top ear
Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane  (JIBI/Solopos/Antara)
  • SOLOPOS.COM
    Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane (JIBI/Solopos/Antara)

Dua Buronan Kelas Kakap Indonesia Ditangkap di AS, Ini Orangnya...

Neta S. Pane mengemukakan buronan yang telah masuk red notice tersebut yaitu Indra Budiman terkait perkara tindak pidana penipuan dan pencucian uang penjualan Condotel Swiss Bell di Kuta Bali.
Diterbitkan Senin, 3/08/2020 - 23:36 WIB
oleh Solopos.com/Newswire
2 menit baca

Solopos.com, JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Bareskrim Polri menjemput dua buronan Indonesia yang telah lama diamankan Kepolisian Amerika Serikat.

Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, mengemukakan bahwa kedua buronan yang telah masuk red notice tersebut yaitu Indra Budiman terkait perkara tindak pidana penipuan dan pencucian uang penjualan Condotel Swiss Bell di Kuta Bali.

Buronan lainnya adalah Sai Ngo NG yang terlibat kasus tindak pidana korupsi terkait pengajuan 82 KUR fiktif ke Bank Jatim cabang Woltermonginsidi Jakarta Selatan.

Jangan Nongkrong! Nanti Diangkut Ambulans Rendan Indonesia

"Kedua kasus itu terjadi pada Mei 2015 lalu," tutur Neta dalam keterangan resminya, Senin (3/8/2020).

Menurut dia, pemerintah Indonesia bisa memakai sistem mutual legal assistance (MLA) atau hukum timbal balik dan ekstradisi. Caranya dengan cara menukar buronan asal Amerika Serikat yang ditangkap di Polda Bali pekan lalu, dengan dua buronan asal Indonesia tersebut.

"Sayangnya, hingga saat ini para jenderal di Mabes Polri belum merespons penangkapan dua buronan kakap di AS itu. Rupanya para jenderal di Mabes Polri masih terpukau dengan penangkapan Djoko Tjandra," katanya.

Sepekan Operasi Patuh, 4.474 Pengendara di Jateng Diganjar Surat Tilang

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud Md., ternyata tidak terlalu kaget dengan penangkapan buronan Djoko Tjandra. Sejak 20 Juli 2020, Mahfud mengaku sudah tahu  Djoko Tjandra segera ditangkap dan dibawa pulang ke Indonesia.

"Saya tahu, hanya menunggu waktu," kata Mahfud dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (30/7/2020).

Djoko Tjandra merupakan terdakwa kasus pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali senilai Rp904 miliar yang ditangani Kejaksaan Agung. Djoko Tjandra kabur dari Indonesia ke Port Moresby, Papua Nugini, pada 10 Juni 2009, sehari sebelum MA mengeluarkan putusan perkaranya.


Editor : Profile Haryono Wahyudiyanto
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini