Flexing Memaksa, Bisa Jadi Gangguan Mental?

Ada banyak hal yang mendorong orang melakukan flexing. Salah satunya faktor lingkungan. Takut tidak diterima lingkungan jika tidak terlihat kaya.
Flexing Memaksa, Bisa Jadi Gangguan Mental?
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, SOLO–Ada banyak hal yang mendorong orang melakukan flexing. Salah satunya faktor lingkungan. Takut tidak diterima lingkungan jika tidak terlihat kaya.

Baca Juga: Waspada Gejala CVS pada Mata saat Pandemi, Ini Kata Dokter RS JIH Solo

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Psikolog Rumah Sakit (RS) JIH Solo, Arida Nuralita, dalam Health Talk RS JIH Solo dengan tema Fenomena Pamer Barang Mewah Jaman Now, yang disiarkan di Youtube RS JIH Solo, 18 Maret 2022 lalu, menjelaskan flexing muncul bukan hanya karena faktor kepribadian.

“Mengapa orang melakukan flexing? Bisa karena faktor kepribadian, narsistik, suka jadi pusat perhatian kemudian merasa dirinya penting. Atau bisa juga faktor lingkungan, karena banyak disekitarnya yang melakukan seperti itu, jadi kalau tidak melakukan, jadi merasa beda sendiri,” kata dia. Dengan begitu ada kecemasan yang tidak perlu ada, yakni kecemasan terhadap adanya penolakan karena beda.

Hal demikian merupakan anggapan keliru dalam membangun hubungan sosial. Kemudian muncul pergeseran, bahwa uang atau kekayaan yang dinilai bisa membuat dirinya bahagia dan diterima lingkungan. Flexing di sini dilakukan untuk mendapatkan pengakuan.

“Kalau lama tidak flexing kemudian khawatir, wah nanti orang mengira aku miskin dong? Itu artinya ada kegelisahan. Nah itu yang nantinya rentan dengan gangguan mental,” kata Arida.

Dampak buruk lainnya dari kondisi tersebut, akan melakukan hal apapun karena untuk mengejar agar bisa pamer. Termasuk kemudian melakukan hal-hal tidak baik hanya untuk mendapatkan sesuatu yang bisa dipamerkan.

Baca Juga: Puasa Saat Hamil, Ini Tips dari Dokter Obsgyn RS JIH Solo

Untuk itu pertimbangkan diri sebelum melakukan flexing, terlebih kalau sudah berlebihan. “Ukur diri kalau sudah merasa cemas, kegelisahan untuk hal-hal yang tidak perlu digelisahkan. Itu perlu diwaspadai. Misalnya mulai cemas tidak ada pengakuan orang lain,” kata dia.

Bisa jadi banyak pamer justru akan menimbulkan masalah dengan relasi. Sebab tidak semua orang sama dengan kita. Belum tentu apa yang kita suka, orang lain juga suka. “Mungkin beranggapan kalau saya pamer ini orang akan mengapresiasi. Tapi bisa jadi malah iri dan berdampak negatif ke kita,” jelas dia. Banyak pamer juga bisa menjadikan lingkungan terganggu, bisa jadi justru ditinggalkan relasi dan sebagainya.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terpopular
    Indeks Berita
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago