Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

FILM INDONESIA : Rasa Jakarta Mendominasi Film Nasional

SHARE
FILM INDONESIA : Rasa Jakarta Mendominasi Film Nasional
SOLOPOS.COM - Poster film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 2. (Youtube)

Film Indonesia didominasi rasa Jakarta.

Solopos.com, SOLO — Pengamat film Indonesia dari Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Noor Harsya Aryosamodro, menilai rasa Jakarta mendominasi film nasional. Sulit mencari film dengan wajah Indonesia.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

 Abu Kholis, siswa kelas XII sebuah SMA di Karanganyar, berdiri bergerombol bersama teman-temannya. Ada sekitar delapan remaja. Para remaja itu menunggu salah satu kawan mereka yang antre membeli tiket film Warkop Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 yang diputar di Bioskop Grand 21 Solo Grand Mall, Kamis (31/8/2017) siang itu.

Warkop Reborn 2, menurutnya, adalah film yang wajib ditonton setelah Warkop Reborn 1 sukses mengocok perutnya. “Warkop 1, Comic 8, dan Transformer adalah film-film yang wajib ditonton,” ujar dia.

Kategori film bagus, menurut remaja ini adalah film yang menegangkan, menghibur, dan ngehits di kalangan remaja. “Obrolan di antara kami itu kan ya salah satunya film. Kalau tidak menonton jelas ketinggalan, tidak bisa ikut mengobrol,” kata dia.

Meski film Warkop Reborn: Jangkrik Boss! Part 2 tak mencerminkan kehidupan masyarakat Indonesia, lebih-lebih remajanya, Abu menilai hal itu bukanlah substansi sebuah film layak ditonton. Yang terpenting dari sebuah film adalah kemampuan menghiburnya.

“Saya tahu ada beberapa film idealis seperti Kartini. Tapi bagaimana ya, tidak tertarik menonton. Ada juga beberapa film remaja yang bagus [Dear Nathan yang diangkat dari naskah di aplikasi Wattpad kemudian dibuat novel, Surat Kecil untuk Tuhan, dan lainnya), tapi saya juga tak suka.”

Pengamat film dari ISI Solo, Noor Harsya Aryosamodro, mengkritik penyebutan film nasional untuk film-film yang diputar di layar lebar. Dia melihat film-film itu tidak mencerminkan wajah Tanah Air, melainkan hanya untuk warga Jakarta.

“Indonesia itu kan beragam, ya karakternya, ya budayanya. Semua khas. Film nasional, menurut saya, kebanyakan milik warga Jakarta. Ya memang tidak semua, tapi kebanyakan seperti itu,” jelas dia.

Hadirnya film macam Surau dan Silek yang menceritakan adat Minangkabau, MARS Mimpi Ananda Raih Semesta tentang pelajar terbaik dari Gunung Kidul, dan Nyai Ahmad Dahlan di bioskop Indonesia, menurut Harsya, patut diapresiasi. Ketiga film itu diputar di jaringan bioskop terbesar di Indonesia yakni Cinema 21 yang memiliki 934 layar di 166 lokasi yang tersebar di 38 kota.

Harsya melihat para produser film saat ini mulai memahami beragamnya segmen penonton Indonesia. “Saya senang dengan perkembangan Indonesia saat ini. Sekarang masyarakat tidak ’harus’ menonton film hiburan saja, tapi ada alternatif film yang mendidik dan inspiratif. Meski tidak sebanyak Warkop terbukti Nyai Ahmad Dahlan punya penonton sendiri,” jelas dia, Minggu (10/9/2017).

Sebagai bagian dari kebudayaan, kualitas film nasional bisa ditingkatkan melalui pembangunan film di daerah. “Banyak sekali festival film indi di daerah. Film-film itu menggambarkan lokalitas yang tidak ditemui di kebanyakan film yang diputar di bioskop,” ujar dia.

Pembinaan kepada sineas daerah yang kebanyakan masih muda diharapkan bisa mendorong lahirnya film nasional yang bagus dari sisi sinematografi, muatan film, maupun dari sisi bisnis.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan, Kinkin Sultanul Hakim, berkomitmen mendukung film nasional dalam rangka pengembangan pendidikan karakter di daerah.

“Ini [Dinas Kebudayaan] kan dinas baru. Namun, saya melihat film ini sangat efektif mengajarkan nilai-nilai kepada masyarakat. Seandainya memungkinkan menonton bersama siswa atau warga, maksud saya menonton film nasional, bisa saja kami lakukan. Akan saya pelajari anggaran kami. Soal film lokal, saya malah ingin mendukung festival film daerah yang dimotori para akademisi. Coba nanti kalau bisa bertemu dengan mereka. Saya akan ajak berbicara kemungkinan mengangkat film-film tentang Solo agar masyarakat khususnya remaja bisa mengenali budaya mereka,” kata dia.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode