top ear

Komisi II DPRD Klaten bersama pejabat DPKPP meninjau lahan percontohan penanaman varietas padi Rojelele Srinuk di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Selasa (17/11/2020). (Solopos.com/Humas Setda Klaten)
  • SOLOPOS.COM
    Komisi II DPRD Klaten bersama pejabat DPKPP meninjau lahan percontohan penanaman varietas padi Rojelele Srinuk di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Selasa (17/11/2020). (Solopos.com/Humas Setda Klaten)

DPKPP Klaten Kembangkan Varietas Rojolele Srinuk di 22 Kecamatan

Kerjasama Pemkab Klaten dengan BATAN telah menghasilkan dua varietas padi Rojolele yaitu Srinuk dan Srinar.
Diterbitkan Jumat, 20/11/2020 - 18:11 WIB
oleh Solopos.com/BC
3 menit baca

Solopos.com, KLATEN – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten bekerja sama dengan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) untuk mengembangkan varietas padi Rojolele Srinuk. Uji coba penanaman varietas padi tersebut dilakukan di 22 kecamatan.

Untuk mengetahui perkembangannya, Komisi II DPRD Klaten bersama Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Klaten meninjau lahan percontohan penanaman varietas tersebut. Lokasi lahan percontohan di Dukuh Ngebong, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Selasa 17 November 2020.

Ketua Komisi II DPRD Klaten Agus Riyanto menyampaikan pihaknya mendengar adanya pengembangan padi Rojolele Srinuk. Oleh karena itu, mereka ingin mengetahui sejauh mana perkembangan dari upaya mengembangkan varietas padi Rojelele Srinuk.

Agus Riyanto mengatakan untuk itu pihaknya mengecek langsung ke lapangan. DPRD Klaten ingin mengetahui perkembangan, dinamika, dan kendala yang dialami petani di lapangan.

“Apa yang bisa diperjuangankan. Supaya beras Rojolele Delanggu yang dulu jadi ikon Klaten benar-benar ada di Delanggu,” kata Agus Riyanto.

DPMPTSP Klaten Jadi Role Model Pelayanan Perijinan Nasional

Agus Riyanto ingin memastikan jika beras yang dijual dalam kemasan dengan merk Rojolele asal Delanggu itu bukan oplosan lagi. Namun benar-benar beras rojolele dari hasil pengembangan varietas baru yang telah dilakukan sejak 2013. Hingga diluncurkan pada 2019 dan dilakukan uji coba penanaman atau percontohan di 22 kecamatan di lahan seluas 162 hektare.

Agus menambahkan usai peninjauan pihaknya akan menindaklanjuti dengan menggelar rapat kerja dalam waktu dekat. DPKPP dan Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten akan diundang dalam rapat itu. Termasuk ketua kelompok petani yang saat ini sedang uji coba menanam padi Rojolele.

Perkembangan Menggembirakan

Sedang Kepala DPKPP Klaten Widiyanti menjelaskan kerjasama Pemkab Klaten dengan BATAN telah menghasilkan dua varietas padi Rojolele. Kedua varietas Rojolele tersebut dinamai Srinuk dan Srinar. Varietas ini telah memenuhi syarat untuk dilepas, hingga akhirnya diluncurkan pada 2019 lalu.

Pelaksanaan panen raya perdana varietas padi Rojolele Srinuk di Klaten. (Solopos.com/Humas Setda Klaten)

Widiyanti mengungkapkan usai varietas ini diluncurkan DPKPP Klaten sebagai dinas teknis menindaklanjutinya dengan uji coba penanaman di 22 kecamatan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana varietas yang telah mengalami modifikasi dan treatment radiasi ini cocok ditanam di seluruh Klaten pada tahun ini.

Widiyanti mengatakan dalam tahap ujicoba penanaman di lahan percontohan, DPKPP Klaten memberikan komponen berupa benih Rojolele sebanyak 25 Kg per hektare. Kemudian 220 Kg pupuk organik padat, serta 4 liter pupuk cair untuk masing-masing lokasi. Selanjutnya, perkembangan varietas padi tersebut terus dipantau hingga musim panen tiba.

Mobilitas Tinggi, Polisi dan Jaksa di Klaten Jalani Tes Swab

Widiyanti juga menyebutkan varietas padi Rojolele hasil inovasi ini telah mengalami perkembangan yang menggembirakan. Jika sebelumnya usia tanam hingga panen sekitar 180 hari, kini menjadi 105 hari. Begitu pula dengan tinggi batangnya, dari 150 cm kini jadi 90 cm. Sedang potensi hasilnya 9 ton gabah kering giling (GKG) per hektare.

Sementara itu, Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto mengemukakan bahwa uji coba penanaman padi rojolele di Delanggu dilakukan di lahan seluas sekitar 4 hektar. Uji coba penanaman dengan sistem tanam jajar legowo.

“Petani berharap, dengan penanaman kembali varietas baru padi Rojolele ini menjadikan Delanggu dikenal sebagai penghasil beras premium,” imbuh Eksan Hartanto.

 

 

 


Editor : Profile Arif Fajar Setiadi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini