Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Harga Gabah di Sragen Tembus Rp6.000/Kg, Tertinggi Sepanjang Sejarah Pertanian

Harga gabah kering panen (GKP) di hamparan sawah Mbah Ageng Plumbungan, Karangmalang, Sragen, tembus Rp6.000 per kg, Rabu (25/1/2023).
SHARE
Harga Gabah di Sragen Tembus Rp6.000/Kg, Tertinggi Sepanjang Sejarah Pertanian
SOLOPOS.COM - Sesepuh petani di Poktan Ngudi Luhur Plumbungan, Karangmalang, Sragen, Darso Parno, 68, (kiri) memetik 15 batang padi dan mengikatnya sebagai padi pengantin dalam tradisi methil di hamparan sawah setempat, Rabu (25/1/2023). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Harga gabah kering panen (GKP) di hamparan sawah Mbah Ageng Plumbungan, Karangmalang, Sragen, tembus Rp6.000 per kg, Rabu (25/1/2023). Harga gabah tersebut tertinggi sepanjang sejarah pertanian di Kabupaten Sragen.

Harga GKP itu didapat petani karena panen paling awal di Kabupaten Sragen. Para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Ngudi Luhur Plumbungan mensyukuri tanaman padi mereka yang laku dengan harga Rp6.000 per kg dengan cara melestarikan tradisi methil yang digelar, Rabu pagi.

PromosiPromo Menarik, Nginep di Loa Living Solo Baru Bisa Nonton Netflix Sepuasmu!

Harga satu patok di hamparan itu rata-rata sampai Rp13 juta per patok, bahkan ada yang laku sampai Rp14 juta per patok. Para pertani kompak memiliki program tanam cepat dan serentak sehingga bisa panen perdana.

Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak

Tradisi methil dimulai pukul 06.30 WIB. Tradisi tersebut dipimpin sesepuh petani, Mbah Darso Suparno, 68.

Tradisi itu dilakukan dengan memetik 15 batang padi yang dibagi menjadi dua dan diikat. Padi itu menjadi wujud padi pengantin, yakni pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.

Batang padi bekas potongan diberi parutan kunyit dan sepasang padi pengantin diberi wewangian berupa kelopak bunga mawar. Sepasang padi pengantin kemudian diarak menuju ke lokasi kenduri di tengah jalan usaha tani.

Padi penganten itu dijadikan satu dengan nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya kemudian didoakan bersama. Dalam rangkaian syukuran tersebut, petani mengundang mubalig untuk pengajian. Camat Karangmalang dan Lurah Plumbungan turut hadir dalam acara itu.

Mbah Darso Parno saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu pagi, mengungkapkan tradisi methil itu sebagai wujud syukur dan sedekah dalam mengawali panen perdana.

Dengan melestarikan tradisi methil ini, kata dia, sebagai tolak bala sehingga serangan hama berkurang banyak, serangan tikus juga tidak ada. Di sisi lain, katanya, produktivitas padi juga terus meningkat.

“Saya punya dua patok. Pada musim panen ini bisa laku Rp12,5 juta per patok. Hasilnya per patok bisa sampai 3 ton. Bahkan ada yang satu patok laku Rp14 juta,” ujarnya.

Ketua Poktan Ngudi Luhur Plumbungan, Karangmalamg, Sragen, Suharno, 56, mengatakan harga GKP sekarang Rp6.000 per kg. Dia mengatakan harga tersebut merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah pertanian di Sragen.

Produksi padi di wilayah Poktan Ngudi Luhur Plumbungan cukup tinggi bisa mencapai 10 ton per hektare. Luas lahannya, sebut dia, ada 99 hektare yang dimiliki sebanyak 80 orang pertani.

Dia mengatakan petani beruntung mendapat harga tinggi karena adanya program tanam cepat dan serentak sehingga panennya pun serentak. Dia mengatakan harga per patok bisa sampai Rp13 juta-Rp14 juta per patok.

“Sejak kami melakukan tradisi methil itu manfaat ke petani bagus. Hama tidak banyak dan produksi padi meningkat. Ketika ramai ada penyakit kerdil, di poktan kami juga ada tapi hanya dua patok. Hama hanya menyerang pada bibit yang ditanam di sawah. Sebagian besar petani menyemai bibit di kebun rumah bukan di sawah,” jelasnya yang diamini petani lainnya, Joko Sihwoyo, 53.

Suharno mengatakan meskipun penyemaian di kebun tapi tanamnya tidak menggunakan transplanter tetapi masih tanam manual dengan tenaga manusia karena lebih baik. Dengan tanam manual, kata dia, hasil panennya lebih baik.

Camat Karangmalang, Sragen, Ariska Taminawati, mengapresiasi para petani yang tergabung dalam Poktan Ngudi Luhur Sragen yang terus melestarikan tradisi methil. Dia mengatakan tradisi methil ini merupakan wujud sedekah para petani sebelum panen dengan harapan hasil panennya bisa melimpah.

“Saya lihat kondisi padinya bagus-bagus. Kelihatannya para petani sudah baik teknik pengolahan lahannya. Sukses untuk petani,” katanya.



Info Digital Tekno
Indeks
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Info Perbankan
Indeks
Interaktif Solopos
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Emagz Solopos
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Interaktif Solopos
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Solopos Stories
      Part of Solopos.com
      ISSN BRIN
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode