Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Hari Ini, Solo Great Sale 2022 Dimulai, 23.000 Pelaku Usaha Ikuti SGS

Ditargetkan ada 23.000 pelaku usaha yang akan terlibat sebagai pengisi tenant SGS 2022.
SHARE
Hari Ini, Solo Great Sale 2022 Dimulai, 23.000 Pelaku Usaha Ikuti SGS
SOLOPOS.COM - Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka (kiri) melakukan transaksasi digital dengan aplikasi pembayaran kepada pedagang dalam kegiatan Adipati Qris rangkaian Solo Great Sale 2021 di Pasar Gede Solo, Jawa Tengah, Jumat (3/9/2021). (Antara/Maulana Surya)

Solopos.com, SOLO— Solo Great Sale (SGS) 2022 dimulai hari ini, Minggu (25/9/2022).

Ditargetkan ada 23.000 pelaku usaha yang akan terlibat sebagai pengisi tenant SGS 2022. Event tersebut juga akan menjadi ajang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat menggunakan transaksi nontunai.

PromosiTokopedia Card Jadi Kartu Kredit Terbaik Versi The Asian Banker Awards 2022

Ketua Kadin Solo, Gareng S. Haryanto, mengatakan tahun ini target transaksi SGS akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

“Target transaksi tahun ini adalah Rp2 triliun,” kata dia di hadapan wartawan, Sabtu (24/9/2022).

Diketahui pada SGS 2021, target transaksi adalah Rp800 miliar. Dia berharap SGS bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di Solo.

Baca Juga: Ikut Solo Great Sale 2022, Ada Diskon Pajak 30 Persen bagi Hotel dan Restoran

Mengenai pelaksanaannya, SGS tahun ini dimulai pada Minggu (25/9/2022). “Dimulai besok pagi dengan opening ceremony di [depan] Loji Gandrung, dan ditutup 30 Oktober 2022 di Pasar Klewer,” lanjut dia.

Dia menambahkan event SGS 2022 ini didukung penuh oleh Bank Indonesia dan difasilitasi Pemerintah Kota Solo dalam kegiatan opening dan closing ceremony.

SGS menjadi event berbelanja yang istimewa di Solo karena dalam pelaksanaannya selalu ada hadiah undian yang menarik. Di antaranya ada satu unit rumah, satu unit mobil, lima unit sepeda motor, serta berbagai perangkat eletronik.

Sementara itu Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Nugroho Joko Prastowo, menyampaikan pada pelaksanaan SGS tahun ini, BI mendukung penuh sebagaimana tahun lalu.

“Sebab kami memiliki tanggung jawab, memiliki kewajiban untuk memulihkan ekonomi Solo dan sekitarnya dari dampak pandemi. Kami mendukung kesuksesan SGS ini salah satunya dengan digitalisasi,” kata dia. Terkait hal itu pengenalan QRIS juga terus dilakukan.

Baca Juga: Solo Great Sale 2022 Digelar Lima Pekan, Target Transaksi Jadi Rp2 Triliun

Jika pada tahun-tahun sebelumnya pengenalan QRIS lebih menyasar pada tenant atau penjual, tahun ini sasarannya lebih pada konsumen.

“Sebab untuk merchant rata-rata sudah pakai [QRIS], maka sasaran kami tahun ini adalah customer agar semakin banyak pengguna. Harapannya semakin banyak digitalisasi, maka transkasi di SGS semakin lancar,” jelas dia.

Selain QRIS, tahun ini BI juga mengenalkan BI-Fast kepada masyarakat.

Dia menjelaskan gerakan digitalisasi sebenarnya sudah dimulai sebelum pandemi. QRIS juga sudah diluncurkan sejak Agustus 2019, namun menurutnya penggunanya masih sangat sedikit.

Di Soloraya, di akhir 2020 jumlah pengguna QRIS sekitar 120.000 tenant pemilik akun QRIS.

Baca Juga: Solo Great Sale 2022 Bidik Transaksi Rp1,3 Triliun, Peritel Didorong Pakai QRIS

“Sebelumnya sekitar 40.000 kemudian naik menjadi sekitar 120.000 [tenant]. Kemudian di 2021 dengan SGS juga dan kegiatan [festival] Adipati [Akselerasi Digitalisasi Pembayaran Terkini], langsung meningkat menjadi 280.000-an dan untuk sampai saat ini mencapai 360.000-an tenant yang menggunakan QRIS. Jadi sudah ada akselerasi signifikan dalam dua tahun terakhir,” jelas dia.

Melalui berbagai kampanye dan kegiatan seperti SGS ini, diharapkan masyarakat akan semakin terbiasa menggunakan layanan transaksi nontunai.

Terkait data pengguna QRIS secara perorangan saat ini baru dapat dirinci di tingkat provinsi. “Di Jawa Tengah, pada akhir 2021 jumlah pengguna, jadi nomor HP yang didaftar untuk penggunaan QRIS, dari 750,000-an sekarang menjadi 2,06 juta akun. Dari jumlah itu memang tulang punggungnya itu dari Semarang dan Soloraya,” kata dia.

Menurut dia, kunci utama dalam upaya penggunaan transaksi digital adalah pembiasaan. Melalui digitalisasi, dinilai dapat memperlancar transaksi ekonomi.

“Namun tetap, kalau mau menggunakan tunai, juga tetap sah. Sebab itu menjadi alat pembayaran kita yang sah di Indonesia,” tegas dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode