Harga Kedelai Stabil Tinggi, Perajin Tempe Wonogiri Terpaksa Perkecil Ukuran

Harga kedelai di Wonogiri stabil tinggi, sejak munclnya pandemi Covid-19 hingga sekarang.
SHARE
Harga Kedelai Stabil Tinggi, Perajin Tempe Wonogiri Terpaksa Perkecil Ukuran
SOLOPOS.COM - Perajin dan penjual tempe di Pasar Wonogiri, Sri Sunarsih, tersenyum sembari menunggu tempenya dibeli pembeli, Jumat (30/9/2022). (Solopos.com/Luthfi Shobri M.)

Solopos.com, WONOGIRI — Harga kedelai di Wonogiri stabil tinggi, sejak munculnya pandemi Covid-19 hingga sekarang. Hal itu mengakibatkan perajin produk olahan kedelai, seperti penjual tempe terpaksa mengecilkan ukuran produk yang dijual.

Salah seorang perajin tempe di Los Lantai I Pasar Wonogiri, Slamet, mengatakan harga kedelai hanya berkisar Rp7.000/kg saat sebelum pandemi Covid-19. Begitu muncul pandemi Covid-19, harga kedelai secara berangsur-angsur naik dari Rp8.000/kg, Rp9.000/kg, hingga kini menjadi Rp13.000/kg.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Harga Rp13.000/kg sudah berjalan selama satu pekan terakhir. Sebulan sebelumnya, harga kedelai masih senilai Rp12.500/kg.

Di awal pandemi Covid-19, ia mengaku tak menaikkan harga jual tempe dan mempertahankan ukurannya, salah satunya 8 cm x 24 cm. Harga tempe dengan ukuran itu senilai Rp6.000.

“Pas harga kedelai naik jadi Rp8.000/kg hingga Rp9.000/kg, ukuran dan harga jual tempe tetap saya pertahankan. Sewaktu harga kedelai menjadi Rp10.000 ke atas, ukuran tempenya saya kurangin. Sedikit saja, sekitar 1/2 cm,” katanya.

Slamet mengambil pilihan itu lantaran tak berani menaikkan harga jual. Ia takut, jika tempe seharga Rp6.000/lonjor itu dinaikkan, pelanggannya tak ingin membeli.

Baca Juga: Sedapnya Besengek Manyaran Wonogiri, Dibikin 3 Hari dan Dibungkus Daun Jati

Perajin tempe di Pasar Wonogiri lainnya, Sri Sunarsih, melakukan hal serupa. Ia ogah menaikkan harga jual, melainkan lebih memilih mengecilkan ukuran tempe yang dijual.

Di tengah kenaikan harga kedelai, Sri mengaku bakal tetap bertahan memproduksi dan menjual tempe.

“Saya hanya tahunya beli kedelai lalu membuat tempe detiap hari. Kalau harga naik, ukurannya saya kecilin. Yang penting pinter-pinternya saja dalam berjualan, biar tetap dapat untung,” tutur Sri, Jumat.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode