Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

GAGASAN : Seni, Sastra, dan Kantor yang Beku

SHARE
GAGASAN : Seni, Sastra, dan Kantor yang Beku
SOLOPOS.COM - Fajar S. Pramono

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (26/8/2017). Esai ini karya Fajar S. Pramono, seorang peminat masalah sosial dan ekonomi dan merupakan alumnus Universitas Sebelas Maret Solo. Alamat e-mail penulis adalah fajarsp119@gmail.com.

Solopos.com, SOLO–Suatu ketika saya berkesempatan melihat sebuah pameran mural tematis di sebuah kantor media massa di Jakarta. Sebuah kantor dengan ruang-ruang beraroma ”keras” karena jurnalis media ini terkenal ”sangar” dan tak mengenal kompromi ketika menuliskan publikasi karya jurnalisme mereka.

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

Sebelumnya saya pernah melakukan media visit di kantor yang sama. Ruang-ruang yang sama. Orang-orang yang sama. Bedanya adalah kehadiran mural dan berbagai graphic quotation bertema senada di berbagai sudut, yakni tembok, pilar, pintu bilik telepon, sekat smoking area, one way sticker di  jendela, dan keberadaan seni instalasi yang melengkapi membuat ambience yang tercipta jauh lebih bersahabat.

Hommy. Sejuk. Juga gemulai. Ya, seni membuat kehidupan lebih indah. Seorang kawan saya selalu bilang,”Sastra membuat hidup lebih gemulai”. Lebih luwes. Fleksibel. Yang berat terbawa ringan. Yang serius terbawa santai. Otak tak cepat mendidih. Otot tak cepat mengeras.

Pada kesempatan yang lain, saya berinisiatif membawa nuansa sastra ke dalam sebuah acara resmi di kantor saya. Upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang formal langsung kami sambung dengan pergelaran musik dan pembacaan puisi. Tak tanggung-tanggung, pembaca utamanya adalah direksi dan komisaris.

Responsnya? Luar biasa. Tak terdengar celoteh ”aneh” atas performance itu. Yang ada justru hampir semua hadirin merasa excited dengan kombinasi acara formal dan nonformal ini. Baju mereka boleh jas lengkap berdasi, tapi hati pekerja serasa dekat tak bertepi.

Upacara yang selama ini terkesan ”memegalkan” dan ”mencapekkan” berubah menjadi menyenangkan. Semua pulang dengan hati yang happy. Akun media sosial para pekerja tak henti memviralkan pengalaman baru ini. Jadi, ternyata benar, seni dan sastra bisa membuat suasana yang kaku menjadi santai.

Yang beku menjadi cair. Yang pada kemudian mengalir bersama-sama menjiwa ke satu arah tujuan. Kantor memang sering kali menjadi perlambang kebekuan karya. Suasana yang monoton, hubungan yang terkekang dengan istilah atasan bawahan, pangkat jabatan, teruraikan ketika seni dan sastra menjadi tali pemadu.

Toh, sesungguhnya diksi atasan dan bawahan dan dikotomi job description semata-mata merupakan alat sistematis dari sebuah cara bekerja. Itu sekadar pembagian tugas dan tanggung jawab, namun intinya seragam: bergerak menuju satu tujuan yang sama.

Berbagai referensi menjelaskan fungsi sastra yang mulia. Ada lima, setidaknya. Pertama, fungsi rekreatif. Memberikan rasa senang. Kedua, fungsi didaktif. Menunjukkan pada kebenaran dan kebaikan. Ketiga, fungsi estetis. Memberikan keindahan.

Keempat, fungsi moralitas. Moral yang tinggi di dalam karya sastra, mengantar pengetahuan tentang perbedaan baik dan buruk. Kelima, fungsi religius. Memberi teladan bagi penikmatnya dengan ajaran agama yang dikandungnya.

Selanjutnya adalah: Beberapa hal bisa muncul dari aktivitas yang lain…

Aktivitas Lain

Beberapa hal memang bisa saja muncul dari aktivitas yang lain. Pengajian, misalnya. Tipikal penyajian konten dan cara menampilkan materi agama yang sering kali bersifat one way, class model, dan kaku berpotensi membuat penyimak merasakan kebosanan dan kejenuhan.

Pengajian menjadi tak ubahnya keharusan mendengarkan pidato atau sambutan manajemen yang berpanjang-panjang, yang isinya untuk dilaksanakan tanpa kesempatan memfilter dan mengapresiasi. Ini tak berbeda dengan penjelasan seorang dosen zaman baheula yang bermodal materi ajar teoretis, sementara yang ada di hadapannya adalah generasi millennials yang kritis.

Sementara seni dan sastra membuka kesempatan-kesempatan itu: diskusi yang hangat, tawa yang membahana, apresiasi yang tajam, debat konstruktif, hingga tepuk tangan sambil berdiri. Bebas. Apresiasi menemukan kemerdekaan yang justru membuat pikiran-pikiran terbuka dan tak enggan mencerna makna untuk kemudian melaksanakannya.

Seni dan sastra di tengah kebekuan kubikel tempat kerja sanggup membuat bahagia karena seni dan sastra hadir sebagai pembeda dari keseharian para pekerja. Menipiskan jarak atasan bawahan tanpa harus mengurangi wibawa para pemimpin di hadapan yang dipimpin.

Seni dan sastra menjadi katarsis talenta karena sejatinya manusia tidak hanya dilahirkan untuk bekerja, namun juga berkarya. Mereka yang gemar berolah suara, silakan menyanyi sepuasnya. Mereka yang senang melukis, silakan menggambar sesukanya. Mereka yang puitis, silakan mendeklamasikan gubahannya. Mereka yang gemar berkriya, silakan memamerkan master piece-nya.

Ruang-ruang seni dan sastra yang dibentuk di dalam beton kekakuan kerja pasti bisa menyejukkan kerongkongan yang dahaga rasa. Sebuah makalah penelitian menjelaskan bahwa seni merupakan pembentuk peradaban manusia.

Kelenturan senilah yang membuat hidup kita lebih beradab, harmonis, dengan manusia-manusia yang luhur budi di dalamnya. Sebuah pandangan di buku Art and Social Life yang pernah ditulis G.V. Plekhanov(1957) menyatakan masyarakat tidak diciptakan untuk seniman, tapi seniman dilahirkan untuk masyarakat.

Itu artinya bahwa masyarakat membutuhkan kehadiran seniman pembawa seni dan sastra. Bahwa sekumpulan manusia membutuhkan manusia yang kreatif dalam berkarya. Termasuk dalam kategori masyarakat itu adalah masyarakat perkantoran, di dalam kantor beku mereka.

 

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode