Fenomena Artis Adopsi Spirit Doll, Ini Kata Dosen Psikologi UNS

Sebenarnya memiliki spirit doll atau boneka arwah termasuk berbentuk bayi adalah hal yang wajar asal dimanfaatkan sebagai media latihan untuk mengasuh anak.
SHARE
Fenomena Artis Adopsi Spirit Doll, Ini Kata Dosen Psikologi UNS
SOLOPOS.COM - Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran UNS Solo, Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si. (Istimewa-Humas UNS)

Solopos.com, SOLO – Fenomena artis adopsi spirit doll atau boneka arwah ramai diperbincangkan warganet di media sosial. Berawal ketika salah salah satu desainer Tanah Air mempublikasikan foto dua spirit doll yang dianggap sebagai ‘anaknya’ ke Instagram Desember 2021.

Desainer yang masih melajang ini memperlakukan spirit doll-nya seperti bayi manusia sungguhan, termasuk membuatkannya akun Instagram pribadi. Perilakunya dinilai tidak biasa dan ganjil, sehingga menggundang warganet berkomentar dan mengkritik.

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Dr. Tri Rejeki Andayani, S.Psi., M.Si pun memberikan pandangannya untuk menanggapi fenomena ini.

Ia mengatakan, sebenarnya memiliki boneka arwah termasuk berbentuk bayi adalah hal yang wajar asal dimanfaatkan sebagai media latihan untuk mengasuh anak. Setidaknya dengan keberadaan spirit doll, orang-orang bisa menyiapkan diri sebelum memiliki anak sesungguhnya.

“Bagi orang dewasa, memelihara boneka arwah dan merawatnya selayaknya ‘bayi’ masih wajar. Bahkan hal itu bisa dimanfaatkan untuk media praktek bagi mahasiswa kebidanan atau keperawatan,” ujar dosen UNS Solo ini, Minggu (9/1/2022).

Baca juga: Jajal Bus Low Deck di Solo, Tim Advokasi Difabel: Lantainya Kurang Rata

Boneka apa pun bagi anak-anak termasuk spirit doll, menurut Tri Rejeki bisa menjadi sarana bermain pura-pura atau pretend play. Yakni anak yang memainkan spirit doll bisa berperan sebagai ibu atau kakak yang sedang mengasuh bayi.

Ekspedisi Energi 2022

Metode ini disebutnya mirip dengan mainan yang sangat viral di Indonesia pada tahun 90-an, Tamagotchi. Permainan ini menuntut pemainnya untuk memelihara hewan virtual dalam sebuah konsol. Dirawat sejak dalam telur hingga dewasa, termasuk memberinya makan, memandikan, mengajak bermain, bahkan merawatnya jika sakit.

“Layaknya spirit doll yang viral belakangan ini, Tamagotchi juga dapat melatih tanggung jawab anak sebelum memelihara binatang peliharaan sungguhan,” imbuhnya.

Baca juga: Ini Kisah Asyiknya Menjadi Pejuang Muda Kemensos UNS

Kesiapan Memiliki Anak

Tri Rejeki Andayani menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap orang memiliki kebutuhan akan rasa cinta dan ingin memiliki atau need for love and belongingness. Ini mengutip pendapat pencipta teori hierarki kebutuhan, Maslow.

“Hal ini mendorong seseorang untuk menjalin hubungan emosional dengan orang lain yang jika tidak terpenuhi akan memunculkan rasa kesepian,” katanya.

Ia juga menambahkan, sejatinya manusia memiliki dorongan untuk memelihara, merawat, dan membantu (nurturance). Bisa jadi dengan memiliki spirit doll dapat menjadi media untuk menyalurkan dan melampiaskan dorongan tersebut.

“Karena pada kenyataannya, tidak semua orang siap memiliki anak, atau belum memenuhi syarat untuk mengadopsi anak. Seperti kita tahu, prosedur untuk mengadopsi anak juga tidak mudah. Selain itu, tidak hanya memerlukan kesiapan fisik, tetapi juga mental,” imbuhnya.

Sehingga, selama masa tunggu itu, spirit doll bisa menjadi alternatif untuk menyalurkan naluri pengasuhan seseorang. Karena risikonya lebih kecil dan relatif lebih mudah dirawat.

Baca juga: Pakar Patologi Klinik UNS Solo: Booster Vaksin Covid-19 Penting, Tapi..

Dampak Pada Pemilik

Walau ada sisi positif ketika merawat spirit doll, Tri Rejeki Andayani mengingatkan, bahwa boneka ini bisa membuat seseorang kehilangan realitasnya. Karena pemilik dapat terikat emosi secara berlebihan dengan spirit doll dan membangun realitas sendiri yang sifatnya semu.

“Mengganggap boneka tersebut bernyawa atau ada arwahnya dan memberikan fasilitas yang berlebihan. Yang cenderung mengarah pada hal-hal yang sifatnya mubazir,” imbuhnya.

Apabila hal ini benar-benar dialami seseorang, ia menyarankan agar pemilik spirit doll melibatkan bantuan profesional.

“Jika sudah demikian, ada baiknya juga lingkungan sosial segera membantu yang bersangkutan untuk kembali pada realitas yang sesungguhnya,” pungkasnya.

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago