top ear
Ilustrasi kemiskinan. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi kemiskinan. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Dulu Masuk Zona Merah Kemiskinan, Desa Di Sragen Ini Kini Zero RTLH

Sukorejo sempat menjadi salah satu desa yang masuk zona merah kemiskinan di Kabupaten Sragen, namun kini bahkan RLTH pun tak ada.
Diterbitkan Senin, 10/08/2020 - 08:30 WIB
oleh Solopos.com/Tri Rahayu
3 menit baca

Solopos.com, SRAGEN — Sukorejo sempat menjadi salah satu desa yang masuk zona merah kemiskinan di Kabupaten Sragen. Namun, desa itu kini menjelma menjadi satu-satunya desa di Kecamatan Sambirejo, Sragen, yang terbebas dari rumah tidak layak huni (RTLH).

Data yang diperoleh Solopos.com, ada tiga desa di Sragen yang masuk zona merah kemiskinan dan salah satunya Sukorejo. Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Sragen sampai kesulitan memenuhi kuota 25 unit RTLH untuk program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) 2020.

Kepala Disperkim Sragen Raden Suprawoto saat berbincang dengan Solopos.com beberapa hari lalu menyebut hanya Sukorejo yang bantuannya hanya 15 unit rumah dari total kuota 25 unit per desa untuk BSPS 2020.

Woto, sapaan akrabnya, mengatakan Sukorejo hanya 15 unit karena memang tidak bisa menemukan lagi RTLH di wilayah yang sebelumnya masuk zona merah kemiskinan di Sragen itu. “Artinya, dengan bantuan 15 unit itu Sukorejo sudah bebas RTLH pada tahun ini,” ujarnya.

Waduh, Kapolresta Solo Ikut Diserang Saat Lindungi Korban Kericuhan di Mertodranan

Kepala Desa Sukorejo, Sukrisno, saat ditemui Solopos.com di kediamannya, Minggu (9/8/2020), membenarkan hal itu. Sukrisno mengatakan untuk memenuhi kuota BSPS sebanyak 25 unit di Sukorejo sulit karena memang sudah tidak ada RTLH.

Dia mengatakan 310 keluarga miskin di Sukorejo sudah memiliki rumah yang layak huni. Dana Desa (DD) Sukorejo kali terakhir dialokasikan untuk RTLH itu pada 2017 lalu untuk lima unit rumah senilai Rp5,266 juta per unit.

Kriteria RTLH

“Sebelum 2017, pernah mendapat bantuan RTLH dari UPTPK [Unit Pelayanan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan] Sragen dan Dinas Sosial Sragen. Sejak 2018 sudah tidak menemukan rumah yang memenuhi kriteria untuk bantuan RTLH,” ungkapnya.

Serahkan Rekomendasi Ke Gibran-Teguh, Kader PSI Solo Ngonthel Dari Mojosongo ke Stadion Sriwedari

Dia menerangkan sejak 2018-2020 DD tidak lagi mengalokasikan anggaran untuk pembangunan RTLH karena sudah cukup sulit mencari RTLH di Sukorejo. Kendati tak ada RTLH di Sukorejo, Sragen, pemerintah desa masih mencatat ada 310 keluarga di zona kemiskinan dan tercatat masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).

Mereka ini yang menerima bantuan program sembako dan program keluarga harapan (PKH) secara rutin. Seorang warga di Dukuh Pondok RT 012, Desa Sukorejo, Bagus Singgih Ardiansyah, 23, merupakan keluarga baru yang dikaruniai seorang anak.

Singgih dan istrinya, Santi, 20, untuk sementara menumpang di rumah orang tuanya. Singgih sudah mengumpulkan material berupa batu dan kayu untuk membangun rumah sendiri.

Tambah 1 Lagi Kasus Kematian Akibat Covid-19 Di Solo, Dari Sudiroprajan

Singgih senang bisa mendapatkan BSPS dari Disperkim Sragen senilai Rp17,5 juta. Bantuan tersebut terdiri atas bahan material bangunan senilai Rp15 juta dan sisanya Rp2,5 juta untuk upah tukang dan tenaga.

Usaha Pemancingan

“Kalau tidak mendapat bantuan ya mungkin dua tahun lagi baru bisa membangun rumah. Kami senang dapat bantuan. Kapan lagi bisa bangun rumah kalau tidak dapat bantuan. Kami memang masuk keluarga tidak mampu karena setiap bulan mendapat bantuan program sembako dari pemerintah,” ujar Singgih yang bekerja sebagai buruh giling batu.

Banteng Solo Bergerak Endus Adanya Upaya Bersih-Bersih Pendukung Gibran di Struktur Ranting PDIP

Selain bekerja serabutan, Singgih membuka usaha pemancingan dengan memanfaatkan lahan kosong. Adanya wabah Covid-19 membuat pemancingannya sepi. Singgih tertarik dengan pola integrasi pertanian, perikanan, peternakan, dan pariwisata yang digagas Kades Sukorejo.

“Bagus itu konsepnya. Orang datang mancing bisa langsung masak-masak. Sekarang setiap orang mancing hanya membayar Rp30.000/kg. Untuk ke sana ya butuh modal,” tuturnya.


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini