Hari Ini, BOR di Sragen Turun tapi Kasus Kematian 25 Orang /Hari

Yuni Sukowati mengatakan tingginya kasus kematian pada Sabtu karena mungkin yang meninggal di rumah sakit tidak langsung dilaporkan lewat aplikasi SISRS.
Hari Ini, BOR di Sragen Turun tapi Kasus Kematian 25 Orang /Hari
SOLOPOS.COM - Sejumlah sukarelawan pemakaman jenazah Covid-19 memakamkan jenazah Covid-19 di wilayah Kabupaten Sragen, Minggu (27/6/2021). (Istimewa/SAR Poldes Sragen)

Solopos.com, SRAGEN—Angka kematian pasien Covid-19 di Kabupaten Sragen dalam sehari mencapai 25 orang, Sabtu (14/8/2021). Angka kematian tersebut mendongkrak persentase angka kematian dalam situasi Covid-19 di Kabupaten Sragen yang mencapai 5,22%.

Padahal bed occupancy ratio (BOR) di Sragen terhitung cukup rendah. BOR untuk ruang intensive care unit (ICU) hanya terisi 16 orang atau 64% dari total tempat tidur ruang ICU Covid-19 sebanyak 25 tempat tidur. Demikian pula BOR untuk ruang isolasi Covid-19 juga terisi 177 orang atau 50,43% dari total tempat tidur ruang isolasi Covid-19 sebanyak 351 tempat tidur.

Data-data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Hargiyanto, kepada Solopos.com, Sabtu malam. Hargiyanto menyampaikan tingginya angka kematian pasien Covid-19 itu disebabkan laporan kematian dari rumah sakit tidak real time sehingga terjadi penumpukan data kasus kematian.

Baca Juga: Produksi Telur Asin, Perempuan di Karanganyar Ini Raup Jutaan Rupiah

“Untuk kasus baru sebanyak 48 orang pada Sabtu ini. Kasus baru itu terdiri atas 19 orang simptomatik dan 29 orang asimptomatik. Kasus pasien sembuh cukup banyak mencapai 144 orang. Angka kasus sembuh tersebut mendongkrak persentase angka kesembuhan di Sragen mencapai 90,19%. Tetapi untuk kasus kematian tinggi mencapai 25 orang sehingga angkanya naik jadi 5,22%,” ujarnya.

Kasus baru sehari sebelumnya, Jumat (13/8/2021), sebanyak 53 orang dan kasus sembuh mencapai 174 orang dan meninggal dunia sebanyak enam orang. Angka kesembuhan baru 89,54% dan angka kematian 5%.

 

Laporan Ditunda

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengatakan tingginya kasus kematian pada Sabtu itu karena mungkin yang meninggal di rumah sakit harusnya langsung dilaporkan lewat aplikasi SISRS tetapi kelihatannya ditunda. Dia mengatakan laporan kasus kematian itu kemudian dilaporkan secara bareng-bareng pada pekan ini.

Baca Juga: Bupati Sragen Sidak, RSUD Tangen Ditarget Rampung Desember 2021

“Kebetulan pada pekan ini dari provinsi juga meminta laporan yang segera diperbarui. Selain itu, tingginya kasus kematian itu disebabkan adanya kematian yang secara domisili tidak di Sragen tetapi nomor induk kependudukan (NIK)-nya di Sragen. Jadi orang Sragen yang meninggal di luar Sragen masuk dalam data kematian Sragen. Penyebab terakhir karena masih ada warga yang isolasi mandiri di rumah kemudian memburuk dan terlambat dirujuk ke rumah sakit,” jelasnya.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago