top ear
Irfan S. Fauzi/Istimewa
  • SOLOPOS.COM
    Irfan S. Fauzi/Istimewa

Hikayat Pohon Penanda Lokasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (1/2/2020). Esai ini karya Irfan S. Fauzi, pembaca buku dan penulis lepas. Alamat e-mail penulis adalah irfansholehfauzi@gmail.com.
Diterbitkan Selasa, 11/02/2020 - 05:30 WIB
oleh Solopos.com/Irfan S. Fauzi
6 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Pohon menjadi saksi sejarah pertemuan. Sejarah manusia mencatat orang-orang menanti, berjumpa, atau tinggal di sekitar pohon-pohon. Pilihan manusia berjumpa di dekat pohon menandakan kedekatan sekaligus pengakuan betapa dari sedemikian luasnya lanskap, pohon patut menjadi ikon.

Menunggu di pohon juga dilakukan Mantep, tokoh cerita karangan S. Miko di Majalah Si Kuncung Nomor 43 Tahun 1980. Bawah pohon duku menjadi pilihan tempat menunggu teman-teman. Cerita bisa kita baca sampai habis, tapi kita tidak menemukan alasan Mantep menunggu di bawah pohon duku. Kita cuma tahu, itu siang yang terik. Dari luar “teks”, kita bisa membaca alasan Mantep.

Di lingkungan pertemanan Matep, pohon duku jelas sering menjadi lokasi janji pertemuan, bahkan telah jadi kebiasaan. Meski udara sedang mendidih, Mantep tetap menunggu di sana, bukan di teras rumah, sekolah, atau warung. Teman-temannya juga tahu meski tanpa janjian terlebih dahulu.

Menunggu di tempat lain mengakibatkan kerepotan. Bukannya bermain, nanti waktu malah menjadi saat-saat pencarian di mana Mantep berada. Di cerita, pohon duku berarti penanda kala anak-anak bermain. Pilihan penanda atau ancer-ancer berupa pohon juga hadir di Kampung Turi, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Solo.

Randu alas, rumpun bambu, ceremai, pohon jambu mete, dan pohon belimbing menjadi tanda seseorang telah sampai di Kampung Turi. Di antara banyaknya pohon itu, pohon belimbinglah yang memiliki kuantitas paling melimpah. Di Kampung Turi, setiap rumah menanam belimbing.

”Di setiap rumah mempunyai lebih dari dua pohon belimbing. Malah ada yang punya 10 pohon di rumahnya,” tulis Ningsih di esai Kampung Berubah dan Cerita Bubrah (2018). Saking banyaknya pohon belimbing, tercipta pekerjaan mebrongsong belimbing. Biasanya pelakunya ibu-ibu. Mereka memanjat pohon belimbing dengan tubuh berlilitkan kebaya dan jarik.

Selain mencipta pekerjaan, belimbing pun mencipta nama. Di antara para tukang brongsong  tadi, ada yang memiliki banyak pohon belimbing di pekarangan rumahnya. Tersebab lekatnya ia dengan belimbing, para tetangga memanggil dia Wito Belimbing.

Hubungan erat antara warga Kampung Turi dan belimbing membuat warga sepakat menandai kampung dengan gapura dan tugu belimbing. Ingat Kampung Turi ingat belimbing. Orang-orang tersesat yang hendak menuju Kampung Turi pasti diberi ancer-ancer tugu belimbing atau pohon belimbing. Pohon belimbing menjadi lakon besar bagi sejarah Kampung Turi.

Pohon selalu tumbuh selayaknya ingatan. Mungkin sebab itulah tanpa sadar orang-orang memilih pohon sebagai penanda. Ingatan tak pernah ajek. Ingatan selalu tumbuh dengan disemainya makna-makna yang dituang seseorang. Secara fisik, pohon-pohon juga tumbuh selayaknya manusia-manusia tumbuh.

Mengingat Kota Solo

Tumbuhnya pohon menjadi tanda gerak dari waktu-waktu yang tergenggam dan yang luput. Pohon juga dipilih Sutan Takdir Alisjahbana untuk mengingat kota. Di puisi bertiti mangsa 1935, pujangga kelahiran Mandailing Natal, Sumatra Utara, itu memilih pohon beringin untuk mengingat Kota Solo.

Dugaan saya—sebagai pembaca--tertuju pada pohon beringin yang menjulang di tengah alun-alun kota. Takdir mengenang: girang berbunga girang berbuah/ di dalam hujan di sinar suria. Kota Solo di kenangan Takdir berwujud pohon yang tidak hanya kukuh ditempa terik dan basah, tapi juga berbunga dan berbuah.

Mengenang Kota Solo dengan pohon beringin mengisyaratkan akan keterpukauan Takdir atas ketangguhan Kota Solo yang patut untuk berlindung dan kepengayomanan Kota Solo yang patut buat menjalani hidup. Bagi Takdir, beringin bukan penanda hantu atau hal-hal mistis. Di ingatannya, pohon beringin berarti Kota Solo.

Mengenang Kota Solo menjauhkan Takdir dari perasaan sumuk, sumpek, dan gerah. Pohon dan Kota Solo mendapat ingatan syahdu dan menenangkan: Lemah mendesir daunmu bernyanyi/ Gemulai berbuai dibelai angin. Takdir menulis puisi Pohon Beringin untuk Kota Solo sebagai kenangan dan ketenangan.

Ketika mengingat Solo, Takdir barangkali dengan tanpa sadar berpikir selayaknya orang-orang Jawa berpikir. Pohon ia tunjuk sebagai ikon dari sebuah lanskap (kota/daerah) di puisinya. Ia tidak memilih jalan, bangunan, atau profesi-profesi yang khas ditemui di Solo. Sebenarnya ketiga hal itu lebih mencolok ketimbang pohon beringin yang relatif gampang dijumpai di mana-mana.

Kepenyairan membuat Takdir peka terhadap fenoma dan laku orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga dengan cara berpikir mengarah ke pohon. Orang-orang Jawa memang memiliki sejarah panjang pergumulan dengan pohon atau tumbuhan. Orang-orang Jawa tak cuma memanfaatkan pohon demi memenuhi kebutuhan biologis mereka belaka.

Pohon juga menjadi pemenuh kebutuhan spiritualitas dan filosofis mereka. Di Jawa, unen-unen atau peribahasa banyak bersimbol tumbuhan. Pengambilan pohon atau tumbuhan sebagai nasihat kehidupan tentu tak asal comot. Pohon-pohon tidak tumbuh di sekitar orang Jawa, melainkan tumbuh bersama orang Jawa.

Tumbuh bersama berarti tidak menjadikan sekadar pelengkap pada satu waktu dan pengganggu kala lain. Intensitas kehidupan bersama pohon mewujud pada unen-unen yang hidup awet dan berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Beberapa peribahasa berkaitan tentang tumbuhan, di antaranya ”Aja kaya godhong trembesi, turu angler saben bengi,” “Kaya wit lerak, kebak uler didohi sanak”,”Klungsu-klungsu waton wudhu”, dan lain sebagainya.

Berganti Lakon

Tumbuhan tak hanya dijadikan peribahasa, tetapi juga identitas. Orang-orang Jawa mengidentifikasi diri dengan pohon. Terbukti dengan nama-nama desa di Jawa (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta) yang mengabadikan nama-nama pohon.

Iman Budhi Santosa (2017) menabulasi nama-nama pohon atau tumbuhan yang dijadikan nama desa di Jawa. Berdasarkan pelacakan Iman, ada 324 nama pohon atau tumbuhan yang dijadikan dasar nama desa. Jumlah desa/kelurahan yang memakai nama-nama tumbuhan berjumlah 3.395.

Pohon jati (Tectona grandis) paling banyak dikekalkan sebagai nama desa. Tercatat 230 nama desa menggunakan kata jati, di antaranya Sukojati, Jatisari, Jati, Jatiurip, Jatirejo, Jatisono, dan sebagainya. Kita bisa membayangkan bagaimana sejarah penamaan desa-desa tersebut. Dulu di sana pastilah tumbuh pohon jati.

Pohon jati mungkin berjumlah berjebah atau  memiliki arti penting dalam kehidupan warga dari masa ke masa. Mereka lantas menautkan diri dengan pohon jati. Pada masa itu, orang-orang yang hendak ke sana menjadikan jati sebagai patokan.

Mengko nek ana wit jati tegese wis tekan,” mungkin sekali percakapan semacam itu terjadi. Sebagaimana yang terjadi di Kampung Turi yang  punya ancer-ancer pohon belimbing, seturut penjelasan Ningsih. Sebenarnya yang diceritakan Ningsih juga terjadi pada masa silam.

Kini di kampung itu, tugu belimbing diganti gapura hitam mirip gapura yang dibangun Paku Buwono X di batas kota. Gang atau jalan yang dulu berkaitan dengan belimbing diganti dengan nama baru, seperti Jl. Parikesit yang diambil dari nama tokoh wayang yang tidak memiliki kaitan sejarah dengan kampung itu.

Beberapa warga menyanyangkan penggantian ini, tapi tidak berdaya dan hanya menerima ”keputusan dari atas” demi pengaturan administrasi. Laju waktu tidak mengizinkan pohon atau tumbuhan untuk tumbuh rimbun. Pohon seolah-olah hanyalah penanda masa lalu. Masa kini ditandai dengan tembok, rumah, pagar besi, dan jalan raya sebagaimana yang dilantangkan dengan marah oleh Wiji Thukul.

Ancer-ancer berganti. Sekarang orang-orang lebih suka menunjuk flyover atau toko swalayan sebagai penanda—untuk menyebut dua contoh. Dalam hal ini, pengelola toko swalayan juga peka dan mulai menaruh kursi dan meja di beranda. Mereka paham, selain menjadi ancer-ancer, toko swalayan juga bisa menjadi lumbung perjumpaan, seperti yang kerap dilakukan, misalnya, oleh penjual dan pembeli daring dari grup belanja di Facebook.

Perjumpaan telah berganti lakon. Pohon menjadi ancer-ancer dari masa silam. Sejarah pertemuan kini ditulis dari fly over dan swalayan. Kini kita tinggal menunggu Wito Belimbing berganti nama menjadi Wito Flyover atau Wito Swalayan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini