Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca
 Keluarga Van Holtke dalam mobil di Delanggoe dekat Surakarta circa 1907. (KITLV)
Espos Plus Soloraya

Gerakan Ilmu Kebal Srikaton, Konflik Pribumi dan Eropa Akhir Abad 19

Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ribuan warga kulit putih Eropa tinggal di Vorstenlanden Surakarta atau Soloraya, yang memunculkan konflik antaretnis antara penduduk Eropa dan Pribumi, salah satunya Gerakan Ilmu Kebal Srikaton.

Solopos.com, SOLO — Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ribuan warga kulit putih Eropa tinggal di Vorstenlanden Surakarta, yang memunculkan konflik antaretnis antara penduduk Eropa dan Pribumi, salah satunya Gerakan Ilmu Kebal Srikaton. Data dari Regeering Almanak voor Nederlandsch-Indie, 1921, hingga 1921 warga Eropa paling banyak yang tinggal di Solo dengan jumlah 2.000 jiwa, disusul Klaten 1.145 jiwa, Boyolali 408 jiwa, dan Sragen 366 jiwa. 

Tuan dan nyonya kulit putih itu berkeluarga dan tinggal di antara etnis Jawa dan lainnya, namun tetap mempertahankan cara hidup lama, sehingga membuat mereka lebih sensitif. Mereka mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan gaya hidup Indis di lingkungan yang baru.

Berita Terpopular
Indeks Berita
Part of Solopos.com
Punya akun? Silahkan login
Daftar sekarang...
Support - FaQ
Privacy Policy
Tentang Kami
Kontak Kami
Night Mode