[x] close
top ear
Bandung Mawardi (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Bandung Mawardi (Istimewa/Dokumen pribadi)

Esai Duka Bulan Juli

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 21 Juli 2020. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.
Diterbitkan Minggu, 26/07/2020 - 21:11 WIB
oleh Solopos.com/Bandung Mawardi
7 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Minggu beranjak siang, 19 Juli 2020, orang-orang berduka dan menampilkan ulang puisi atau kutipan puisi gubahan Sapardi Djoko Damono di media sosial.

Foto-foto bertokoh Sapardi Djoko Damono (20 Maret 1940-19 Juli 2020) disuguhkan kepada publik untuk mengenang dan menghormati. Pilihan puisi ”terbatas” mengacu yang paling tenar. Puisi-puisi dimiliki umat pembaca di seantero Indonesia.

Ingatan kepada puisi terasa cepat dan lekat ketimbang ingatan kepada cerita pendek, novel, dan esai. Puisi-puisi termoncer karya Sapardi dibaca ulang oleh ribuan orang. Kini, saya ingin mengenang Sapardi melalui esai. Dia pernah menginginkan esai diakui sebagai gubahan sastra, tak selalu dianggap berada di luar atau sekitar sastra.

Di media sosial dan perbincangan setelah kabar duka, kita mungkin agak kerepotan mengingat dan membuat daftar esai-esai terpenting karya Sapardi Djoko Damono. Orang-orang tak mengutip atau menampilkan (lagi) di media sosial.

Sapardi Djoko Damono (2005) dalam Membaca Esai menjelaskan ada dua genre yang sampai sekarang masih belum kita masukkan ke dalam kategori sastra, (auto)biografi dan esai. Keduanya memiliki kekhasan.

Esai menekankan pada diskusi mengenai gagasan tertentu, sedangkan (auto)biografi mementingkan alur dan penokohan dalam membicarakan gagasan. Esai itu penting, tak melulu orang menekuni puisi, cerita pendek atau cerpen, dan novel.

Sapardi Djoko Damono adalah esais, menulis esai-esai meski tak selalu lekas termiliki pembaca, setelah ”dimanjakan” gubahan puisi-puisi. Ulrich Kratz dalam buku Sumber Terpilih Sastra Indonesia Abad XX (1999) memasukkan dua esai Sapardi Djoko Damono berjudul Dapatkah Kita Menghindarkan Diri dari Cerpen? dan Kritik Sosial dalam Sastra Indonesia: Lebah Tanpa Sengat.

Dua esai itu membuktikan pengakuan atas kejelian dan pengaruh pengamatan-pengamatan dikerjakan Sapardi Djoko Damono dalam arus kesusastraan Indonesia. Esai menjadi sumber untuk melacak suasana dan selera sastra dari masa ke masa. Esai berjudul Dapatkah Kita Menghindarkan Diri dari Cerpen? mula-mula disampaikan dalam diskusi di Bandung, 14 September 1975, berlanjut dimuat di Majalah Horison edisi Oktober 1975.

Pengamatan sekian tahun memunculkan kesimpulan rupanya cerpen sudah menjadi syarat mutlak bagi hampir setiap majalah hiburan (dan sebagainya) di Indonesia. Majalah-majalah itu harus selalu siap memuat sebuah atau dua buah cerpen dalam setiap nomor penerbitan dan secara teratur memuat tulisan para penulis yang digemari pembaca.

Demikianlah maka kita tidak merasa keberatan apa pun kalau cerpen dipasang di antara artikel-artikel tentang resep dapur atau menata rambut… Barangkali hal itu membuktikan bahwa cerpen memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari; juga mungkin sekaligus membenarkan pendapat bahwa kita semua pada dasarnya membutuhkan fakta dan fiksi.

Pada masa 1970-an, Sapardi Djoko Damono menulis esai itu tanpa ada kepastian kelak bakal menjadi penulis cerpen dan terbit menjadi buku-buku yang digemari pembaca: Membunuh Orang Gila, Pengarang Telah Mati, Malam Wabah, Sepasang Sepatu Baru, dan Pada Suatu Hari Nanti.

Ia tak bisa menghindarkan diri dari membaca dan menulis cerpen meski pada masa berbeda. Sejak masa 1950-an, Sapardi Djoko Damono rajin menulis puisi. Orang-orang mengenali dia sebagai pujangga meski ia kadang menulis esai-esai di pelbagai majalah. Esai mungkin masih dianggap selingan.

Pembuktian tekun menulis esai terbaca saat Sapardi Djoko Damono menjadi anggota redaksi Majalah Horison dan mendapat jatah menulis di rubrik Catatan Kebudayaan dan Apresiasi. Pada saat turut menggerakkan Majalah Basis, ia menulis esai-esai mengenai bahasa, sastra, pendidikan, dan kebudayaan.

Bukti

Pada 1983, terbit buku berjudul Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan berisi tulisan-tulisan Sapardi Djoko Damono yang berasal dari makalah, koran, dan majalah. Sekian tulisan itu esai. Penerbitan buku diusahakan oleh Pamusuk Eneste selaku editor di Gramedia. Tulisan-tulisan tersiar dari 1969 sampai 1982.

Sapardi Djoko Damono mengatakan tentu saja karangan-karangan yang terkumpul dalam buku ini belum mencakup semua yang pernah dia tulis selama ini, namun diharapkan sudah bisa mencerminkan cakupan minat, gaya penulisan, dan dasar-dasar gagasan.

Sapardi Djoko Damono tampak belum marem selaku esais. Ia telanjur meniti jalan puisi. Jumlah esai lebih sedikit dibandingkan puisi. Kehadiran esai-esai karya Sapardi Djoko Damono bersinggungan dengan esai bersejarah garapan Arief Budiman berjudul Esai tentang Esai yang dimuat Majalah Horison edisi Juli 1966.

Arief Budiman menggunakan sekian referensi menghasilkan sejenis konklusi seorang esais adalah orang yang terpikat, orang yang jatuh cinta pada sebuah persoalan/gedjala. Pertjintaan itu adalah pertjintaan jang bersifat pribadi. Menulis sebuah esai seakan-akan bercerita kepada dan untuk dirinya sendiri, seakan-akan merenungkan keindahan percintaannja. Esai adalah tulisan yang bersifat pribadi sekali.

Arief Budiman produktif menulis esai-esai yang berdampak besar di sastra, politik, ekonomi, dan pendidikan meski mula-mula mengaku itu “tulisan yang bersifat pribadi sekali.” Keterlibatan Arief Budiman dalam sastra memang melalui esai-esai, bukan puisi, cerita pendek, atau novel.

Pengalaman itu berbeda dengan Sapardi Djoko Damono yang secara perlahan-lahan memenuhi sekian predikat sebagai penulis puisi, esai, cerita pendek, novel, dan penerjemah. Esai bukan ”keutamaan” tapi memungkinkan ia melakukan pengamatan dan penilaian berpengaruh bagi perkembangan sastra,  pendidikan, bahasa, dan film di Indonesia.

Tahun demi tahun berlalu, jumlah esai Sapardi Djoko Damono tetap kalah jauh dibandingkan jumlah puisi. Pada usia tua, ia justru memilih menulis cerita pendek dan novel. Menulis puisi jalan terus tapi keberpihakan kepada prosa semakin menonjol.

Pada abad XXI, penulisan esai agak lambat, tak semenggairahkan seperti pada masa lalu, dari masa 1970-an sampai 1990-an. Esai tetap ditulis meski tak setekun Goenawan Mohamad, Umar Kayam, dan Ignas Kleden. Sapardi Djoko Damono tetap esais dan berseru esai masuk kategori sastra.

Sapardi Djoko Damono (2005) menguatkan anggapan bahwa tugas esai adalah menumbuhkan kesadaran kritis terhadap apa saja, termasuk–dan mungkin terutama–diri kita sendiri. Ia mengagumi para esais yang memberi warisan besar dalam lakon keaksaraan di Indonesia: Sutan Takdir Alisjahbana, Pramoedya Ananta Toer, H.B. Jassin, Dick Hartoko, Arief Budiman, dan lain-lain.

Ia memuji para esais yang memiliki kekuatan dan pengaruh besar pada akhir abad XX: Sindhunata dan Nirwan Dewanto. Sapardi Djoko Damono mungkin sungkan menempatkan diri sebagai esais penting di alur keaksaraan Indonesia. Ia tetap berpengaruh meski dengan jumlah esai sedikit.

Esai-esai terpuji dalam pembacaan Sapardi Djoko Damono cenderung bersinggungan dengan sastra. Penjelasan sederhana dan mengena bahwa kedekatan penulis esai dengan kegiatan kesusastraan tentu erat kaitannya dengan ”tuntutan” penggunaan bahasa yang informal, yang dalam beberapa segi memang lebih rumit daripada bahasa formal yang dikategorikan sebagai baku meskipun tidak selalu harus beku.

Ketangguhan Sapardi Djoko Damono untuk sampai ke penulisan esai memikat diwujudkan dengan penerbitan buku berjudul Sihir Rendra: Permainan Makna (1991). Sekian tulisan memilih corak resensi dan esai mengarah ke pengamatan puisi.

Usulan agar esai dan (auto)biografi masuk kategori sastra terbaca dalam esai berjudul Permainan Makna yang mula-mula dipublikasikan pada 1984. Esai mengenai diri (Sapardi Djoko Damono) sebagi pengarang. Di situ, ia menulis “Saya ternyata suka bermain dengan kata-kata.” Esai memang memerlukan permainan atau main-main.

Fiksi dan Masuk Akal

Di tulisan-tulisan yang sudah terbit, Sapardi Djoko Damono jarang mengulas diri dan esai. Sekian acara diadakan untuk publik melulu untuk puisi, cerpen, dan novel. Ia memilih mengisahkan diri bersama puisi.

Sapardi Djoko Damono mengenang masa remaja sebagai sedikit demi sedikit, keinginan untuk mengungkapkan yang tak masuk akal muncul kembali. Dan ketika mula-mula sekali menulis puisi, terasa bahwa sudut-sudut yang luput dari teriak dan siul masa kecil mulai hidup kembali dalam kata-kata.

Pada umur belasan tahun itu dia menulis puisi seperti tak pernah berhenti; ternyata begitu banyak sudut yang bisa muncul kembali dalam kata. Ternyata sangat mengasyikkan menyusun dunia kata sedemikian rupa, hanya agar segi-segi yang tak masuk akal bisa terbaca lagi.

Sejak bocah dan remaja, Sapardi Djoko Damono dibingungkan dengan ”masuk akal dalam fiksi”. Ia ingin meragu, membantah, dan memastikan dengan membaca buku-buku dan menulis puisi. Ia agak mirip dengan tokoh penulis dalam novel Yann Martel berjudul Beatrice and Virgil (2012). Tokoh berusaha memilki buku berupa novel dan esai dalam satu edisi.

Pendapat si tokoh bahwa sebuah novel bukanlah gubahan yang sama sekali tak mengikuti nalar, dan sebuah esai pun bukannya kosong imajinasi. Tidak seperti itu pula manusia hidup. Manusia tidak sedemikian kakunya memisahkan yang imajinatif dari yang rasional dalam pikiran dan tindakan mereka.

Ada kebenaran dan ada kebohongan–inilah kategori-kategori yang transenden, dan buku serta kehidupan. Pembagian yang berguna adalah antara fiksi dan nonfiksi yang mengutarakan kebenaran, serta fiksi dan nonfiksi yang mengemukakan kebohongan.

Yann Martel dalam novel tak terlalu moncer di Indonesia itu ingin mengesahkan esai masuk kategori sastra seperti diserukan Sapardi Djoko Damono. Kita mungkin berhak melanjutkan keinginan menjadikan esai itu sastra dengan membaca lagi puluhan esai karya Sapardi Djoko Damono dan membandingkan dengan esai-esai yang pernah membentuk alur sastra dan keintelektualan di Indonesia.

Kita bisa membuka lagi buku dua jilid berjudul Horison Esai Indonesia (2003) terbitan Horison.  Di buku dua jilid tebal itu kita memilih mengutip esai Ignas Kleden berjudul Sastra Indonesia dan Saya: Sebuah Perjumpaan.

Ignas Kleden sering menulis bertema ilmu-ilmu sosial di Prisma, Kompas, dan Tempo. Corak esai bercap sastra paling terbaca dalam kolom-kolom di Tempo. Ignas Kleden pun sering menulis esai bertema sastra dan membuat kata pengantar di buku-buku sastra. Di mata Sapardi Djoko Damono, esai-esai Ignas Kleden itu terpuji.

Kita pantas mengutip biografi Ignas Kleden sanggup rajin menulis esai bermutu sastra. Ignas Kleden selalu membaca sastra dan berusaha mencari waktu dan kesempatan untuk itu, karena sastra merupakan suatu dunia tempat dirinya dapat meremehkan kembali hal-hal yang dianggap begitu penting dalam kehidupan sehari-hari (seperti uang, popularitas, status dan jabatan) dan dapat membuat dirinya menyadari kembali pentingnya hal-hal kecil dan indah yang tenggelam dalam gemuruh rutinitas.

Sapardi Djoko Damono berpamitan kepada kita dan dunia. Esai-esai sudah diwariskan meski kita ”tertunda” membaca setelah terlena dengan puisi-puisi yang memikat dan teringat.

 


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini