Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Heboh Desain Garuda Istana Negara Ibu Kota Baru, Dikritisi Arsitek Dibela Pemerintah

Belakangan publik dibuat heboh oleh desain Istana Negara di Ibu Kota Baru. Istana Negara rencananya bakal dibangun berbentuk Burung Garuda.
SHARE
Heboh Desain Garuda Istana Negara Ibu Kota Baru, Dikritisi Arsitek Dibela Pemerintah
SOLOPOS.COM - Desain Istana Negara berlambang burung Garuda di Ibu Kota Negara (IKN) karya seniman I Nyoman Nuarta (Istimewa/Twitter)

Solopos.com, JAKARTA-- Belakangan publik dibuat heboh oleh desain Istana Negara di Ibu Kota Baru. Istana Negara rencananya bakal dibangun berbentuk Burung Garuda. Hal itulah yang memunculkan perdebatan.

Lima asosiasi arsitek yang terdiri dari Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP) mengkritisi desain burung Garuda Istana Negara di Ibu Kota Baru, Kalimantan Baru. Kabarnya, desain yang teah disetujui adalah desain karya seniman asal Bali, I Nyoman Nuarta berbentuk Burung Garuda.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

"Sebagai asosiasi profesi yang memiliki kompetensi pada bidang perancangan arsitektur, perancangan bangunan ramah lingkungan [green building], perancangan kawaan dan kota, perencanaan dan perancangan lanskap, serta perencanaan kota dan wilayah, kami memandang perlu untuk memberikan pendapat profesional terhadap hasil rancangan maupun gambar yang telah dipublikasikan melalui media Instagram Bapak Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas pada tanggal 18 Maret 2021," demikian bunyi pernyataan sikap kelima asoiasi tersebut yang diterima detikcom, Kamis (1/4/2021).

Baca Juga: Dukung Ekonomi Pesantren, BI Solo Dampingi Ponpes Manfaatkan Lahan Untuk Pertanian

Kelima asosiasi itu menilai penting untuk menyampaikan pendapat yang didasarkan pada itikad baik dan juga kepentingan jangka panjang agar upaya pemerintah dalam membangun IKN dapat menjadi teladan dan contoh bagi pembangunan kota-kota baru maupun pembangunan perkotaan di Indonesia secara keseluruhan.

"Kami memandang perlu bahwa dalam setiap proses perencanaan, terutama yang bersifat publik, pelibatan masyarakat menjadi proses bagian yang tak terpisahkan untuk meningkatkan rasa kepemilikan atau 'sense of ownership' masyarakat terhadap keberadaan IKN yang baru," sambungnya.

Mengingat IKN adalah kota dunia untuk semua, kelima asosiasi arsitek itu berharap adanya media untuk dialog atau forum diskusi mengenai perencanaan dan perancangan IKN (baik di level regional, kawasan, bangunan dan ruang binaan), secara terbuka dan transparan dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, multi-disiplin terkait dan perwakilan pemangku kepentingan, termasuk perwakilan pusat dan daerah.

Baca Juga: Visual Billboard Di Soloraya Banyak Yang Raib, Pelakunya Diduga Bukan Orang Sembarangan

Sang Seniman Buka Suara

Seniman asal Bali, Nyoman Nuarta yang mendesain Istana Negara tersebut langsung buka suara soal alasannya memilih bentuk burung garuda sebagai desain Istana Negara.

Menurut Nyoman, burung Garuda adalah lambang yang paling mewakili Indonesia. Sejak diperkenalkan dan diresmikan dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Presiden Soekarno, 11 Februari 1950, Garuda Pancasila resmi menjadi lambang negara Indonesia.

Sejak itu pula burung Garuda tidak hanya dikenal sebagai burung mitologis, sebagaimana telah ditemukan dalam berbagai peninggalan arkeologis dan kitab-kitab klasik, tetapi telah menjelma menjadi pemersatu bangsa.

Menurutnya sosok Garuda yang kuat, tak kenal menyerah, disiplin, penuh dedikasi, satya wacana, serta pemelihara keseimbangan dunia, benar-benar telah menjadi inspirasi seluruh bangsa.

Baca Juga: Gencarkan Migrasi Kompor Gas Ke Kompor Induksi, PLN Gandeng 10 BUMN

Kini ketika menyebut kata Garuda, sambungnya, maka akan selalu identik dengan negara besar yang memiliki luas daratan mencapai 1.919.440 kilometer persegi serta lebih dari 17.508 pulau dengan sekitar 714 suku bangsa, yang memiliki 1.100 bahasa.

"Sekarang, kalau menyebut nama burung Garuda, maka itulah Indonesia, negeri dengan sejarah panjang, yang dikarunia keragaman etnis dan bahasa, serta hutan tropis dengan kekayaan vegetasi yang tak ternilai harganya. Itu artinya, ketika kita menyebutkan nama Garuda, maka itulah sebuah rumah besar (istana) bagi persaudaraan, persatuan, dan kerukunan hidup bersama. Apalagi kalau kita ingat semboyan yang tertulis dalam pita yang dicengkeram hari- jari kaki Garuda, Bhineka Tunggal Ika, kita berbeda tetapi tetap menjadi satu jua," ujar Nyoman dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom, Kamis (1/4/2021).

Jadi pada posisi itu Istana Negara, tambah Nyoman Nuarta, akan menjadi simbol pemersatu bangsa, yang diharapkan dapat mengatasi segala perbedaan, segala silang pandang, segala keragaman adat istiadat dan prilaku, dan bahkan perbedaan kepercayaan dan agama.

"Simbol persatuan yang dilekatkan pada Garuda, dalam Istana Negara akan benar-benar ditransformasikan dan diwujudkan dalam sebentuk pola arsitektur dengan mempertimbangkan aspek-aspek estetik, nilai guna, serta manfaat bagi kemajuan dunia pariwisata Tanah Air," katanya.

Baca Juga: PT KAI Pangkas Masa Berlaku Hasil Tes GeNose C19 Per Hari Ini

Baru Sekadar Ide

Sementara itu Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti membenarkan soal desain burung Garuda Istana Negara di ibu kota baru, Kalimantan Timur yang beredar di media sosial. Namun,desain itu baru sekadar ide dan masih membutuhkan pengayaan. "Ide desain untuk Istana. Masih perlu pengayaan desain," kata Diana saat dihubungi, Selasa (31/3/2021).

Selanjutnya, Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Gafur pun ikut buka suara soal desain burung Garuda Istana Negara yang sempat jadi bully-an netizen. Menurut Abdul, desain burung Garuda tersebut sudah sangat pas.

"Menurut saya, sangat pas. Karena tak ada lambang yang lebih sakral selain lambang Garuda. Apa pun itu. Karena ini adalah identitas bangsa kita. Bangsa yang besar dari dua sayapnya menyatukan Indonesia barat dan Indonesia timur yang berdiri gagah di tengah Indonesia," kata Abdul Gafur, Rabu (31/3/2021).

Baca Juga: Dukung Persis Solo Melantai Di Bursa Saham, Begini Komentar Direktur BEI

Abdul Gafur justru yakin, jika bangunan Garuda itu nantinya bakal ramai dijadikan tempat berswafoto atau selfie oleh masyarakat. "Lucu karena masih gambar, entar juga kalau jadi pada selfie-selfie," ujarnya

Dia mengatakan desain Garuda itu hanya perlu dipertebal seninya. Dia mengaku setuju dengan desain tersebut karena merupakan desain karya anak bangsa. "Hanya perlu seni dipertebal lagi. Seperti lambang di dadanya. Tapi pada intinya saya sangat setuju dan itu adalah karya yang sangat baik dari anak bangsa untuk bangsanya," ungkapnya.

Untuk diketahui, desain ini ramai diperbincangkan setelah video yang menunjukkan gambar desain burung Garuda ini diunggah oleh pematung Nyoman Nuarta lewat akun Instagramnya @nyoman_nuarta, Selasa (30/3/2021). Dia mengatakan desain tersebut merupakan desain terpilih untuk ibu kota negara di Kalimantan Timur.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode