[ X ] CLOSE

Historisitas cerita es Saripetojo

Historisitas cerita es Saripetojo
SOLOPOS.COM - Heri Priyatmoko (JIBI/SOLOPOS/Ist)

Heri Priyatmoko (JIBI/SOLOPOS/Ist)

Salah besar jika menganggap Pabrik Es Saripetojo tiada memiliki ikatan historis dengan kehidupan masyarakat Solo. Ia bukan sembarang pabrik yang sepi cerita dan makna. Urat leher warga Solo pantas menegang dan mereka layak merasa terlukai hati gara-gara Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, menyodorkan jawaban yang terkesan arogan manakala dimintai komentar perihal pembangunan mal di bekas pabrik es ini.

Ada lembaran sejarah lokal yang harus dibentangkan dan diceritakan secara gamblang di sini, agar misi kerakyatan nakhkoda Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut tidak tersalin menjadi bali desa mbangun mal.

Bila ingin membicarakan munculnya pabrik es di Kota Solo, mau tak mau mesti mengaitkannya dengan realitas sejarah toewan-toewan kulit putih yang menginjakkan kaki di bumi Hindia Belanda. Fenomena es batu sesungguhnya sudah ada di Batavia sejak pertengahan abad XIX. Lembar kalender menunjuk angka 16 November 1846. Orang Betawi terheran-heran lantaran menyaksikan dan merasakan dinginnya es batu yang diangkut oleh kapal dari Boston (Amerika) di perairan Betawi. Tidak tersedia cukup data ihwal bagaimana cara awak kapal tersebut menjaga biar “barang mewah” ini tidak mencair.

Kapal itu berlayar dari Boston pada 28 Juli 1846. Tuan penjajah ini memang sengaja mengekspor es batu ke negara-negara berhawa panas. Javasche Courant edisi 3 Februari 1847 menginformasikan kaum pribumi detik itu menyebut es sebagai “sesuatu yang mengeluarkan uap yang mengherankan dan membingungkan”. Bahkan, saking takjubnya, menilai es laksana kristal yang berharga.

Di wilayah yang beriklim tropis seperti Batavia yang terik surya sering memuncak, keringat penghuni kota kerap bercucuran, alhasil es dipandang barang yang sangat bermanfaat. Penduduk lokal dan para pendatang berkulit putih itu leluasa menenggak minuman dengan es baru pada 1870. Kala itu, pabrik es pertama beroperasi di Betawi, yang lokasinya di Prapatan, di tepian Kali Ciliwung. Sulit dilacak sejak kapan pabrik es di Petojo itu didirikan. Tampaknya berlaku hukum toponimi, masyarakat kemudian menamainya dengan Pabrik Es Petojo. Es batu laris manis lantaran ikut meramaikan meja makan selain mendinginkan tubuh bagi yang sulit beradaptasi dengan lingkungan bercuaca panas.

Kota Solo yang disebut Petrus Blumberger, seorang Asisten Residen Surakarta yang juga pengamat pergerakan kebangsaan, sebagai ”tempat jantung Jawa berdenyut” ini di era 1900 menampung 1.973 orang Eropa, 5.129 orang China, 171 orang Arab, 262 orang timur asing lainnya dan 101.924 orang Jawa. Menurut sejarawan Vincent JH Houben dalam karyanya Keraton dan Kompeni (2002), orang Belanda berbondong-bondong datang ke Vorstenlanden (daerah kekuasaan kerajaan) karena tergoda oleh bisnis industri gula yang cukup basah untuk ukuran waktu itu, selain kepentingan menjabat dalam struktur birokrasi kolonial.

Kondisi kota multiras ini tak beda jauh dengan kondisi Batavia. Meski rumah dilengkapi taman dan di sepanjang jalan kota dipenuhi pepohonan rindang, tetap saja tidak serta merta membuat dingin tubuh bagian dalam para warga asing itu. Dengan demikian, logis seandainya mereka membutuhkan es batu demi melerai panas yang membekap tubuhnya.

Peluang ini sebetulnya dilirik oleh pengusaha China dan Belanda. RM Sayid menjelaskan pada 1902 di Surakarta diusahakan lampu listrik. Paku Buwono X bersama Mangkunagoro VI serta hartawan lainnya bergandengan tangan mendirikan sebuah unit genset pembangkit tenaga listrik berkapasitas dan bertegangan tinggi dengan tenaga diesel.

Adalah perusahaan listrik swasta NV Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM) yang terlibat dalam pengelolaan, pengadaan dan perawatan lampu-lampu jalan. Kemudian berkembang menjadi distributor listrik untuk instalasi Keraton Kasunanan Surakarta, Pura Mangkunegaran, perkantoran Pemerintah Hindia Belanda, perumahan umum serta pabrik-pabrik perkebunan.

SEM yang berkantor di Purwosari ini mengundang para pengusaha untuk kian menebalkan kantong mereka dengan membuka usaha lain. RM Ng Tiknopranoto yang bekerja sebagai asisten wedana onderdistrik di Sragen sempat mencatat, bersamaan itu pengusaha China bernama Sie Dhian Ho yang sudah mempunyai toko serba ada mendirikan Pabrik Es Petojo di Purwosari.

Peradaban
Sementara itu, tidak ketinggalan pula pengusaha Belanda bernama Tuan Watsch ikut mendirikan pabrik es lainnya yaitu Mineraalwaterfabriek dan pabrik es Solosche Ijsen yang sama-sama berlokasi di Purwosari. Pemasaran es batu tidak perlu diiklankan di surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden seperti anggur merek D’Hercule, Wijn van Bayard, soft drink maupun air Belanda merk Tamarinda.

Besar kemungkinan nama “Es Petojo” sendiri sudah berkibar dari Batavia. Jadi, saya tidak yakin benar bila pabrik itu sudah ada tahun 1888 sebagaimana yang dinyatakan oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng, mengingat energi listrik belum muncul di Solo dekade itu.

Foto hitam putih zaman itu memperlihatkan pabrik ini memakai mesin uap demi menggerakkan pompa panas yang digunakan untuk produksi es batang. Terdapat cerobong asap yang menjulang dan agak goyang. Biar berdiri tegak, cerobong asap itu lantas diikat dengan tali pancang. Di muka pabrik, terlihat pintu besar dan gerobak yang bisa dimuati es batang yang tentunya untuk diantar kepada para pemesan.

Waktu terus bergulir. Banyak pabrik di Indonesia yang dikelola orang asing bernasib nahas. Ada gerakan pengusiran terhadap hampir semua orang asing pemilik perusahaan. Aksi ini sistematis karena diatur dalam UU No 86/1958 tentang Nasionalisasi Perusahaan-perusahaan Milik Belanda. Dua pabrik es di Kota Bengawan tersebut katut dinasionalisasi. NV Petodjo diambil alih menjadi perusahaan pribumi. Harapannya, dengan nasionalisasi ini dapat memberi kemanfaatan sebesar-besarnya kepada masyarakat Indonesia.

Demikianlah, Pabrik Es Saripetojo merupakan bukti sejarah strategi orang-orang Belanda tempo doeloe beradaptasi dengan lingkungan beriklim tropis. Berkat pabrik itu pulalah, masyarakat Jawa Tengah mengenal es batu. Pertanyaannya, haruskah pemerintah provinsi tetap ngotot memperbolehkan mal berdiri di bangkai bangunan bernilai historis ini? Jika aksi vandalisme ini tidak dihentikan, berarti plesetan bali desa mbangun mal menemukan kebenarannya.

Heri Priyatmoko, Mahasiswa Pascasarjana Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago