FKUB Sukabumi Belajar ke Salatiga, Wali Kota Yuliyanto Pamer Toleransi
Solopos.com|jateng

FKUB Sukabumi Belajar ke Salatiga, Wali Kota Yuliyanto Pamer Toleransi

FKUB Kabupaten Sukabumi belajar dari Kota Salatiga terkait toleransi. Salatiga masuk dalam tia besar kota paling toleran oleh Setara Institute.

Solopos.com, SALATIGA – Wali Kota Salatiga, Yuliyanto, menerima kunjungan kerja Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, di rumah dinasnya, Kamis (10/2/2021). Kunjungan kerja FKUB Sukabumi itu dipimpin Kepala Badan Kesbangpol Sukabumi, Dody Rukman Meidianto.

Dody mengatakan kunjungan FKUB Sukabumi itu tak lain ingin belajar dari Salatiga yang menyandang predikat sebagai Kota Tertoleran di Indonesia. Ia mengaku Sukabumi merupakan daerah terluas se-Jawa Bali dengan 47 kecamatan, 381 desa, dan lima kelurahan. Di wilayah tersebut juga terdapat lebih dari 2.000 organisasi masyarakat (ormas) yang aktif.

“Memang banyak ormas yang kiprahnya positif, tapi ada juga oknum yang memanfaatkan ormas untuk kepentingan pribadi. Bahkan pernah dalam waktu satu bulan ada 13 unjuk rasa, sehingga Kesbangpol Sukabumi sibuk memediasi unjuk rasa,” keluh Dody kepada Wali Kota Salatiga.

Yuliyanto mengatakan selama 4 tahun beruntun Kota Salatiga meraih peringkat 3 besar Kota Tertoleran di Indonesia. Namun, pada 2020 berhasil menyandang peringkat pertama.

Variabel Penilaian

Predikat itu diberikan lembaga Setara Institut dilihat bukan dari kerukunan masyarakatnya saja. Tapi, juga meliputi RPJMD, peraturan daerah, kebijakan pemerintah, tindakan, dan respons pemerintah, peristiwa pelanggaran kebebasan beragama, keyakinan, dan komposisi berdasarkan agama.

Di Tahun 2020, penilaian Setara Institut ditambah menjadi empat variabel yang meliputi regulasi pemerintah, regulasi sosial, tindakan pemerintah dan demografi agama.

“Di Salatiga, jika ada ormas yang akan demo kita undang datang ke sini untuk duduk bersama dan bicara dari hati ke hati. Apa yang menjadi aspirasinya saya minta dapat disampaikan langsung secara terbuka tak perlu capai-capai demo. Silakan mengkritik dan memaki-maki Wali Kota di sini. Bagi saya Rumah Dinas Wali Kota merupakan rumah yang bisa digunakan untuk aktivitas seluruh elemen masyarakat. Mau dangdutan silakan, keroncongan boleh, pengajian boleh, kebaktian juga boleh. Semua kami berikan ruang yang sama tanpa terkecuali,” ujar Yuliyanto.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago