[ X ] CLOSE

Gobyos! Cuaca Panas Ekstrem Melanda Jateng & Jogja

Cuaca panas ekstrem melanda wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya di kawasan pesisir.
Gobyos! Cuaca Panas Ekstrem Melanda Jateng & Jogja
SOLOPOS.COM - Kebakaran Hutan Amazon. (Reuters)

Solopos.com, PEKALONGAN — Cuaca panas ekstrem dirasakan di sejumlah daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Pekalongan Raya, Jawa Tengah, suhu panas harian bisa mencapai hampir 40 derajat celcius pada siang hari.

Mengingat kondisi cuaca yang terjadi di Pekalongan Raya, dilansir dari laman Instagram @pekalonganpost, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan pada hari Rabu, (13/10/2021) mengimbau sejumlah petani di Kelurahan Kalibaros, Kecamatan Pekalongan Timur, yang rutin membakar sampah atau jerami untuk dijaga supaya tidak membuat kebakaran lahan yang lebih luas dan merugikan banyak warga.

Dikutip dari Liputan6.com, Rabu (13/10/2021), cuaca panas yang ekstrem bisa menjadi penyebab kebakaran lahan atau hutan. Selain itu, cuaca panas dengan diikuti oleh hembusan angin juga menjadi pemicu kebakaran lahan yang lebih luas karena percikan-percikan api yang terbang tersebut dapat memicu kebakaran lahan dan sengatan panas bagi manusia.

Oleh karena itu, petani atau warga yang memiliki rutinitas membakar jerami atau sampah di lahan atau hutan harus memperhatikan hal ini agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Suhu di Jateng Naik

Sementara itu, dihimpun dari berbagai sumber, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, mengatakan kenaikan suhu rata-rata di Jawa Tengah dan Yogyakarta memang mengalami tren kenaikan selama 30 tahun terakhir. Namun Dwikorta mengatakan bahwa kenaikan suhu ini tidak merata di semua wilayah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, tetapi hanya di wilayah kota/kabupaten yang berada dekat dengan pesisir pulau Jawa.

Baca Juga: Ekspor Sayur & Umbi-Umbian di Jateng Tertinggi Se-Indonesia

Dwikorta menambahkan bahwa kondisi udara panas ini terjadi karena peningkatan emisi gas rumah kaca yang diakibatkan tingginya laju perubahan pengguna jalan. Mengacu pada Perjanjian Paris, seluruh negara harus membuat kebijakan dan aksi iklim untuk mencegah suhu bumi tidak melewati ambang batas dua derajat celcius dan berupaya tidak melewati ambang batas 1,5 derajat celcius dibandingkan masa pra-industri.

Suhu Udara di Merapi Naik O,3 Derajat Celcius Selama 30 Tahun Terakhir

Dwikorta menjelaskan bahwa kawasan Gunung Merapi mengalami kenaikan udara sebesar 0,7 derajat celcius dalam 30 tahun terakhir. Selain di kawasan Gunung Merapi, trend suhu di perkotaan dipantau dari stasiun menunjukan tren kenaikan temperatur khusus kota Yogyaakrta dari tahun 2007.

Baca Juga:IKEA Pick-Up Point Hadir di Citra Grand Semarang

Analisa suhu udara di Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut diambil dari hasil pengumpulan data rata-rata udara selama 30 tahun sejak 1990 dan saat ini BMKG tengah mengupayakan pengumpulan data lebih jauh ke belakang, yaitu kurun waktu 50 tahun guna melihat signifikansi perubahannya.

Secara ekologis, kawasan lindung Gunung Merapi merupakan kawasan yang mempengaruhikondisi kualitas lingkungan secara luas di wilayah Jawa Tnegah dan Yogyakarta. Artinya, kawasan lindung Gunung Merapi berperan besar dalam menjaga keseimbangan lingungan wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Dengan diketahuinya indikator perubahan suhu ini, sudah seharusnya pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat melakukan upaya-upaya mitigasi sebagai bentuk tanggungjawab serta kepedulian terhadap kualitas lingkungan.

Baca juga: Dulu Cebong vs Kampret, Kini Banteng vs Celeng, Ribut Apa Sih?

Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Yogyakarta akan melakukan komunikasi terkait situasi dan kondisi terbaru di kawasan Gunung Merapi. hasil dari komunikasi ini tentunya menjadi dukungan membangun kesepakatan antara Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Sementara itu, dilansir Detik.com, pada 2015 lalu terjadi kebakaran lahan hutan di Gunung Unggaran yang menyebabkan 14 hektar (Ha) lahan hangus.

Tim pemantau Gunung Ungaran, Arun mengatakan setidaknya dalam bulan Agustus 2015 saat itu sudah tiga kali terjadi kebakaran ilalang yang ada di bawah puncak gunung. Penyebab kebakaran hutan ini dikarenakan cuaca panas ekstrem yang melanda saat itu namun berdasarkan tim SAR yang memantau langsung mengatakan bahwa kebakaran lahan ini berhasil ditanggulangi dan tidak menyebabkan korban jiwa atau kerusakan fasilitas.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago