Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Dukung Pengentasan Kemiskinan, Pemkab Boyolali Gabungkan 2 Program Sekaligus

Pemkab Boyolali menggabungkan program pendataan dan penanggulangan kemiskinan bernama Registrasi sosial ekonomi (Regsosek) dan monitoring center for development (MCD).
SHARE
Dukung Pengentasan Kemiskinan, Pemkab Boyolali Gabungkan 2 Program Sekaligus
SOLOPOS.COM - Ilustrasi kemiskinan. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)

Solopos.com, BOYOLALI — Registrasi sosial ekonomi (Regsosek) dan monitoring center for development (MCD) di Boyolali akan berjalan beriringan dalam upaya menyajikan data kemiskinan yang real di Boyolali.

Bupati Boyolali, M. Said Hidayat mengatakan sebelum ada Regsosek, Kabupaten Boyolali sudah melakukan pendataan lebih awal melalui program MCD

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

“Itu [MCD) adalah upaya untuk petan-petan data yang bertujuan agar kami mampu menemukan data dalam kondisi real, tentang apa yang harus kami tangani bersama. Terutama adalah urusan sosial, masyarakat, dan lebih fokus lagi pada upaya menurunkan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraab masyarakat,” ucap dia dalam rapat koordinasi di Front One Hotel Airport, Rabu (21/9/2022).

Said mengatakan MCD yang dilakukan bertahap oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali sudah menunjukkan hasil yang baik.

Said mengatakan, berdasarkan data BPS, angka kemiskinan Boyolali masih di atas 10,62% dibandingkan angka sebelumnya yakni 10,18% . Sementara, angka sebelumnya lagi yakni 9,53%.

Baca juga: Pengumuman! 1.807 Orang Lolos Seleksi Petugas Survei Sosial Ekonomi Boyolali

Said mengklaim gerak langkah bersama dalam konteks MCD, telah mampu menunjukkan hasil yang positif. Dari angka 10,62%, kini mulai turun menjadi 10,35%.

“Kami cek lagi turun, semua bergerak kompak, turun lagi di angka 9,62%, semakin kencang lagi, maka kemiskinan di Kabupaten Boyolali beberapa waktu yang lalu 9,00%. Warga masyarakat miskin ini, catatan Pemerintah Kabupaten Boyolali sudah di angka 84.264 penduduk,” ucap dia

Menurut Said, MCD bisa melakukan koreksi jumlah kemiskinan di Boyolali yang terbilang besar, dari data BPS yang sebelumnya menyajikan sekitar 1 juta penduduk lebih.

“Yang meninggal tidak dilaporkan kemarin disampaikan ada sekitar 18 atau lebih. Yang memang tidak bisa laporan, tapi tercatat. Itu terkoreksi turunlah data nya. Kabar yang mengembirakan bagi kami semua. Karena kalau di presentasi itu di angka 8,04%,” ucap dia.

Said mengatakan melalui pembenahan data tersebut, bisa menunjukkan kondisi sesungguhnya. Dari Regsosek dan MCD yang sama itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali memberikan dukungan untuk kegiatan Regsosek 2022 yang akan dilakukan BPS Boyolali.

Baca juga: Sabar Ya! Hasil Seleksi Petugas Survei Sosial Ekonomi di Boyolali Ditunda

“Setidaknya nanti akan muncul data pembanding yang hadir dari BPS dan juga data-data yang berdasarkan dari MCD. Dengan begitu ke depan akan semakin mendekatkan pada data-data real tentang apa yang harus kami tangani bersama,” ucap dia.

Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BP3D) Kabupaten Boyolali, M. Syawaludin mengatakan MCD menjadi sistem inovasi daerah Boyolali dalam upaya pengentasan kemiskinan melalui data bottom up.

“Misalnya satu desa katakanlah kemiskinannya dibawah 40% , itu kan ekstrean, kemudian kami lakukan pemeringkatan, terus data-data itu minus nya dimana sih, di RTLH nya atau tidak punya jamban kah, atau pendapatannya lah, itu sudah kami lakukan

Sedangkan Regsosek menjadi sistem top-down nya. Karena Regsosek merupakan perintah dari presiden.

Dalam hal ini presiden mencanangkan angka kemiskinan ekstream pada 2024 menyentuh 0%. Harapannya, Regsosek bisa memunculkan data apa saja terkait kebutuhan Kabupaten/Kota yang perlu diintervensi.

Baca juga: Kemiskinan Naik Saat Pandemi, Bupati Boyolali: Pelecut untuk Bangkit

“Yang dikatakan ekstrem itu yang paling bawah. Dipertajam identifikasi permasalahannya, pendidikankah, pendapatankah, RTLH-kah, kondisi rumahnya, ubinnya, dindingnya, itu semua diidentifikasi,” kata Syawaludin.

“Nah itu dilaksanakan Regsosek dalam rangka itu, selain data-data kependudukan, aset kepemilikan, pendidikan, termasuk pendataan bantuan sosial yang sudah diterima,” tambah Syawaludin.

Syawaludin mengatakan MCD menjadi sistem inovasi daerah untuk mendata kemiskinan di Boyolali dan sudah dilakukan, sedangkan BPS masih dalam tahap pendataan awal.

“Karena MCD yang menjadi inovasi daerah sudah dilakukan, sedangkan Regsosek baru pendataan awal. Nanti ketika sudah di verifikasi dan sudah dirilis, data Regsosek diharapkan bisa di overlay. Harapannya ini lebih detail karena mekanisme itu cukup rigid,” ucap dua.

Sedangkan dari MCD sudah berjalan melalui perolehan data kemiskinan melalui laporan di tingkat RT di wilayah Boyolali.

Baca juga: Di Sawit Boyolali, DAPM Dipinjamkan ke Kelompok Usaha Tanpa Jaminan

Meski masih ada kemungkinan margin eror dari MCD, Syawaludin juga menjelaskan MCD akan tetap berjalan dengan intervensi APBD. Sedangkan Regsosek berjalan dengan intervensi pemerintah pusat karena presiden mendukung pengentasan kemiskinan ekstrem.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode