Ditanya Soal Hepatitis Akut, PKL Depan Sekolah Sukoharjo Ngaku Tak Tahu

Penjual makanan di depan sekolah Jl. Seram, Kampung Gawanan, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, mengaku tak mengetahui hepatitis akut.
SHARE
Ditanya Soal Hepatitis Akut, PKL Depan Sekolah Sukoharjo Ngaku Tak Tahu
SOLOPOS.COM - Penjual makanan di depan sekolah di Jl. Seram, Gawanan, Kelurahan/Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (18/5/2022). (Solopos/Magdalena Naviriana Putri)

Solopos.com, SUKOHARJO — Penjual makanan di depan sekolah Jl. Seram, Kampung Gawanan, Kelurahan Sukoharjo, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah ini mengaku tidak mengetahui tentang hepatitis akut.

Tetapi, dia memastikan makanan yang disajikan higienis dan sehat. Diberitakan sebelumnya, sejumlah sekolah menerapkan kebijakan agar pelajar diminta membawa bekal sendiri.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Ada juga yang mempersilakan kantin sekolah buka, tetapi dengan syarat menyajikan makanan sehat dan higienis.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Pihak lain, menyampaikan bahwa anak sekolah dilarang jajan di luar sekolah. Ada juga yang tidak melarang jajan di tepi jalan di kawasan sekolah dengan catatan menerapkan protokol kesehatan dan kebersihan untuk mengantisipasi kasus hepatitis akut pada anak.

Salah seorang pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan bola-bola mie dan es koko crunch, Suwarni, 63, menyampaikan makanan yang dia sajikan higenis dan sehat. Dia menuturkan itu saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (18/5/2022).

Baca Juga : Sukoharjo Terapkan PTM 100 Persen, Kantin Sekolah Boleh Buka Tapi…

Sayangnya, ia mengaku tak tahu perihal penyakit hepatitis akut misterius yang tengah menjadi perbincangan di dunia.

“Saya malah belum tahu [hepatitis akut misterius]. Tapi bisa dilihat untuk wadah yang saya gunakan harus yang bersih. Kalau tidak bagus dan bersih saya juga tidak mau,” kata Suwarni yang sudah melakoni pekerjaannya selama 20 tahun itu.

Ia berkeliling menjajakan makanan dari satu sekolah ke sekolah lain. Kemudian, mampir ke Alun-alun Sukoharjo dan car free day (CFD).

Ia mengaku usahanya itu terdampak pandemi Covid-19 sejak dua tahun terakhir. Pasalnya peraturan sekolah menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) membuatnya kehilangan pembeli utama, siswa.

Baca Juga : Cegah Penularan Hepatitis Akut di Sekolah, Disdik Sukoharjo Lakukan Ini

Peluang berjualan di lokasi lain saat itu seperti di Alun-alun Sukoharjo dan CFD terbatas. Suwani mengaku mendapatkan angin segar selama sepekan ini. Siswa mulai kembali ke sekolah meskipun waktu pembelajaran pendek.

“Biasanya sampai 14.30 WIB. Kalau sekarang pukul 10.00 WIB atau 10.30 WIB sudah selesai. Biasanya kan ke sekolah satu pindah sekolah satunya. Kalau jam [sekolah] pendek ya lekas pindah ke sekolah lain,” jelasnya.

Dia mengaku pembeli di Alun-alun Sukoharjo juga semakin ramai. Suwarni menawarkan makanan mie seduh, bola-bola mie, tempura, hingga es koko crunch. Harganya mulai Rp2.000 hingga Rp5.000.

Hal senada disampaikan PKL yang menjajakan es dung-dung di kawasan setempat, Tri Jayatmo, 52. Tri mengaku berjualan keliling dari satu gang ke gang lain ketimbang berjualan di depan sekolah. Hal itu dilakukan karena terdampak pandemi Covid-19.

Baca Juga : Hepatitis Akut Mengintai, DKK Sukoharjo: Tetap Tenang dan Berhati-hati

“Ya kalau sekolah tidak masuk ya jualannya keliling. Kan kalau ini [penjualan es dung-dung], tidak memakai gerobak jadi bisa di bawa berkeliling,” jelasnya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago