Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Dulu Pasar Tiban, Pasar Legen Jatinom Klaten Kini Jadi Pusat Barang Bekas Hingga Antik

Pasar Legen di Jatinom, Klaten, yang dulunya pasar tiban kini diramaikan 400-an pedagang yang berjualan aneka barang.
SHARE
Dulu Pasar Tiban, Pasar Legen Jatinom Klaten Kini Jadi Pusat Barang Bekas Hingga Antik
SOLOPOS.COM - Panduan Informasi dan Inspirasi

Solopos.com, KLATEN — Sesuai namanya, Pasar Legen di Lapangan Bonyokan, Desa Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Klaten, hanya buka pada hari pasaran Legi. Pada hari itu lapangan itu mendadak ramai.

Saking ramainya, tak jarang ruas jalan Klaten-Boyolali via Jatinom macet ketika hari pasaran itu tiba. Dari tengah lapangan hingga meluber ke tepi jalan raya Jatinom-Klaten, pedagang bertebaran menjajakan aneka barang.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Mulai dari sepeda, onderdil kendaraan dan perabotan, elektronik, pakaian, peralatan tukang, tanaman, hingga aksesori. Kondisi barangnya pun beravariasi mulai dari baru hingga bekas.

Baca Juga: Terminal Ir Soekarno Klaten Masih Lengang, Karena Larangan Mudik Lebaran?

Dari barang modern hingga barang lawas dan antik dijual di Pasar Legen, Jatinom, Klaten. Pada berbagai sudut pasar, suara pedagang saling bersahutan menawarkan barang yang mereka jual.

Pasar Legen mulai muncul sekitar 2006 lalu. Awalnya, seputaran Lapangan Bonyokan dikenal sebagai pasar sepeda yang hanya buka pada hari Legi meramaikan hari pasaran di Jatinom.

Selain Pasar Legen, ada pula Pasar Hewan dan Pasar Tradisional Jatinom, Klaten, yang buka pada hari pasaran itu. Lokasi pasar sepeda hanya berada pada sisi barat Lapangan Bonyokan.

Baca Juga: Ular Piton Tertangkap Saat Incar Ayam Milik Warga Karanganom Klaten, Panjangnya 5 Meter

Jumlah Pedagang Terus Bertambah

“Kemudian ada pedagang sepeda itu yang punya aneka onderdil kemudian dibawa ikut dijual. Ada onderdil sepeda kayuh ada juga onderdil sepeda motor. Jualannya di luar lapangan. Jadi lapangan belum digunakan untuk jualan,” kata Ketua RT 004/RW 002, Dukuh/Desa Bonyokan, Sartono, 63, saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Jumat (30/4/2021).

Jumlah pedagang yang berjualan di seputaran Lapangan Bonyokan terus bertambah. Tak hanya pedagang sepeda dan onderdil, pedagang pakaian bekas juga bermunculan. “Dari pakaian bekas itu jumlah pedagangnya bertambah banyak,” jelasnya.

Baca Juga: Pemudik Masuk Klaten Tetap Wajib Karantina Meski Bawa Hasil Tes Antigen

Pemerintah Desa Bonyokan lantas menata pedagang Pasar Legen di Jatinom, Klaten, itu dengan menempatkan mereka pada tepian lapangan. Tujuannya, agar lapangan tetap terawat dan bisa digunakan sesuai fungsinya yakni kegiatan olahraga.

Namun, seiring makin terkenalnya Pasar Legen, jumlah pedagang terus bertambah hingga akhirnya meluber ke tengah lapangan hingga tepian jalan raya. Pedagang maupun pembeli berdatangan dari berbagai daerah. Tak hanya Klaten, banyak pedagang yang datang dari kabupaten tetangga seperti Boyolali atau Sukoharjo.

Baca Juga: Tiga Peleton Tim Gabungan Bakal Disiagakan di Jalur Tikus Klaten

Selain dikenal dengan nama Pasar Legen, pasar tersebut dikenal dengan sebutan Pasar Klithikan dan Pasar Tiban. “Disebut Pasar Tiban ya karena pasarnya tiba-tiba ada saat Legi. Di luar Legi sepi. Lapangan ya untuk kegiatan biasa seperti olahraga,” ungkapnya.

Dikelola BUM Desa

Sutarno mengatakan jumlah pedagang di Lasar Legen, Jatinom, Klaten, selama 15 tahun terakhir terus berkembang. Dari semula hanya puluhan pedagang kini menjadi 400-an pedagang. “Dari awalnya hanya sepeda kini jualannya bermacam-macam,” kata Sutarno.

Pasar tersebut sempat dikelola Pemkab Klaten. Namun, pemerintah desa meminta agar pasar tersebut bisa dikelola desa. Kini Pasar Legen dikelola desa melalui Badan Usaha Milik (BUM) Desa.

Baca Juga: Bermula Dari Lapangan Voli, Begini Proses Munculnya Wisata Malam Ngembung Wonogiri

Salah satu pedagang, Widodo, 56, mengaku sudah berjualan di Pasar Legen selama 15 tahun. Ia juga menuturkan awalnya pedagang hanya berjumlah segelintir dan berjualan di sisi barat pasar.

“Awalnya saya ikut jualan di pinggir sisi barat lapangan. Kemudian ada pengundian lokasi jualan dan saya pindah jualan ke sisi utara. Saya akhirnya memilih pindah keluar dan sekarang diminta jualan di dalam lagi,” kata warga Kelurahan Jatinom tersebut.

Baca Juga: Kisah Pramugari Cantik Asal Solo: Dulu Ditolak Maskapai Lokal, Kini Sukses Di Emirates Airlines

Widodo juga menjelaskan pedagang Pasar Legen, Jatinom, Klaten, hanya muncul saat hari Legi pada penanggalan Jawa. Di luar hari itu, pedagang berjualan di tempat lain.

“Saya biasanya keliling. Kalau hari pasaran Pahing dan Wage saya jualan di Pasar Pengging Boyolali. Pon ke Pasar Luluhwatu, Karangnongko. Kliwon terutama Minggu Kliwon saya jualan di Pasar Plembon,” kata pedagang sepatu tersebut.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode