual yang masih cukup tinggi didorong oleh kekhawatiran akan inflasi serta kenaikan suku bunga pada akhir bulan ini.

Selain itu juga ditekan oleh penurunan harga komoditas. Dennies memprediksi IHSG akan menguat pada perdagangan hari ini.

Secara teknikal, candlestick sudah tertahan di support kuat lower Bollinger band dengan stochastic yang mencapai level jenuh jual. Diperkirakan pergerakan akan didorong terutama oleh saham big caps yang telah melemah sepekan terakhir.

Di lain sisi, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah mencapai Rp15.000 juga berpengaruh pada sentimen investor. Investor diharapkan cermat terhadap saham dengan impor bahan baku besar seperti farmasi.

Baca Juga: IHSG Masih Dipengaruhi Sentimen Negatif, Cermati Saham-Saham Ini

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp15.000 sebelum ditutup melemah 0,04 persen atau 5,5 poin sehingga parkir di posisi Rp14.999 per dolar AS.

Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheryl Tanuwijaya mengataan saham sektor farmasi dengan ketergantungan impor yang besar untuk bahan bakunya menjadi yang dirugikan dalam situasi ini.

Di sisi lain, sektor energi dan industri dasar menjadi yang paling diuntungkan dengan pelemahan rupiah, mengingat porsi ekspornya yang besar.

Senada, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijaya Prasetyo mengatakan rupiah cenderung memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan banyak mata uang lain. Namun risiko resesi global masih menjadi faktor yang memicu kekhawatiran pasar mengenai ekonomi ke depan.

Baca Juga: Perkembangan Asuransi Syariah di Indonesia

“Namun hal sebaliknya akan dialami emiten yang lebih banyak mengimpor, khususnya bahan baku untuk produksi, seperti emiten kimia dan produk turunan petrokimia. Juga emiten-emiten yang memiliki utang yang besar dalam mata uang asing, khususnya dolar AS,” jelasnya, dikutip Kamis (7/7/2022).

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede menjelaskan pelemahan rupiah didorong oleh kekhawatiran terkait pertumbuhan ekonomi China. Ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi China turun setelah Shanghai kembali melakukan tes massal Covid-19.

Dia memperkirakan pelemahan nilai tukar cenderung bersifat jangka menengah dan rupiah berpotensi menguat secara gradual pada Agustus karena proyeksi kebijakan yang less hawkish dari Fed seiring dengan mulai melambatnya ekonomi AS.

“Rupiah diperkirakan mampu memangkas pelemahannya pada akhir tahun terutama akibat dimulainya peningkatan suku bunga Bank Indonesia,” katanya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode