Facebook Dominasi Sebaran Hoaks Soal Covid-19, Ini Datanya!

Facebook menjadi platform media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebar informasi tidak benar alias hoaks terkait Covid-19.
Facebook Dominasi Sebaran Hoaks Soal Covid-19, Ini Datanya!
SOLOPOS.COM - Infografis Sebaran Hoaks Covid 19 (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, JAKARTA – Facebook menjadi platform media sosial yang paling banyak digunakan untuk menyebar informasi tidak benar alias hoaks terkait Covid-19.

Tim Patroli Siber Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mengungkapkan data terbaru terkait sebaran hoaks terkait Covid-19 di media sosial. Dalam data itu disebutkan terhitung sejak 23 Januari 2020 hingga 18 November 2021, terdapat 1.991 isu hoaks terkait Covid-19 yang tersebar di 5.131 unggahan platform medsos.

Baca Juga: Jangan Percaya, Inilah Sejumlah Hoaks Terkait Covid-19 Akhir-Akhir Ini

Dari 5.131 unggahan hoaks terkait Covid-19 itu, sebanyak 4.432 unggahan di antaranya berasal dari Facebook. Sisanya, 47 unggahan di Instagram, 572 unggahan di Twitter, 55 unggahan di Youtube dan 25 unggahan di Tiktok.

“Dari 5.131 unggahan hoaks terkait isu Covid-19 itu, sebanyak 5.004 sudah ditindaklanjuti dengan pemutusan akses [take down]. Sisanya, 127 unggauah sedang ditindaklanjuti untuk proses pemutusan akses,” jelas Juru Bicara Kementerian Kemkominfo, Dedy Permadi, dalam siaran pers Menolak Hoaks Covid-19 sebagaimana dilansir dari kanal Youtube Kemkominfo TV, Minggu (21/11/2021).

Program vaksinasi yang digalakkan pemerintah untuk menekan angka Covid-19 juga tidak lepas dari sasaran hoaks. Berdasar data per 18 November 2021, sebaran hoaks terkait vaksin Covid-19 yang dihimpun tim Patroli Siber Kemkominfo mencapau 2.414 unggahan di media sosial.

Baca Juga: Video Hoaks Banjir Besar Resahkan Warga Wonogiri, Ini Langkah Polisi!

Sebanyak 2.233 unggahan di antaranya berasal dari Facebook. Sisanya, 18 unggahan di Instagram, 110 unggahan di Twitter, 43 unggahan di Youtue dan 21 unggahan di Tiktok.

Plt. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi, Pemprov Sulawesi Barat (Sulbar), Mustari Mula, mengemukakan masyarakat di pedalaman Sulbar awalnya masih percaya dengan hoaks terkait vaksin. Info hoaks itu menyebar melalui media sosial. Itu sebabnya, pada awalnya animo masyarakat di pedalaman itu cukup rendah untuk mengikuti vaksinasi.

Baca Juga: Genjot Capaian Vaksinasi di Grobogan, BIN Jateng Gelar Vaksinasi

Mereka kerap menghindari kegiatan vaksinasi. Bahkan, kata Mustari, tidak jarang mereka terlibat konflik dengan sukarelawan maupun tenaga kesehatan karena masih terpengaruh info hoaks terkait vaksin.

“Berkat edukasi yang dilakukan secara terus menerus, sekarang animo masyarakat di pedalaman mulai tinggi. Mereka sudah sadar bila vaksin itu demi kebaikan mereka sehingga tingkat partisipasinya lebih tinggi,” paparnya dalam Dialog Produktif dengan tema Perjuangan Vaksinasi di Pedalaman Indonesia yang disiarkan livestreaming melalui kanal Youtube Kemkominfo TV, Rabu (24/11/2021).

Sebaran Isu Hoak Covid-19 di Media Sosial (Medsos)

Infografis Sebaran Hoaks Covid 19 (Solopos/Whisnupaksa)
Infografis: Whisnupaksa

Sejumlah informasi hoaks terkait Covid-19 beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo) mengajak masyarakat turut memerangi berita hoaks yang menyesatkan.

Baca Juga: Pemilik Channel Aktual TV Ditahan, 765 Konten Hoaks Bermotif Ekonomi

Dedy Permadi mengungkapkan sejumlah hoaks yang beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. “Pada 12 November tersebar disinformasi terkait poster iklan Covid-19 yang mengajak orang tua sumbang organ anak-anak. Padahal gambar itu tidak benar sama sekali,” kata Dedy.

Pada tanggal yang sama, kata Dedy, juga tersebar berita palsu mengenai Negara Jepang yang menghentikan program vaksinasi Covid-19. Negeri Sakura itu justru dikabarkan lebih memilih memanfaatkan ivermectin yang diklaim sanggup membunuh virus hanya dalam waktu satu malam.

Baca Juga: Video Hoaks Banjir Besar Resahkan Warga Wonogiri, Ini Langkah Polisi!

Sehari berselang yakni pada 13 November, juga beredar hoaks mengenai reaksi warga setelah disuntik vaksin Covid-19 mengalami perubahan mental dan fisik. “Pada tanggal yang sama [13 November] ada narasi hoaks lewat video di medsos. Potongan video itu dalam bahasa asing yang mengklaim tes swab Covid-19 adalah vaksinasi yang terselubung,” papar Dedy.

Pada 14 November beredar info tak benar bahwa istri CEO Pfizer yang meninggal dunia akibat komplikasi vaksin. Kabar tersebut dipastikan hoaks atau berita bohong. Dalam akun twitter pribadi CEO Pfizer, @albertbourla, terdapat unggahan foto dia bersama sang istri dan rekan kerja mereka. Unggahan itu muncul pada Jumat (12/11). Unggahan Albert bersama istrinya sekaligus membantah kabar tidak benar itu.

Juru bicara Pfizer, Amy Rose, menyatakan Myriam Bourla, istri Albert, dalam kondisi masih hidup dan sehat. Amy menyatakan penulis artikel di situs konservatif itu punya itikad jahat dan menyebabkan tekanan emosional kepada keluarga Bourla.

Baca Juga: Sudah Ada 64.350 Dosis, Silakan Warga Sragen yang Mau Divaksin Pfizer

“Tidak masuk akal, seseorang menyamar sebagai jurnalis akan menyebarkan kebohongan seperti itu tentang CEO kami dan keluarganya, dengan tujuan merusak kepercayaan pada vaksin yang telah diberikan kepada ratusan juta orang di seluruh dunia,” kata Amy seperti dilansir Antara.

Dedy Permadi mengingatkan jika bangsa Indonesia masih menghadapi Pandemi Covid-19. “Pandemi masih ada. Virus masih mengintai kita. Mari bersama kita hentikan sebaran Covid-19 dengan literasi digital, semangat vaksinasi dan taat prokes. Bersama kita mampu menekan persebaran Covid-19,” terang Dedy.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago