DMFI: 340 Ekor Anjing Dipotong Tiap Hari di Jakarta

Meski jumlah anjing yang dipotong di Jakarta lebih kecil dibandinkan di Solo, DMFI meminta pemerintah tetap menindak tegas pedagangan daging anjing yang berpotensi menyebarkan penyakit.
SHARE
DMFI: 340 Ekor Anjing Dipotong Tiap Hari di Jakarta
SOLOPOS.COM - Ilustrasi penolakan konsumsi daging anjing (Solopos)

Solopos.com, JAKARTA — Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) menyebut ada sekitar 340 ekor anjing dipotong per hari di Jakarta. Jika dihitung per bulan ada rata-rata 9.520 ekor anjing yang di potong di Ibu Kota negara tersebut.

Ada dua penyuplai besar daging anjing di Jakarta yang kemudian didistribusikan kepada penyuplai kecil di sejumlah pasar seperti Pasar Senen, Pasar Cijantung, dan lainnya. “Di sini mereka biasanya memotorng 3-6 ekor anjing per hari. Sedangkan kedua penyuplai besar biasanya masing-masing memotor 20-40 anjing per hari. Kemudian menjual daging anjing ke lapo dan beberapa restoran Korea di Jakarta,” kata DMFI dalam keterangan tertulis yang diterima Solopos.com, Senin (13/9/2021).

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Sebagai informasi, penjualan daging anjing di Jakarta mendapat sorotan setelah sebuah video yang menampilkan praktik penjualan bertaring itu di Pasar Senen, Jakarta Pusat, viral di media sosial. Video itu direkam oleh Animal Defenders Indonesia (ADI).

Baca Juga: Nekat Jualan Kuliner Anjing di Sukoharjo, Siap-Siap Dikukut & Denda Rp50 Juta

Dalam video viral tersebut, ADI menyertakan penjelasan tentang hasil penelusurannya mengenai perdagangan daging anjing di Pasar Jaya Senen.

“Satu lapak yang kami investigasi mengaku bahwa mereka minimal menjual 4 ekor anjing dalam sehari. Mereka sudah beroperasi lebih dari 6 tahun,” demikian keterangan yang disampaikan ADI melalui akun instagramnya, @animaldefendersindo, Jumat (10/9/2021).

Konfirmasi PD Pasar Jaya

PD Pasar Jaya membenarkan adanya pedagang di Pasar Senen, yang menjual daging anjing. PD Pasar Jaya menyebut pedagang daging anjing itu berada di Blok III.

“Sehubungan dengan adanya pemberitaan terkait penjualan daging anjing yang ada di Pasar Jaya, bersama ini kami dapat memberikan klarifikasi bahwa benar adanya pedagang dari Perumda Pasar Jaya yang melakukan penjualan daging anjing tersebut di Pasar Senen Blok III,” kata Manajer Umum dan Humas Perumda Pasar Jaya Gatra Vaganza kepada wartawan, Minggu (12/9/2021).

Baca Juga: Dear Pemkab Sukoharjo, Pedagang Kuliner Daging Anjing Butuh Solusi Bukan Larangan Jualan

Terkait hal tersebut, DMFI mengatakan meski angka pemotongan daging anjing di Jakarta lebih kecil dibandingkn di Solo, tetap saja hal itu tidak bisa diterima. Pedagangan daging anjing disebut dapat mengancam kesehatan serta keamanan seluruh warga Jakarta dan sekitarnya.

Menurut catatan DMFI, lebih dari 13.700 ekor anjing di angkut dan di potong per bulannya di Solo.

Tegakkan Hukum

Anggota koalisi DMFI, Adhy Hane, berharap dengan semakin dekatnya peringatan Hari Rabies Sedunia, pemerintah pusat dan daerah mulai menganggap serius masalah ini. “Daripada terus menutup mata terhadap kegiatan ilegal yang hanya menyuplai dan menguntungkan sejumlah kecil orang yaitu <5% dari total rakyat Indonesia, sebaiknya mulai menegakkan hukum demi melindungi kesehatan dan keamanan mayoritas rakyat dan sejalan dengan 93% rakyat Indonesia yang mendukung pelarangan daging anjing,” kata Adhy.

Baca Juga: Stop Makan Daging Anjing:  Sadis & Tidak Sehat

Koalisi DMFI mengingatkan bahwa usaha pengendalian dan penghapusan rabies akan sia-sia tanpa membahas perdagangan daging anjing.

Pada bulan September tahun 2018, Kementerian Pertanian mengeluarkan Surat Edaran berisi peringatan kepada kepala daerah bahwa perdagangan daging anjing adalah ilegal. Kementerian Pertanian juga menyebut tindakan perlu segera diambil untuk menghambat dan menghilangkan perdagangan dan konsumsi anjing, menggambarkan perdagangan ini sebagai “siksaan terhadap hewan”.

Lola Webber dari Humane Society International USA menyatakan janji untuk mengambil tindakan telah dibuat oleh Kementrian Pertanian dari Pemerintah Pusat. “Tapi janji perlu dibuktikan dengan komitmen untuk berubah melalui tindakan yang tegas dan berarti. Perdagangan ini secara langsung telah menyebabkan situasi darurat bagi kesehatan publik dan bertanggungjawab atas ribuan kasus kematian akibat penyebaran rabies,” ujar Koordinator Internasional DMFI tersebut.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago