Gedung SMPN 5 Blora Berawal dari Institoet Boedi Oetomo
Solopos.com|jateng

Gedung SMPN 5 Blora Berawal dari Institoet Boedi Oetomo

Di era kolonial Belanda di Kabupaten Blora, pernah berdiri beberapa Lembaga pendidikan di luar kepemilikan pemerintah kolonial Belanda, salah satunya adalah Institut Boedi Oetomo (IBO).

Solopos.com, BLORA -- Di era  kolonial Belanda zaman dulu, tepatnya di Kabupaten Blora, pernah berdiri beberapa Lembaga pendidikan di luar kepemilikan pemerintah kolonial Belanda, salah satunya adalah Institoet Boedi Oetomo (IBO). Gedung itu sekarang dialihfungsikan sebagai SMP Negeri 5 Blora.

Lembaga ini dulunya didirikan langsung oleh dr. Soetomo. Kemudian dilanjutkan oleh Mastoer, ayah dari penulis Pramoedya Ananta Toer dan Soesilo Toer, pada tahun 1922. Dilansir dari situs Detik.com, Soesilo  Toer menjelaskan bahwa di era kolonial saat itu, IBO termasuk sekolah yang sudah maju dan modern. Sekolah ini setingkat dengan Sekolah Dasar (SD) dan terdapat sekitar 7 kelas.

Akrab disapa Soes, dia menjelaskan bahwa IBO didirikan langsung oleh dr. Soetomo pada tahun  1917. Dr. Soetomo sendiri pernah tinggal di Blora selama satu tahun dan kemudian pindah ke Batu Raja hingga akhirnya mengambil studi spesialisasi di Belanda dan Jerman.

Baca Juga : Rumah Sakit di Blora Dilarang Tolak Pasien Covid-19

Saat ditinggalkan oleh dr. Soetomo pada tahun 1918, sekolah itu tidak terkelola dengan baik. Akhirnya oleh Bupati Blora saat itu, Tirtonegoro, berinisiatif untuk mencari seseorang yang menggantikan dr. Soetomo untuk mengelola sekolah itu.

Proses pencarian dilakukan lewat  koran D’Lokomotif di Semarang dan secara gethok tular atau dari mulut ke mulut. Akhirnya berita itu terdengar oleh seorang anak penghulu dari Kediri yang menikahi anak penghulu dari Rembang bernama Mastoer, yang adalah bapak dari Soesilo dan Pramoedya.

Soesilo Toer
Soesilo Toer, Penulis (Detik.com)

Kala itu, Mastoer merupakan seorang guru Hollandsch-Inlandsche School (HIS) atau Sekolah Belanda untuk kaum pribumi di Rembang. Berbekal lowongan pekerjaan itu, Mastoer akhirnya memutuskan pindah ke Blora pada tahun 1922.

Sekolah itu pada mulanya hanya memiliki dua kelas dan saat berada di tangan Mastoer, berkembang menjadi tujuh kelas. Sekolah itu ramai muridnya yang berdampak pada meningkatnya keunganan Mastoer. Soesilo mengatakan saat ayahnya sudah memimpin sekolah itu dengan baik, adiknya Pramoedya Ananta Toer lahir pada 6 Febuari 1925.

Saat itu muridnya bersekolah banyak, karena bagi masyarakat pribumi saat itu yang  ingin bekerja di departemen pemerintahan Belanda harus bersekolah dulu,  sehingga  pemasukan finasial semakin naik. Seiring berjalannya waktu, pemerintah kolonial Belanda lalu mengeluarkan kebijakan yang membuat sekolah ini bangkrut. Saat itu pemerintah pusat  di Belanda sedang mengalami kekosongan kas keuangan sehingga berdampak pada perekonomian di tanah jajahan, termasuk Indonesia.

Undang-Undang Sekolah Liar

Saat itu pada tahun 1932, Belanda menerbitkan undang-undang sekolah liar yang dikenal dengan nama Wilde Scholen Ordonantie, yang intinya pemerintah kolonial Belanda tidak lagi menerima pegawai yang bersekolah di luar pemerintah Belanda, salah satunya IBO.

Undang-undang ini berdampak langsung pada IBO dimana   jumlah murid yang  bersekolah menurun drastis dan otomatis perekonomian Mastoer  saat itu terdampak. Tak lagi Berjaya, keluarga Mastoer makin terpuruk usai diterpa musibah pada tahun 1942, di mana pada tahun itu istri Mastoer meninggal dunia. Soes mengatakan bahwa peristiwa itu bertepatan dengan masa  penjajahan Jepang.

Saat itu untuk makan sehari-hari saja sulit dan Soes sampai menceritakan kalau keluarganya pernah memasak daging ayam dari bangkai ayam ditemukan mengapung di sungai. Bahkan mereka juga makan cicak. Soes menceritakan tahun itu menjadi tahun yang sulit bagi Soes dan keluarganya.

Baca Juga : Ajaran Saminisme Jadi Senjata Melawan Kolonialisme

Pada tahun yang sama, IBO resmi ditutup karena terbebani biaya operasional  kemudian pada tahun 1950, Mastoer meninggal dunia. Di tahun itu pula situasi politik  dalam negeri juga memanas. Orang-orang yang dianggap berbeda haluan dijemput paksa oleh penegak hukum dari pemerintah. Hal itulah yang membuat keluarga Mastoer tercerai berai.

Tanah peninggalan Mastoer akhirnya tidak terurus sampai akhirnya tanah tempat IBO berdiri yang sudah dimiliki Mastoer menjadi sekolah negeri. Hal ini dikarenakan ada perselisihan di internal keluarga sehingga akhirnya tanah tersebut dihibahkan kepada negara pada tahun 1987, dan di tahun itulah IBO resmi diganti menjadi SMP Negeri 5 Blora.

Pemandangan Hijau di SMP Negeri 5 Blora (Liputan6.com)

Saat ini, SMP Negeri 5 Blora menjadi sekolah yang memiliki segudang prestasi di bidang akademik. Selain itu, sekolah ini juga menerapkan sekolah ramah lingkungan. Dilansir dari liputan6.com, para siswa-siswi bersama guru dan karyawan  menjaga keindahan sekolah dengan menanam banyak tanaman. Deretan tanaman disusun rapi, baik di depan kelas maupun tempat-tempat  umum lainnya  sehingga memberikan kesan asri dan hijau.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago