Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Harga Bahan Pangan Meroket, Pedagang dan Konsumen di Wonogiri Mengeluh

kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai dirasakan sejak selepas Idulfitri. Kenaikan harga berbagai komoditas itu tidak kunjung turun hingga Iduladha
SHARE
Harga Bahan Pangan Meroket, Pedagang dan Konsumen di Wonogiri Mengeluh
SOLOPOS.COM - Pedagang bahan pangan di Pasar Wonogiri, Iyem, sedang melayani pembeli cabai, Rabu (13/7/2022). Harga berbagai komoditas pangan terus naik selepas idulfitri di Wonogiri. (Solopos.com/Muhammad Diky Praditia)

Solopos.com, WONOGIRI – Pedagang dan konsumen di Pasar Wonogiri mengeluhkan harga berbagai bahan pangan, seperti cabai dan bawang merah, yang terus naik. Akibatnya, daya beli pedagang maupun konsumen menurun.

Pantauan solopos.com di Pasar Wonogiri, harga sejumlah bahan pangan naik sejak sebulan terakhir. Para pedagang berasumsi kenaikan harga komoditas-komoditas disebabkan banyak petani gagal panen karena cuaca yang tidak menentu.

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

Pedagang berbagai bahan pangan di Pasar Wonogiri, Iyem,38, mengungkapkan kenaikan harga sejumlah bahan pangan mulai dirasakan sejak selepas Idulfitri. Kenaikan harga berbagai komoditas itu tidak kunjung turun hingga iduladha. Hal itu menjadi sesuatu yang baru.

“Baru kali kali ini harga-harga naik setelah Lebaran tapi enggak turun-turun lagi sampai habis iduladha ini. Kalau tahun-tahun sebelumnya, harga naik setelah Lebaran, tapi tidak berselang lama harganya turun lagi,” kata Iyem saat ditemui Solopos.com di los pedagang lantai I. Rabu (13/7/2022).

Dia mencontohkan, harga bawang merah saat ini menyentuh Rp70.000/kg. Harga tersebut menurutnya hal baru, sekaligus tidak wajar. Sebab biasanya, harga maksimal bawah merah Rp30.000/kg. Hal itu menyebabkan dia hanya mengambil 10 kg bawang merah dari supplier. Padahal ketika harga normal, dia biasa menyediakan bawah merah 30 kg.

Harga cabai rawit merah pun tidak kunjung normal, yaitu masih Rp95.000/kg. Harga cabai rawit merah sempat turun pada Jumat (8/7/2022), namun tidak berselang lama harga naik kembali sampai sekarang ini.

Telur ayam juga tidak luput dari kenaikan harga. Sejak idulfitri harga telur ayam mencapai Rp28.000/kg, sementara harga normalnya Rp25.000. “Pokoknya hampir semua bahan-bahan pangan naik, yang stabil dan enggak naik itu beras,” kata dia.

Hal senada disampaikan pedagang bahan pangan, Karsi,47, di los pedagang lantai I. Kenaikan harga berpengaruh buruk terhadap pedagang. Daya beli masyarakat pun menurun. Akibatnya, angka penjualan sejumlah bahan pangan seperti cabai dan bawang merah turut menurun.

“Karena harganya naik, konsumen jadi beli sedikit. Biasanya bisa beli bawang merah setengah kilo, sekarang hanya beli satu ons. Begitu juga dengan cabai, apalagi untuk cabai rawit merah.” Ujar Karsi.

Sementara itu, pedagang nasi jagung dan nasi tiwul di Pasar Wonogiri, Tami,56, mengaku harus mengurangi porsi nasi yang ia jual. Hal itu ia lakukan agar tetap mendapat untung. Sebab harga bahan-bahan untuk lauk pauk terus naik. Sementara harga nasi yang ia tidak dinaikkan.

“Umpama biasanya satu porsi itu satu centong nasi, sekarang jadi setengah centong. Jadi bukan harga nasi yang dinaikkan, tapi porsinya yang dikurangi. Biar tetap untung,” jelas dia.

Pedagang makanan di perempatan Gudang Seng, Kelurahan Giritirto, Win, 45, menyiasati kenaikan harga berbagai bahan pangan dengan mengganti dengan bahan pangan lain yang kenaikannya tidak terlalu tinggi.

Contohnya, untuk membuat sambal, dia menggunakan tomat dan sedikit cabai. Meski rasanya kurang pedas, hal itu tidak menjadi masalah selama masih ada sambal untuk tambahan lauk.

“Buat sayur juga gitu, aku enggak pakai cabai rawit merah, tapi cabai hijau yang lebih murah. Lha gimana, sekarang harga-harga naiknya edan-edanan. Kalau enggak pintar-pintar menyiasati, untungnya terlalu sedikit,” turur Win.

Dia menambahkan, harga tempe dan tahu pun turut naik. Akibatnya, ia memilih membuat gorengan bakwan untuk dijual. “Tapi ternyata harga kubis juga naik. Kubis sekarang harganya Rp15.000, padahal biasanya cuma Rp8.000. Harga tepung juga naik Rp2.000 menjadi Rp12.000,” imbuh dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode