Ekonom Indef Menyebut Food Estate Bukan Barang Baru
Solopos.com|news

Ekonom Indef Menyebut Food Estate Bukan Barang Baru

Program ini pernah direalisasikan pada era Presiden Soeharto dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Merauke.

Solopos.com, SOLO -- Sejumlah kendala mengadang dalam program Food Estate, mengingat lokasi merupakan lahan bukaan baru. Kendalanya seperti masalah aksesibilitas dan pengairan. Sumber air cukup sulit ditemukan. Ada mata air, tetapi di kedalaman puluhan meter. Air tersebut yang diangkat untuk pengairan.

Sementara itu, ekonom Indef Bhima menilai food estate bukan barang baru di Indonesia. Program ini pernah direalisasikan pada era Presiden Soeharto dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Merauke.

Dia melihat Presiden Joko Widodo mengimplementasikannya lagi menggunakan sistem hasil evaluasi atau perbaikan sistem Revolusi Hijau pada era Soeharto. Pada program Soeharto berhasil mencapai swasembada pangan selama satu hingga dua tahun, tetapi kemudian terjadi defisit. Pada era SBY tantangannya juga kompleks.

“Tantangannya yang selalu ada adalah bagaimana caranya petani ke depan tetap bisa memiliki akses pasar dan mampu secara pembiayaan, setelah pemerintah tak lagi mengintervensi. Pemerintah tak mungkin akan terus menerus mendampingi,” ucap Bhima.

Baca juga: Food Estate, Menuju Kedaulatan Pangan Meminimalisasi Impor

Tantangan lainnya apakah food estate ini dapat menjadi solusi atas kebijakan-kebijakan impor pangan. Saat ini publik melihat satu sisi pemerintah semangat mengembangkan food estate, tetapi pada sisi lain pemerintah berencana mengimpor beras. Memang belum direalisasikan, tapi saat kebijakan impor diumumkan saja harga gabah “bergetar” di level petani.

“Kalau soal bawang putih agak tricky [rumit]. Karena berdasar data pemenuhuan kebutuhan dalam negeri akan bawang putih, 80 persennya impor dari Tiongkok dan India. Apakah food estate bisa terus menghasilkan bawang putih, itu juga tantangan,” imbuh Bhima.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Tengah, Munaji menyambut baik food estate yang dikembangkan di Sumatra Utara. Menurut dia program tersebut bisa menjadi solusi untuk mengurangi impor komoditas hortikultura. Dia meyakini KTNA Sumatra Utara siap jika diajak berkoordinasi dengan pemerintah dalam mengembangkan food estate.

Baca juga: Kemenristek Bakal Dilikuidasi, Bambang Brodjonegoro Pamit

Mengawal Food Estate

Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan), Prihasto Setyanto mengatakan selama pandemi Covid-19 pemenuhan kebutuhan pangan menjadi masalah.

Hal ini, karena banyak negara-negara di dunia menyetop ekspor komoditas pertanian untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri masing-masing. Sementara, pemenuhan kebutuhan komoditas hortikultura di Indonesia masih banyak yang impor. Terutama komoditas yang belum banyak dikembangkan di dalam negeri, seperti bawang putih. Karena itu pemerintah mengembangkan food estate yang salah satunya mengembangkan bawang putih.

“Kami akan mendampingi dan mengawal pengembangan food estate selama dua tahun sampai bisnis yang dijalankan kelompok usaha bersama [KUB] bisa mandiri. Kami mendirikan posko di lokasi, jadi ada petugas yang selalu siap mendampingi dari soal budi daya hingga pemasaran. Food estate di Sumatra Utara ini menjadi percontohan untuk pengembangan di wilayah lain ke depan,” ulas Prihasto.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago