DLH Sragen Teliti Kualitas Air 4 Anak Sungai Bengawan Solo

Petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen meneliti kualitas air empat anak Sungai Bengawan Solo yang melintasi wilayah kota.
DLH Sragen Teliti Kualitas Air 4 Anak Sungai Bengawan Solo
SOLOPOS.COM - Pemandangan di sekitar Sungai Garuda yang merupakan anak Sungai Bengawan Solo tak jauh dari Kampung Kauman, Sragen Wetan, Sragen, Selasa (21/9/2021). (Solopos/Moh Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sragen meneliti kualitas kandungan air di empat anak Sungai Bengawan Solo yang melintasi wilayah Kota Sragen.

Empat anak sungai itu adalah Sungai Mungkung, Sungai Gambiran, Sungai Garuda, dan Sungai Swidran 2. Penelitian kandungan air itu terbagi dalam dua tahap yakni pada musim penghujan dan musim kemarau.

Saat ini, DLH Sragen baru meneliti kandungan air di empat sungai itu pada musim hujan, sekitar Maret lalu. Sementara penelitian kandungan air di empat sungai itu pada musim kemarau baru dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Pada tahap pertama, kami mengambil sampel air di hulu dan hilir dari empat sungai itu. Demikian juga pada tahap kedua, kami juga akan mengambil sampel air di hulu dan hilir dari empat sungai itu,” terang Kasi Perencanaan dan Pengkajian Bidang Perlindungan DLH Sragen, Sungadi, saat ditemui Solopos.com di kantornya, Selasa (21/9/2021).

Baca Juga: Saking Parahnya Pencemaran, Warga Sragen Sampai Takut Makan Ikan dari Bengawan Solo

Walau penelitian sampel air di empat Sungai Bengawan Solo itu pada tahap pertama sudah dilakukan, Sungadi belum bisa menyampaikan hasilnya. Menurutnya, kandungan air empat sungai pada penelitian tahap pertama masih memiliki kualitas yang baik.

“Ada banyak parameternya, tapi sepintas hasilnya masih bagus kualitasnya. Mungkin karena sampel air itu baru diambil saat musim hujan. Nanti akan kami bandingkan hasilnya dengan sampel air empat sungai itu di musim kemarau dalam waktu dekat,” papar Sungadi.

Bahan Kajian Mengambil Kebijakan

Hasil penelitian kualitas air di empat sungai itu akan jadi bahan penyusunan indeks kualitas lingkungan hidup daerah (IKLHD). Oleh Pemkab Sragen, IKLHD akan dijadikan bahan kajian dalam mengambil kebijakan.

Sungadi mencontohkan biological oxygen demand (BOD) atau jumlah oksigen yang dibutuhkan organisme untuk mengoksidasi bahan terlarut air limbah melebihi baku mutu, DLH akan mengevaluasi penyebabnya.

Baca Juga: Pasar Bahulak Sragen Raih Sertifikat CHSE dari Kemenparekraf, Apa Itu?

“Misal penyebab BOD melebihi baku mutu itu adalah banyaknya limbah rumah tanggal yang belum terolah, maka diperlukan kebijakan untuk mengajak warga tidak membuang sampah ke sungai supaya kualitas air sungai bisa terjaga. Itu tugasnya DLH,” ucapnya.

Sungadi mengakui di wilayah hulu, tidak ada pabrik besar yang membuang limbah cair ke empat anak Sungai Bengawan Solo itu. Di wilayah Kedawung, terdapat pabrik pengolahan karet yang terus dipantau DLH terkait pengolahan limbahnya.

Dalam hal ini, DLH selalu mengingatkan supaya perusahaan itu mau mengolah limbah terlebih dahulu sebelum membuangnya ke perairan baik itu saluran drainase atau sungai. Di Kota Sragen, terdapat industri gula peninggalan zaman penjajah Belanda yakni PG Mojo.

Namun, kata Sungadi, dalam beberapa bulan terakhir mesin giling di PG Mojo tidak beroperasi karena keterbatasan bahan baku tebu. Kegiatan produksi PG Mojo termasuk dalam program nasional.

Baca juga: Food Truck ACT Mampir di Sragen, Bagikan Makanan Gratis bagi Peserta Vaksinasi

Persyaratan Baku Mutu

“Oleh sebab itu, pengolahan limbahnya harus sesuai persyaratan baku mutu. Kalau ada salah satu parameter yang tidak terpenuhi, bisa dapat rapor jelek. Jadi, sudah ada lembaga yang mengevaluasi pengolahan limbah di sana,” ucapnya.

Sungadi tidak memungkiri masih ada industri rumah tangga maupun UMKM yang membuang limbah ke sungai. Namun, untuk menentukan air sungai itu tercemar limbah atau tidak, diperlukan penelitian melalui laboratorium.

“Pandangan kasatmata, mungkin warna air itu berubah merah atau biru. Tapi, itu belum bisa dikatakan tercemar kalau belum ada hasil laboratorium. DLH sudah punya lab, tapi infrastrukturnya terbatas sehingga hanya beberapa parameter saja yang bisa diteliti. Untuk mendapatkan data hasil penelitian yang valid, kami diharapkan bisa bekerja sama dengan lab yang sudah terakreditasi,” paparnya.

Baca Juga: 13 Calon Dirut PDAM Sragen Ikut Tes di Solo

Mengenai hasil laboratorium dari kondisi air di Sungai Bengawan Solo, Sungadi mengaku belum tahu. Menurutnya, penelitian sampel air sungai itu menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Karena wilayahnya mencakup beberapa daerah, maka ditangani Provinsi. Memang kami pernah dilibatkan dalam pengambilan sampel air di Sungai Bengawan Solo, tapi sampai sekarang kami belum menerima hasilnya,” jelasnya.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago