Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

GAGASAN : Agama dan Proklamasi Kemerdekaan

SHARE
GAGASAN : Agama dan Proklamasi Kemerdekaan
SOLOPOS.COM - Bandung Mawardi bandungmawardi@yahoo.co.id Pengelola Jagat Abjad Solo
Bandung Mawardi bandungmawardi@yahoo.co.id Pengelola Jagat Abjad Solo

Bandung Mawardi
bandungmawardi@yahoo.co.id
Pengelola Jagat Abjad Solo

Hari-hari menjelang peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, jutaan orang di Indonesia memiliki doa dan pengharapan. Situasi penjajahan dan arus nasionalisme telah merangsang emansipasi, kehendak merdeka sebagai realisasi berbangsa dan bernegara.

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

Agenda-agenda dijalankan dengan optimisme, menggerakkan ide, majinasi, dan tubuh untuk menjelmakan Indonesia. Ikhtiar panjang selama ratusan tahun menjelang pembuktian. Doa-doa pun terkabulkan meski air mata dan kematian adalah memori berkepanjangan, konsekuensi dari melawan kolonialisme.

Agenda berbangsa dan bernegara, keinginan menjelmakan Indonesia, tak cuma urusan politik. Sejarah dan fondasi pembentukan Indonesia adalah religiositas yang termaktub di Pancasila dan Pembukaan UUD 1945. Dua teks itu menjiwai teks Proklamasi, deretan kata untuk mengumumkan kelahiran Indonesia: merdeka.

Diskursus agama turut menentukan jalan menjadi Indonesia yang digerakkan para tokoh bangsa selama ratusan tahun. Agama sebagai referensi dan suluh kehidupan memberi kekuatan atas amalan-amalan nasionalisme, membentuk negara-bangsa berbasis pluralitas, merujuk kondisi historis di Indonesia.

Wahid Hasjim melalui artikel berjudul Agama dalam Indonesia Merdeka di Asia Raya, 11 Mei 1945, menerangkan signifikansi agama dalam agenda berindonesia. Gelagat untuk merdeka dirasakan oleh jutaan orang, menandai ada perubahan nasib negeri terjajah. Wahid Hasjim menulis: Sekarang, pembentukan negara Indonesia sedang dioesahakan. Berhoeboeng dengan itoe, di sana-sini orang bertanja: Di manakah tempat agama di dalam negara Indonesia itoe nanti?

Kita justru teringat dengan pengajuan pesan dan makna agama dalam arus nasionalisme telah berlangsung sejak awal abad XX. Keberadaan Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, menjadi rintisan dari diskursus beragama dan berbangsa-bernegara. Ikhtiar itu pernah mendapat tanggapan dari Soekarno dalam tulisan berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme (1926).

Gerakan Islam di dunia merangsang umat Islam di Indonesia melakukan misi perjuangan, melawan kolonialisme, dan mengadakan semaian nasionalisme berbasis religiositas. Soekarno menulis: …Islam jang sedjati mewadjibkan pada pemeloeknja mentjintai dan bekerdja oentoek negeri jang ia diami, mentjintai dan bekerdja oentoek rakjat di antara mana ia hidup, selama negeri dan rakjat itoe masuk Daroel Islam?

Perdebatan agama dan nasionalisme berlangsung sejak lama, menggerakkan Indonesia ke jalan persimpangan meski ada pengharapan untuk mewujudkan harmoni. Jejak-jejak pemikiran Soekarno, Ahmad Dahlan, H.O.S. Tjokroaminoto, Agus Salim, Mohamad Roem, M. Natsir, Mohammad Hatta menjadi referensi relasi agama dan nasionalisme di Indonesia.

 

Tafsir Makna Agama

Mereka memberi tafsir atas makna agama, kontekstualisasi dalam kehendak menjelmakan Indonesia. Jejak-jejak itu terus bersambung di episode akhir kolonialisme, merekah makna dan mengarah ke terang atas nasib negeri besar dengan jutaan pemeluk agama Islam. Wahid Hasjim pun memerlukan mengajukan renungan ke publik agar ada keinsafan atas relasi agama dan nasionalisme di Indonesia.

Renungan menjelang peristiwa Proklamasi itu mengartikan ada kontinuitas realisasi ajaran Islam untuk merampungi kolonialisme. Wahid Hasjim menulis: Riwajat kita jang laloe memboektikan bahwa persatoean kita tidak sempoerna. Maka oentoek menjempoernakan persatoean jang sangat perloe bagi pembentukan negara Indonesia jang sedang dioesahakan itoe, menoeroet pikir kita jang penting dimadjoekan boekanlah pertanjaan, di mana tempat agama di dalam Negara Indonesia itu nanti? Akan tetapi jang penting dimadjoekan ialah pertanjaan, bagaimanakah tjaranja menempatkan agama di Indonesia merdeka itoe?

Ulama besar itu menghendaki umat bersatu, mengubah basis pemahaman relasional antara agama dan negara. Seruan tentang ”cara menempatkan” membuktikan ada kesadaran elegan dalam beragama demi ejawantah Indonesia: negara berbasis religiositas. Persatuan menjadi tema kunci, menentukan nasib gerakan nasionalisme dan kebermaknaan agama dalam mewujudkan Indonesia.

Kita bisa mengutip seruan Soekarno (1926), ajakan persatuan sebagai fondasi beragama dan berbangsa-bernegara: Bahagialah kaoem pergerakan Islam jang insjaf dan maoe akan persatoean. Bahagialah mereka, oleh karena merekalah jang sesoenggoeh-soenggoehnja mendjalankan perintah-perintah agamanja!

Soekarno menggunakan tanda seru, menjelaskan ada aksentuasi pesan ke publik. Kita menemukan ada arus diskursus agama menguat di Indonesia, masa 1940-an. Seruan Soekarmo dan Wahid Hasjim mendapat sambungan dari O. Poejotomo dalam tulisan Agama Islampun Mengadjarkan Kebangsaan dan Kerakjatan, terbit di Sinar Baroe, 30 Mei 1945.

Gerakan menuju Indonesia merdeka ditopang oleh kesadaran beragama. Indonesia dijiwai religiositas. Poejotomo menerangkan: Soedah mendjadi fitroh, dasar, watak, tabiat bahwa seseorang manoesia dilahirkan di doenia ini memiliki tjinta kepada bangsa dan noesanja.

Ini adalah kodrat alam, amanat Allah. Kita mulai menilik ada tebar gagasan dan perdebatan dalam membentuk Indonesia merujuk ke pemaknaan agama. Tulisan-tulisan para tokoh itu ada di alur pembentukan Indonesia, hadir sebagai renungan dan seruan. Kita tak mungkin menghilangkan kesejarahan tulisan mereka jika ingin mengerti peristiwa Proklamasi dan kebermaknaan Indonesia.

Informasi kesejarahan kita sering merujuk ke hal-hal besar: pidato Pancasila oleh Soekarno (1 Juni 1945), Piagam Jakarta (22 Juni 1945), pembacaan naskah Proklamasi (17 Agustus 1945), penetapan UUD 1945 (18 Agustus 1945). Kecenderungan mengabaikan serpihan sejarah dan sajian literer di masa 1940-an sering mengalpakan kita dari ikhtiar memaknai agama dalam membentuk Indonesia.

Selebrasi Proklamasi jarang mengajak kita melakukan lacak literer dan refleksi gagasan-gagasan mengenai agama dan negara. Kita justru mengartikan Proklamasi adalah lomba, panggung hiburan, upacara, pidato. Ingatan atas sejarah tulisan bertema agama dan negara di arus nasionalisme adalah modal untuk keinsafan memaknai Proklamasi. Kita memperingati Proklamasi dengan dan pemaknaan historis-literer dan kontekstual demi Indonesia, negeri pluralitas berbasis religiositas.

 

 

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode