Generasi Pembangun Jembatan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 23 Juni 2021. Esai ini karya Tri Winarno, guru Bahasan dan Sastra Indonesia di SMKN 2 Klaten.
Generasi Pembangun Jembatan

Solopos.com, SOLO -- Pada bulan Mei 2021 lalu saya sungguh beruntung. Ada dua kegiatan yang sangat menarik dan berharga yang saya ikuti. Pertama adalah kegiatan Workshop Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme yang diinisiasi oleh Solopos Institute dan kedua adalah kegiatan Bimbingan Teknis Program Sekolah Penggerak yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.

Kegiatan pertama berlangsung selama tiga hari, sedangkan kegiatan kedua berlangsung selama 10 hari. Meskipun pengusung kedua kegiatan itu berasal dari institusi yang berbeda, ada seutas benang merah yang sama pada materi, cita-cita, serta tujuan kedua kegiatan itu. Benang merah kedua kegiatan itu adalah pada pembahasan mengenai kesadaran berkebinekaan, berkeberagaman.

Pada era media sosial seperti saat ini kebinekaan dan keberagaman menghadapi cobaan yang cukup berat. Lihat saja di lini masa media sosial, perseteruan dalam bentuk polarisasi terasa begitu kental. Polarisasi yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna pembagian atas dua bagian (kelompok orang yang berkepentingan dan sebagainya) yang berlawanan terlihat semakin meruncing dan liar.

Polarisasi inilah yang akhirnya membentuk pelabelan dan stereotip.  Dunia maya yang begitu luas seakan-akan menjadi sempit yang hanya berisi dua kelompok yang berseteru. Pengelompokan dengan sebutan ”kadrun”, ”taliban”, ”kampret”, dihadap-hadapkan dan dibentur-benturkan dengan “”uzzer”, ”bipang”, maupun ”cebong”. Hal ini tentu saja bukan merupakan fenomena yang menyehatkan untuk kebinekaan dan keberagaman bangsa ini.

Pemberian label dan stereotip terjadi sebenarnya karena perilaku seseorang maupun kelompok yang tidak mau atau enggan memahami seseorang atau kelompok lain. Akhirnya mereka mengambil jalan pintas dengan memberikan pelabelan dan stereotip. Cara berpikir yang dikembangkan oleh kelompok yang berseberangan itu hanyalah berdasarkan prasangka pribadi.

Saling mencurigai dan adu argumentasi di ranah publik melalui media sosial tak terhindarkan. Kekerasan verbal merajalela di dunia maya. Mencabik-cabik nilai kemanusiaan yang seharusnya saling mengasihi, menyayangi, dalam kedamaian sebagai satu entitas: manusia. Pengelompokan, polarisasi yang dihadap-hadapkan, dan dibentur-benturkan mengingatkan saya pada catatan sejarah tentang siasat Belanda pada masa menjajah bangsa ini.

Sungguh menyedihkan kala usia kemerdekaan bangsa Indonesia hampir 76 tahun perilaku sebagian masyarakat kita justru meniru kaum penjajah Belanda, suka mengadu domba. Tidak hanya pertentangan dan pertengkaran secara verbal yang terjadi di media sosial. Konten-konten yang mengandung kebohongan dibuat untuk menyudutkan pihak yang berseberangan.

Saling serang secara verbal disertai konten-konten yang menyesatkan akhirnya menjadikan jurang perbedaan itu semakin menganga. Bila hal ini dibiarkan dan dipelihara, hal yang menakutkan dan berbahaya dapat mengancam eksistensi bangsa dan negara, yaitu terjadinya perpecahan serta hilangnya persatuan. Esensi Sumpah Pemuda pada 1928 sebagai pemersatu bangsa berada dalam ancaman.

Gejala adanya pengelompokan, polarisasi, pelabelan, maupun sereotip ini tentu saja membuat berbagai kalangan prihatin, tak terkecuali pemerintah. Melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, pemerintah mencoba menangkal dan mengikis gejala-gejala tersebut melalui program profil pelajar Pancasila.

Profil pelajar Pancasila merupakan profil manusia Indonesia yang nantinya diharapkan mampu mempunyai enam dimensi karakter unggul, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, kreatif, bernalar kritis, dan mandiri.

Generasi Berdaya Guna

Enam dimensi ini mesti ada dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah. Untuk itu setiap guru sebagai fasilitator dalam pendidikan mesti mengaitkan materi pembelajaran dengan enam dimensi tersebut. Dalam pandangan saya sebagai seorang guru, bernalar kritis dan berkebinekaan global dapat menjadi pintu masuk untuk menangkal dan mengikis gejala dehumanisasi maupun demoralisasi akibat adanya polarisasi, pelabelan, maupun stereotip yang terjadi di media sosial.

Profil pelajar Pancasila yang saya dapatkan saat Bimbingan Teknis Program Sekolah Penggerak ternyata sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Solopos Institute melalui program Literasi Keberagaman Melalui Jurnalisme. Modul literasi keberagaman dengan detail mengulas tentang hal-hal yang berkenaan dengan keberagaman disertai data-data dan fakta.

Data dan fakta inilah yang dalam dimensi profil pelajar Pancasila masuk dalam cakupan bernalar kritis. Melalui pengecekan data dan fakta inilah diharapkan nantinya manusia Indonesia, dalam hal ini kaum pelajar, mampu memproses informasi dengan cara menganalisis dan mengevaluasi terlebih dahulu sebelum dijadikan sesuatu yang diyakini dan dipedomani.

Hal itu perlu dilakukan agar generasi pelajar menjadi terpelajar dan tidak mudah ikut-ikutan menyebarkan konten-konten tidak jelas atau kebohongan. Bila kaum pelajar sebagai generasi muda mulai tercerahkan, mampu berpikir kritis, maka dapatlah diharapkan pada kemudian hari merekalah yang akan menjadi kaum penengah.

Sebuah generasi yang berdaya guna dan mampu membangun jembatan untuk menyatukan perbedaan, serta menghapus stereotip, pelabelan, maupun polarisasi yang saat ini terjadi. Generasi yang kelak menjadikan bangsa ini sebagaimana bangsa yang dicita-citakan para founding fathers. Generasi yang mencintai keberagaman bangsanya. Generasi yang mampu menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja. Semoga.

 

 

 

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago