Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Emerson Yuntho Keluhkan Pungli di Samsat, Mahfud Md: Konkret Saja, Sebut!

Menko Pohukam Mahfud Md minta Emerson Yuntho untuk menyebut nama samsat yang masih melakukan praktik pungli agar bisa ditindak.
SHARE
Emerson Yuntho Keluhkan Pungli di Samsat, Mahfud Md: Konkret Saja, Sebut!
SOLOPOS.COM - Pegiat antikorupsi, Emerson Yuntho. (detik.com)

Solopos.com, JAKARTA — Sejumlah pihak masih mengeluhkan terjadinya pungutan liar di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat). Salah satunya adalah pegiat antikorupsi, Emerson Yuntho, yang lantas menuliskan surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dia meminta kepada Jokowi membenahi praktik pungutan liar (pungli) di lingkungan Samsat dan Satuan Administrasi SIM (Satpas).

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

“Bapak Presiden, saya adalah warga yang lebih 20 tahun merasa resah dan prihatin dengan pelayanan publik, khususnya di Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (Samsat) dan Satuan Administrasi SIM (Satpas), yang hingga saat ini belum bebas dari praktik pungutan liar dan percaloan,” kata Emerson dalam surat terbuka yang diterima wartawan, Rabu (15/9/2021).

Menurut Emerson, praktik pungli telah terjadi hampir merata di Samsat dan Satpas seluruh Indonesia. Dia menyebut telah mendapatkan keluhan serupa dari masyarakat.

Baca Juga: Cara Gunakan Samsat Digital Nasional, Terintegrasi 15 Provinsi

“Terkait layanan administrasi kendaraan di Samsat, warga sering kali dipaksa atau terpaksa melakukan tindakan melanggar hukum dengan cara menyuap atau memberikan uang (gratifikasi) kepada oknum petugas. Membayar sesuatu tidak semestinya dan tanpa bukti penerimaan yang sah,” jelas Emerson.

Tanggapan Mahfud Md

Keluhan itu ditanggapi Menko Polhukam, Mahfud Md. Ia meminta Emerson menulis masalah tersebut secara konkret. Hal itu disampaikan Mahfud melalui akun Twitter-nya, @mohmahfudmd. Mahfud menanggapi surat Emerson yang diunggah pada 14 September lalu.

“Mas Eson, yang konkret saja, Samsat mana, pelaku dan korbannya siapa. Kalau kebijakan kan sudah jelas, sudah ada aturan dan jejaring pengawas,” kata Mahfud, Rabu (22/9/2021).

Dia meminta Emerson langsung menyebut kasusnya agar bisa ditindak langsung. Emerson dalam hal ini sudah dipanggil oleh Saber Pungli.

“Yang konkret saja kasusnya, biar bisa langsung ditindak. Anda kan sudah dipanggil ke Kantor Saberpungli. Ok, kita perbaiki, keperluan kita sekarang menindak,” lanjutnya.

Baca Juga: Jateng Berlakukan Pemutihan Denda Pajak Kendaraan Bareng 7 Provinsi

Emerson menanggapi jawaban Mahfud tersebut. Menurutnya, masalah ini tidaklah parsial hanya sebatas menindak.

“Pak @mohmahfudmd yang baik, konsen saya penyelesaiannya ‘masalah yang dianggap kecil’ ini tidak parsial & semusim sebatas menindak 1, 2 orang pelaku. Korban belum tentu mau bersaksi atau lapor (takut/uang kecil). Tapi fakta ini sudah banyak diungkap di medsos masyarakat sebagai korban,” ujar Emerson.

Hamilton dan Rossi

Dalam surat terbukanya, Emerson juga menyebut pebalap top seperti Lewis Hamilton dan Valentino Rossi disebut tak mungkin mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) di Indonesia. Menurutnya, hal ini lantaran ujian teori dan ujian praktik dalam proses pembuatan SIM kerap tidak masuk akal dan transparan.

“Dengan model ujian praktik seperti ini, publik percaya Lewis Hamilton akan gagal mendapatkan SIM A dan Valentino Rossi juga tidak mungkin memperoleh SIM C di Indonesia,” kata Emerson.

Baca Juga: Tak Perlu Ribet, Ini Cara Tepat Cabut Berkas STNK Kendaraan Bermotor

“Akibat sulitnya prosedur mendapatkan SIM, survei sederhana menunjukkan bahwa 3 dari 4 warga Indonesia (75 persen)–baik sengaja atau terpaksa–memperoleh SIM dengan cara yang tidak wajar (membayar lebih dari seharusnya), menyiapkan petugas, tidak mengikuti prosedur secara benar,” terang Emerson.

Untuk itu, Emerson meminta Jokowi melakukan pembenahan secara menyeluruh terhadap praktik pungli di Samsat dan Satpas. Dia pun mendesak Menko Polhukam dan Kapolri dilibatkan dalam pemberantasan pungli tersebut.

“Oleh karenanya, kami meminta kepada Bapak Presiden Joko Widodo untuk membenahi Samsat dan Satpas secara extraordinary dan tidak dengan cara biasa-biasa yang telah terbukti gagal. Bapak Presiden bisa perintahkan Menko Polhukam dan Kapolri untuk bereskan masalah ini secara permanen sehingga tidak terjadi di kemudian hari,” tutur Emerson.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode