Hanung Bramantyo Ungkap Biaya Produksi Satria Dewa: Gatotkaca

Memakai teknologi canggih, tak heran muncul dugaan film ini memakan biaya produksi hingga Rp80 miliar, benarkah?
SHARE
Hanung Bramantyo Ungkap Biaya Produksi Satria Dewa: Gatotkaca
SOLOPOS.COM - Sutradara Hanung Bramantyo. (JIBI/Bisnis Indonesia)

Solopos.com, SOLO-Sutradara Hanung Bramantyo memberi bocoran biaya produksi film Satria Dewa: Gatotkaca.  Hal ini lantaran membuat film superhero memang membutuhkan biaya yang cukup besar.

Terlebih jika film itu menggunakan teknologi computer generated imagery (CGI) dan visual effect yang dikerjakan dengan sangat detail. Tak heran muncul dugaan film ini memakan biaya hingga Rp80 miliar, benarkah?

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Menurut Hanung Bramantyo film ini memakan biaya produksi Rp20 miliar-Rp24 miliar. Menurutnya, masih murah dibandingkan dengan film pahlawan super lain.

Budget-nya sekitar Rp20 miliar sampai Rp24 miliar. Jadi kalau ada orang bilang ini budget-nya Rp80 miliar itu enggak benar. Enggak ada separo-separonya budget film superhero yang ada, bahkan yang ada di Indonesia,” ujar Hanung dalam peluncuran trailer Satria Dewa: Gatotkaca di Depok, seperti dikutip dari Antara pada Jumat (13/5/202).

Baca Juga:  Positif Covid-19, Hanung Bramantyo Awalnya Tunjukkan Gejala Ini

Hanung mengatakan dalam membuat film pahlawan super tidaklah mudah, dibutuhkan support system yang cukup kuat, di antaranya CGI dan efek 3D.  Kekuatan CGI dan efek 3D bertujuan untuk membangun imajinasi penonton akan pertempuran epik seperti yang sering digambarkan oleh Disney dan Marvel Studio.

Menurut Hanung, jika kedua hal tersebut tidak kuat dan intens, maka penonton film pahlawan super akan kecewa dan lebih memilih menyaksikan film dari luar negeri.  “Makanya saya bekerja sama dengan Lumine Studio, dengan Mas Andi sebagai komandonya di situ, itu betul-betul pada saat kita men-development ini, saya sudah membayangkan bahwa saya pengin ini kejadian seperti ini, kekuatan supernya bisa terwujud seperti ini,” katanya.

Ekspedisi Energi 2022

“Jadi, Mas Andi betul-betul memberikan support itu. Kalau enggak ada itu, kita bubarlah. Enggak bisa mewujudkan gagasan kita. Dan anak-anak sekarang enggak akan mungkin bisa kerangkul itu semua,” lanjut Hanung.

Baca Juga: Menyusul Rio Febrian, Hanung Bramantyo dan Zaskia Pindah ke Jogja, Apa Menariknya Kota Ini?

Hanung juga mengatakan bahwa Gatotkaca yang ditampilkan dalam filmnya merupakan perwujudan yang lebih modern dari cerita klasiknya. Namun ia tetap menampilkan ciri khas dari Gatotkaca seperti kumis dan baju zirahnya.

“Kita buat modern, dulu orang gagah itu selalu berkumis, makanya jadi simbol maskulinitas, sekarang makin klimis makin maco tapi kumis itu tidak kita hilangkan, kumisnya kita buat seolah-olah itu aksen,” jelas Hanung.

Baca Juga: Film Sultan Agung Karya Hanung Bramantyo Diganjar Penghargaan di Rusia

Selain kumis, Hanung juga mempertahankan kutang Antakusuma atau pakaian yang membuat Gatotkaca bisa terbang meski tanpa sayap. Selain itu, ada juga bintang yang terdapat di dada Gatotkaca.

“Memang kita modif bintang itu yang keren buat anak-anak sekarang,” ujar Hanung.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago