[x] close
Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Jelajah Museum Sangiran, Petilasan Jaka Tingkir & Sumber Air Asin 
Solopos.com|soloraya

Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Jelajah Museum Sangiran, Petilasan Jaka Tingkir & Sumber Air Asin 

Kali ini Tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja memilih berwisata ke sebelah utara Kota Solo, tepatnya ke kawasan situs purbakala Sangiran di Sragen, Jawa Tengah.

Solopos.com,  SRAGEN – Akhir pekan menjadi waktu yang tepat untuk menikmati waktu santai bersama keluarga, teman, atau pacar dengan kegiatan apa pun, termasuk wisata edukasi. Bagi saya pribadi, setiap perjalanan yang dilalui wajib memberikan kenangan yang berkesan.

Bepergian ke tempat baru sekaligus mempelajari sesuatu yang baru menjadi poin utama saya saat merencanakan liburan. Nah, kali ini saya bersama Adhika Ali memilih berwisata ke sebelah utara Kota Solo, tepatnya ke kawasan situs purbakala Sangiran di Sragen, Jawa Tengah.

Perjalanan ini kami lakukan pada Sabtu (10/4/2021) siang dalam rangkaian Ekspedisi KRL Solo-Jogja yang digelar Solopos Group bersama PT KAI Commuter, Badan Otorita Borobudur (BOB), dan Perum Peumnas.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Berburu Kuliner Langka di Pasar Gede, Murah dan Wareg Polll!

Sudah menjadi kebiasaan bagi saya mencari berbagai informasi sebelum berangkat ke suatu tempat baru. Ini memang bukan kali pertama saya datang ke Museum Sangiran. Kalau tidak salah ingat pada Agustus 2018 lalu saya sempat piknik ke Museum Sangiran bersama sahabat. Jadi, setidaknya saya sudah punya gambaran informasi apa yang ingin saya gali lebih dalam ketika tiba di Museum Sangiran.

Malam sebelum berangkat, Jumat (9/4/2021), saya menghubungi senior saya di Solopos yang bertugas di Sragen, Moh. Khodiq Duhri. Saya pun meminta informasi dari dia tentang Sangiran dan objek wisata di sekitarnya. Karena saya ingat betul wilayah itu susah sinyal, sehingga saya merasa perlu janjian dulu dengan pamong desa setempat dan pengelola museum.

Mas Duhri juga sempat mengatakan kalau ada objek wisata lain di Sangiran yang sedang dikembangkan masyarakat setempat, yaitu Punden Tingkir dan Sumber Mata Air Asin.

Deket Sangiran ada Punden Tingkir, ada spot selfie di sana. Ada juga mata air asin, tapi belum digarap maksimal. Coba aja ke sana,” kata dia.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Asyiknya Belanja Rewo-Rewo & Nonton Atraksi Pande Besi di Pasar Gawok

Tak ketinggalan Mas Duhri memberikan nomor kontak Kades Krikilan serta Carik Sangiran untuk saya hubungi. Lengkap. Saya bisa tidur dengan nyenyak malam ini sebelum besok jalan-jalan ke Sangiran.

Sabtu pagi sebelum berangkat saya pun menghubungi Dody Wiranto, Pamong Budaya Museum Sangiran, untuk janjian dan meminta izin liputan. Sebab, menurut jadwal hari ini adalah uji coba pembukaan terbatas Museum Sangiran setelah setahun lebih digempur pandemi.

Yeay... tak butuh waktu lama menunggu, Mas Dody membalas pesan Whatsapp dan mempersilakan tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja berkunjung ke Sangiran. Saya juga sudah janjian dan mendapat izin dari Pak Kades Krikilan dan Pak Carik Sangiran. Yuk kita come on...

transjateng
Tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja, Chelin Indra Sushmita, berbincang dengan penumpang BRT Transjateng menuju ke Sangiran. (Solopos TV/Adhika Ali)

Naik BRT Transjateng

Kami menumpang bus rapid transit (BRT) Transjateng rute Solo-Sumberlawang menuju ke Sangiran. Perjalanan naik bus kami tempuh dalam waktu 30 menit, cukup singkat memang karena jarak Kota Solo ke Museum Sangiran di Desa Krikilan, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah, hanya 15 km.

Kami turun di Sub-terminal Sangiran yang masih dalam tahap pembangunan. Dari sana kami menumpang angkutan yang dikelola warga sebagai akses menuju ke museum dengan tarif Rp2.000 per orang.

Angkutan itu berupa mobil pikap yang dimodifikasi sedemikian rupa. Namun saya melihat ada yang janggal dari mobil berwarna hijau gelap dengan tulisan Sangiran di depannya. Mobil tersebut berpelat merah, hlo kok kendaraan pelat merah jadi angkutan yang bertarif?

Rasa penasaran membuat naluri kepo dalam diri jurnalis saya terkoyak. Saya pun bertanya kepada sopir yang ternyata adalah pegawai Museum Sangiran sekaligus Ketua Pokdarwis Purba Budaya Desa Wisata Sangir, Wijanto.

Dia pun mengatakan mobil itu milik Museum Sangiran yang biasa dipakai sebagai kendaraan operasional penelitian. Dia meminjam kendaraan tersebut sebagai angkutan penumpang untuk memberikan contoh kepada masyarakat setempat agar segera mendirikan paguyuban yang menyediakan jasa transportasi kepada pengunjung sebagai akses masuk Museum Sangiran dari sub terminal.

"Kendaraan ini saya pinjam. Saya berharap masyarakat segera bikin paguyuban untuk menyediakan jasa transportasi, karena sekarang ada sub terminal dan akses ke Sangiran ini semakin mudah dengan adanya BRT Transjateng," jelas dia.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo Jogja: Piknik ke Sangiran Naik Transjateng, Gayeng Lur!

Oalah ternyata begitu ceritanya. Pengelolaan Museum Sangiran kini telah berbenah. Pengunjung tidak boleh parkir di dalam kawasan museum, melainkan di sub-terminal Sangiran di Desa Sangiran. Dari sana, pengunjung bisa berjalan kaki sekitar 500 meter atau menumpang angkutan yang sebentar lagi dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

“Kami bersyukur sekali adanya BRT Transjateng program Pak Ganjar [Gubernur Jateng] ini menjadi pendorong bagi warga untuk berbenah. Biasanya warga itu hanya sebagai penonton, Mbak. Artinya tidak ada yang didapatkan dari adanya museum ini. Tetapi sekarang dengan adanya sub-terminal ini kami bisa mendorong masyarakat untuk berbuat sesuatu,” sambung Wijanto.

Mobil penelitian Museum Sangiran yang sementara difungsikan sebagai angkutan penumpang. (Solopos/Chelin Indra Sushmita)

Masuk Museum Sangiran

Sesampainya di Museum Sangiran, kami pun diarahkan oleh petugas untuk mencuci tangan sebelum masuk ke dalam. Kemudian mereka mengukur suhu tubuh kami dan mengingatkan tentang prosedur jaga jarak. Petugas juga menjelaskan aturan baru berkunjung ke Museum Sangiran pada uji coba pembukaan terbatas.

Dalam tahap uji coba yang dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan, jumlah pengunjung dibatasi hanya 100 orang per hari. Setiap pengunjung yang masuk ke museum dibatasi waktu 30 menit. Mereka wajib didampingi pemandu lokal yang berada di Museum Sangiran untuk berkeliling secara berkelompok yang maksimal terdiri dari 10 orang. Harga tiket masuk ke museum sangat terjangkau, hanya Rp8.000 per orang.

Setelah mendapat penjelasan tersebut, tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja dipersilakan masuk dan bertemu dengan Kepala Balai Penelitian Situs Manusia Purba Sangiran, Iskandar Mulia Siregar. Dia mengatakan jumlah pengunjung museum di hari pertama uji coba pembukaan terbatas ini cukup banyak, mengingat museum tutup sejak 18 Maret 2020 akibat pandemi.

“Kami berharap uji coba ini berhasil dan museum bisa dibuka kembali seperti biasa. Karena adanya museum ini juga berperan penting bagi perekonomian masyarakat setempat,” jelasnya.

Dalam masa uji coba ini setiap pengunjung yang ingin masuk ke museum harus melakukan reservasi terlebih dahulu secara online melalui nomor Whatsapp 082324221824 dengan mengirimkan nama, jumlah pengunjung, jam kunjungan, serta dilengkapi dengan foto kartu identitas. Semua informasi tentang museum bisa diakses melalui akun Instagram @sangirankita.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : KRL Gairahkan Wisata dan Buka Pintu Bisnis Baru Kawasan Delanggu

Iskandar menambahkan selama tutup pihak pengelola Museum Sangiran tetap bekerja seperti biasa melakukan pemeliharaan koleksi secara rutin. Bahkan pihak museum juga menggelar tur virtual bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke Sangiran dari rumah.

Pamong Budaya Museum Sangiran, Dody Wiranto, menyampaikan, virtual tur ke Museum Sangiran bisa diakses dengan mudah melalui gadget dengan mengakses laman kebudayaan.kemendikbud.go.id/virtualmuseum/sangiran_ID.

“Bisa banget kalau mau tur virtual. Tinggal akses mandiri. Kalau mau kelompok juga bisa nanti kami ajak tur lewat aplikasi Zoom,” jelas Dody Wiranto.

Dody menjelaskan Museum Sangiran ini sebenarnya memiliki lima klaster atau lima bangunan yang dapat dikunjungi. Mulai dari Klaster Krikilan, Klaster Bukuran, Klaster Ngebung, Klaster Ngebung, dan Klaster Dayu. Namun, selama uji coba terbatas hanya dua museum saja yang dibuka, yaitu Klaster Dayu dan Klaster Krikilan (tempat yang kami kunjungi kemarin).

Museum Sangiran merupakan pusat penemuan fosil makhluk purba terbesar di Indonesia bahkan menjadi yang terlengkap di Asia dan dunia. Selain objek wisata, Sangiran merupakan situs arkeologi yang menjadi tempat penelitian kehidupan pra-sejarah.

Pemandu Lokal

Kami pun menjelajahi situs purbakala ini didampingi seorang pemandu lokal bernama Sukoco. Pemuda asli Sragen, Jawa Tengah ini sudah tiga tahun memandu para pengunjung menjelajahi kehidupan purbakala di Museum Sangiran.

Mas Sukoco yang siang itu memakai seragam merah lengkap dengan ikat kepala wiro sangir khas Sangiran mengawali tur kami dengan memberikan penjelasan yang detail tentang situs purbakala Sangiran.

“Selamat siang bapak ibu, perkenalkan nama saya Sukoco. Saya adalah pemandu lokal yang akan memandu Anda berkeliling Museum Sangiran. Sebelum tur dimulai, saya akan memberikan pengantar tentang situs purbakala ini. Museum Sangiran Klaster Krikilan merupakan situs purbakala yang terlengkap. Berdasarkan hasil penelitian para ilmuwan, kawasan Sangiran dulunya berupa laut, kemudian berkembang menjadi rawa-rawa dan berubah menjadi daratan seperti saat ini,” tutur Sukoco mengawali tur kami.

Sukoco, salah satu pemandu lokal di Museum Sangiran.
Sukoco, salah satu pemandu lokal di Museum Sangiran. (Solopos/Chelin Indra Sushmita)

Dia kemudian membawa kami masuk ke dua ruang pamer di Museum Sangiran untuk melihat peninggalan sejarah masa lampau tentang asal-usul manusia.

Penjelasan Sukoco dan pemandu wisata lainnya yang saya temui siang itu, Marwandi, membuat saya kagum. Usia Sukoco memang masih muda, sementara Marwandi sudah paruh baya. Namun penjelasan mereka berdua sama-sama detail dan memuaskan para pengunjung yang ingin belajar sejarah di Sangiran.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Serunya Mengeksplorasi Keindahan Candi Prambanan hingga Candi Sewu

Saya kemudian bertanya kepada mereka berdua tentang keberadaan pemandu lokal di Sangiran yang tidak saya temui pada 2018 lalu.

“Di sini ada 12 pemandu lokal mbak. Kami sebelumnya diberi pelatihan dan menjalani uji kompetensi untuk mendapat sertifikat sebagai pemandu lokal,” terang Sukoco dan Marwandi.

Para pemandu lokal ini mulai bekerja di Museum Sangiran sejak tiga tahun lalu. Mereka mendapatkan bayaran dari para pengunjung. Jika kalian sedang ke Sangiran, maka manfaatkan jasa pemandu lokal ini, tarifnya sekitar Rp50.000 untuk satu rombongan yang terdiri dari 10-20 orang.

Jajan di Kafetaria Anti-Mahal Club

Setelah puas berkeliling museum, kami berisitirahat sejenak di halaman parkir yang rindang. Di belakangnya ada kafetaria dan penjual cenderamata khas Sangiran. Lantaran kami datang di hari pertama pembukaan museum dan pada kloter terakhir, maka suasana sekitar cenderung sepi. Oh iya, selama masa uji coba ini Museum Sangiran buka setiap Selasa-Minggu pukul 09.00 WIB hingga 14.00 WIB.

Kami kemudian mampir ke kafetaria di Museum Sangiran yang menjual aneka makanan dengan harga terjangkau. Sejauh pandangan mata saya, ada sekitar 10 warung yang berjajar. Namun siang itu hanya tiga yang masih buka. Saya kemudian mampir ke warung Bu Sarwanti yang berdampingan dengan warung Bu Siti.

Saya memesan seporsi gado-gado dan secangkir kopi panas tanpa gula untuk mengisi perut. Sementara Dhika memesan nasi pecel telur dengan minuman favoritnya, es teh kampul. Sembari makan dan melepas penat, kami pun berbincang dengan pemilik warung.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja : Berbagi Kasih nan Romantis di KRL Solo-Jogja

Bu Siti berharap museum segera dibuka kembali untuk menambah pemasukan. Selama setahun lebih museum tutup, dia pun bekerja sebagai penjahit di rumah.

“Setahu tutup saya njahit di rumah, Mbak. Enggak cuma menggantungkan penghasilan dari sini saja. Kami jualan ini sekaligus untuk hiburan, biar enggak suntuk di rumah,” katanya sambil terkekeh.

Harga makanan di kafetaria itu seragam, mulai Rp8.000 sampai Rp12.000 saja. Sementara minuman dijual mulai Rp4.000 sampai Rp5.000. Harga yang ramah di kantong dan tidak ngepruk kalau kata orang Jawa. Apalagi rasa makanannya pun oke untuk lidah saya yang cerewet soal kuliner. Maklum ya, saya biasa masak dan mami saya pun juru masak andal. Jadi saya cenderung pemilih kalau soal makanan.

Desa Wisata Dewi Sangir

Setelah mengisi perut, saya dan Dhika melanjutkan perjalanan ke rumah Carik Sangiran, Pak Aries, yang sudah saya hubungi sebelumnya. Di pintu gerbang museum saya bertemu lagi dengan Pak Wijanto. Saya pun meminta diantarkan ke rumah Pak Carik yang ternyata tetangganya.

Jadilah Pak Wijanto sebagai tur guide kami selama di Sangiran. Rumah Pak Carik Aries ini dekat dengan sub-terminal Sangiran. Sesampainya di sana, kami pun disambut hangat di pendopo yang biasa dipakai latihan senni karawitan.

Pak Aries menceritakan betapa banyak potensi di Desa Wisata Dewi Sangir yang belum tergali maksimal, namun perlahan warga mulai berbenah. Jika dulu warga hanya sebatas menjadi penonton, kini warga bisa berbuat sesuatu untuk menyejahterakan diri dengan menjadikan museum sebagai daya tarik.

“Dulu itu kan masyarakat cuma jadi penonton. Pengunjung ke Sangiran masuk langsung parkir di dalam. Kami dapat apa? Cuma nonton saja. Kalau sekarang ada sub-terminal ini, kami bisa berbuat banyak hal. Dari sub-terminal nanti masyarakat akan kami dorong bikin paguyuban angkot. Selain itu kami juga akan menawarkan paket wisata di Dewi Sangir. Ada area outbond di Punden Tingkir dan ada juga sumber mata air asin yang sedang kami kembangkan,” terang Aries Rustioko, Carik Sangiran.

Punden Tingkir

Pak Aries dan Pak Wijanto kemudian mengajak tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja menjelajahi Punden Tingkir, tempat petilasan Jaka Tingkir yang dekat dengan museum. Tempat wisata itu berupa bukit yang ditempati beberapa makam kuno. Pemerintah desa setempat mengembangkan potensi wisata itu dengan mendirikan beberapa bangunan instagramable sebagai spot selfie.

Makam kuno di Punden Tingkir
Makam kuno di Punden Tingkir. (Solopos/Chelin Indra)

Butuh tenaga ekstra untuk melihat makam kuno yang berada di atas bukit dengan menaiki puluhan anak tangga. Saya yang sudah cukup lelah tiga hari full jalan-jalan agak ngos-ngosan naik turun bukit.

Kami juga melihat taman bermain dan arena outbond di kawasan Punden Tingkir. Sayangnya, tempat wisata itu kini kurang terawat karena sepi pengunjung akibat pandemi Covid-19. Meski demikian masih ada beberapa orang yang berkunjung ke tempat yang berada di kawasan permukiman penduduk. Akses jalannya pun naik turun, sehingga kalian harus ekstra hati-hati.

Sumber Mata Air Asin

Kemudian kami juga diajak melihat sumber mata air asin yang menjadi bukti sejarah bahwa Sangiran dulunya berupa lautan. Dalam bayangan saya, sumber mata air itu berada di tempat yang sudah dibangun secara permanen seperti di Sapta Tirta Pablengan Matesih.

Namun, bayangan saya seketika lenyap saat Pak Wijanto melepas sepatu pantofel hitam yang dikenakannya setibanya kami di sub-terminal Sangiran. Dia bilang sumber mata air itu berada di belakang sub-terminal. Padahal di belakang sub-terminal saya melihat hamparan kebun pisang cavendish dan persawahan.

Apakah ini artinya kami harus berjalan menyusuri kebun dan pematang sawah untuk melihat sumber air asin? Ternyata dugaan saya benar. Pak Wijanto kemudian meminjam sandal milik salah satu pekerja yang sedang memasang paving block di sub-terminal. Bahkan ada salah satu dari mereka yang meminjamkan sandalnya kepada saya.

Pak Aries dan Pak Wijanto kemudian memandu saya dan Dhika menyusuri kebun bertanah gembur untuk menuju ke sumber air asin. Sesekali Pak Aries berkata, “hati-hati, mbak. Tanahnya gembur nanti ambles kakinya.”

Pak Aries pun menyampaikan rencananya membangun jalan setapak sebagai akses menuju ke sumber mata air asin itu untuk menarik pengunjung. Setelah berjalan sekitar 10 menit, jalannya agak lama karena saya ndeso sih enggak pernah jalan-jalan di kebun dan sawah, kami sampai di tempat yang dituju.

Carik Sangiran, Aries Rustioko, menunjukkan sumber mata air asin di Sangiran
Carik Sangiran, Aries Rustioko, menunjukkan sumber mata air asin di Sangiran. (Solopos/Chelin Indra Sushmita)

Saya pun kaget saat mengetahui bahwa sumber air asin itu seperti parit atau genangan kecil yang berbuih. Blukutuk blukutuk blukutuk, itulah yang menjadi penanda keberadaan air asin.

“Ini mbak yang ada blukutuk blukutuk-nya itu sumber air asinnya,” kata Pak Aries dan Pak Wijanto hampir berbarengan.

Untuk melihat dan membuktikan rasa air yang asin itu saya harus turun ke bawah dengan kondisi tanah yang agak becek dan sulit berpijak. Tetapi karena sudah kepalang tanggung, saya pun turun dari pematang sawah tempat berpijak ke bawah dengan berpegangan pada batang pohon talok atau kersen yang tumbuh di sekitar sumber mata air.

“Ini aman pak dicicipi? Saya takut kena-napa,” tanya saya kepada dua pria asli Sangiran itu. “Aman, mbak. Dijilat saja, dirasakan asin betulan atau tidak,” kata mereka berdua.

Saya kemudian menempelkan ujung jari telunjuk ke sumber air tersebut lalu mencicipinya. Benar, rasa airnya agak asin.

“Asin kan mbak? Itulah salah satu bukti bahwa Sangiran ini dulunya lautan,” kata Pak Wijanto.

Setelah itu kami pun kembali ke sub-terminal dengan menyusuri kebun yang sengaja ditanami pisang cavendish untuk mencukupi kebutuhan produksi UMKM lokal.

“Ini memang sengaja ditanami pisang untuk mencukupi produksi UMKM lokal. Nantinya kami juga akan mengembangkan agrowisata petik pisang. Jadi pengunjung ke Sangiran bukan cuma masuk museum saja, tetapi juga mampir ke wisata di sekitarnya. Harapan kami begitu, bukan kok apa yang masyarakat dapatkan dari museum. Tetapi apa yang bisa kita perbuat dengan adanya museum ini,” jelas Pak Aries.

Baca juga: Ekspedisi KRL Solo-Jogja: Drama Es Teh Kampul di Soto Lenthok Pasar Lempuyangan Jogja

Tak terasa kami sudah berkeliling Sangiran lebih dari tiga jam. Tiba saatnya kami kembali ke Solo untuk mengakhiri Ekspedisi KRL Solo-Jogja. Kami pun mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Pak Aries dan Pak Wijanto.

“Terima kasih banyak, pak kami diajak jalan-jalan. Pengalaman yang luar biasa. Saya harap Desa Wisata Dewi Sangir ini semakin maju. Karena kalau dilihat sudah banyak homestay dan penginapan di sini. Tinggal nanti dikembangkan potensi yang ada,” kata saya sebelum berpisah.

“Siap, mbak. Setahun lagi mainlah ke sini. Saya yakin Sangiran sudah berkembang pesat. Mohon doa dan dukungannya ya mbak,” jawab Pak Aries.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Wijanto yang dengan sabar dan ikhlas membantu kami menjelajahi Sangiran, situs purbakala yang menyimpan potensi luar biasa. Kalau kalian ingin menjelajahi tempat yang kami kunjungi, tinggal kontak saja warga sekitar. Mereka dengan senang hati akan mengantarkan kalian ke tempat yang dituju.

Oleh-Oleh Spesial dari Sangiran

Terima kasih juga saya sampaikan kepada Pak Iskandar yang mengizinkan kami menjelajahi keindahan Museum Sangiran. Wabil khusus terima kasih untuk Mas Dody yang memberi saya oleh-oleh spesial dari museum.

Sungguh perjalanan yang luar biasa menggali potensi Sangiran, calon desa wisata yang menyimpan segudang pesona. Setelah berpamitan, kami pun menunggu BRT Transjateng di halte sub–terminal. Sembari menunggu saya membeli segelas es jeruk dan es teh kampul favorit Dhika di belakang halte untuk mengguyur kerongkongan yang kering.

museum sangiran
Tim Ekspedisi KRL Solo-Jogja bersama Carik Sangiran, Aries Rustioko (dua dari kiri), dan Ketua Pokdarwis Purb Budaya Sangiran, Wijanto (kanan). (Istimewa)

Ibu-ibu penjual es itu pun menanyakan dari mana kami berasal. Sejenak saya berbincang dengan si ibu yang hidup sebatang kara dan berjualan es di terminal untuk mengisi waktu dan mencari pengidupan.

Mata si ibu yang saya lupa namanya itu berkaca-kaca saat menceritakan pahit getir kehidupan yang dia jalani. Tak terasa bus yang saya tunggu tiba. Saya pun berpamitan dan si ibu mengucapkan terima kasih sambil mendoakan saya, “terima kasih mbak, sudah dilarisi. Semoga selamat sampai tujuan. Kalau ada waktu mampirlah ke sini lagi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Saya mengangguk dan melambaikan tangan kemudian naik ke bus menuju ke Solo. Perjalanan ke Solo kami tempuh sekitar 40 menit, karena jalanan di sore hari lebih padat. Kami bahkan sempat terjebak macet di simpang tujuh Joglo sebelum sampai di Terminal Tirtonadi.

Dari terminal saya dan Dhika kembali melintasi Sky Bridge menuju ke Stasiun Solo Balapan, pintu masuk ke KRL Solo-Jogja. Tidak terasa ya, sudah tiga hari kami berdua mengajak kalian semua jalan-jalan ke berbagai tempat wisata yang bisa diakses dengan mudah dari stasiun pemberhentian KRL.

Menurut kalian, bagaimana perjalanan kami? Seru enggak sih? Semoga cerita perjalanan kami bisa menjadi panduan bagi kalian ya. Sampai jumpa pada ekspedisi selanjutnya...



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago