top ear
Ilustrasi kelapa sawit. (Antara/Syifa Yulinnas)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi kelapa sawit. (Antara/Syifa Yulinnas)

Dirut BPDPKS: Kelapa Sawit Jadi Penyumbang Devisa Terbesar

Dirut BPDPKS, Eddy Abdurrachman, menyebut sektor industri kelapa sawit menjadi penyumbang devisa terbesar untuk Indonesia saat ini.
Diterbitkan Rabu, 21/10/2020 - 19:34 WIB
oleh Solopos.com/Ginanjar Saputra
3 menit baca

Solopos.com, SOLO — Direktur Utama (Dirut) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Eddy Abdurrachman, menegaskan sektor industri kelapa sawit menjadi penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia saat ini.

Di tengah pandemi Covid-19 yang memukul berbagai sektor industri, sektor kelapa sawit dianggap masih mampu bertahan kuat. Hal itu disampaikan Eddy dalam sambutan pembukaannya pada acara Fellowship Journalist & Training BPDPKS Batch II melalui Zoom Meeting, Rabu (21/10/2020).

"Produk kelapa sawit dan turunannya telah diekspor ke seluruh penjuru dunia dan merupakan komoditas penghasil devisa ekspor terbesar bagi Indonesia," tegasnya.

Eddy menjelaskan nilai ekspor kelapa sawit pada 2019 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)—diluar produk Oleokimia & Biodiesel—mencapai US$15,57 miliar atau sekitar Rp220 triliun. Nilai ekspor di sektor industri kelapa sawit itu diklaim melampaui nilai ekspor dari sektor migas maupun sektor non-migas lainnya.

"Di masa pandemi Covid-19, sektor sawit juga terbukti mampu bertahan dan tetap menyumbangkan devisa ekspor sekitar US$13 miliar [sekitar Rp190 triliun] sampai dengan Agustus 2020, ditengah lesunya sektor-sektor penghasil devisa lainnya seperti migas, batubara, dan pariwisata," beber Eddy.

Produk Turunan

Sang dirut BPDPKS itu juga menegaskan sektor industri kelapa sawit telah berkontribusi menjadikan Indonesia sebagai produsen Biodiesel, energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan fossil fuel, yang bahan bakunya berasal dari minyak sawit.

Penangkap Maling Sepeda Malah Ditahan, Kapolsek Klaten Kota Digugat

Biodiesel sawit tersebut, lanjutnya, melalui pencampuran dengan minyak Solar dalam bentuk B-30, telah digunakan sebagai bahan bakar sehingga mengurangi ketergantungan negara atas impor minyak bumi sekaligus mengurangi defisit neraca perdagangan di sektor migas.

"Produk-produk sawit pun telah mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat kita. Yang familiar bagi saudara/saudari mungkin adalah minyak goreng dari sawit, namun sesungguhnya konsumsi minyak sawit dan turunannya lebih luas dari itu. Minyak sawit ada dalam produk sabun, sampo, deterjen, lipstick, produk kosmetik, personal care, roti, cokelat, biskuit, krimer, margarin, susu, formula bayi, dll," paparnya.

Eddy mengatakan penggunaan minyak sawit dan turunannya yang merupakan minyak nabati dengan produktifitas tertinggi menjadikan produk-produk tersebut dapat digunakan semua kalangan. Produk turunan itu kebanyakan dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau.

Isu Negatif

Dengan banyaknya manfaat kelapa sawit bagi perekonomian dan lainnya, Eddy merasa sektor industri kelapa sawit masih dipandang buruk. Menurutnya, isu negatif terhadap industri kelapa sawit masih marak dan kerap diterima masyarakat dengan pemahaman yang menurutnya keliru sehingga dianggap sebagai kebenaran umum.

"Sejumlah isu tersebut antara lain anggapan bahwa perkebunan dan industri sawit merupakan penyebab hilangnya hutan tropis, isu sawit sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, isu sawit sebagai penyebab hilangnya keanekaragaman hayati, isu minyak sawit tidak baik bagi kesehatan, isu penggunaan tenaga kerja anak di perkebunan sawit, dan bermacam isu negatif lainnya yang dialamatkan kepada sawit," keluh Eddy.

Menurutnya, isu tersebut dilontarkan tanpa dasar fakta yang objektif. Isu tersebut ia duga sebagai dampak persaingan dagang komoditas minyak nabati dunia.

"Namun terkadang tanpa disadari, beberapa kelompok masyarakat kita turut berperan dalam mengamplifikasi isu negatif tersebut di dalam negeri. Kampanye isu-isu negatif tersebut dalam jangka waktu yang lama telah memunculkan stigma negatif terhadap sawit sehingga kemudian sawit teralienasi dari masyarakat yang justru mengkonsumsinya setiap hari," lanjut Eddy.

Eddy menjelaskan BPDPKS perlu menjembatani jurang informasi tentang industri kelapa sawit yang terjadi di masyarakat. Dengan dampak yang besar bagi perekonomian, pertanian, dan kesejahteraan masyarakat, Eddy ingin industri kelapa sawit di Indonesia bertahan menjadi yang terbesar di dunia.


Editor : Profile Ginanjar Saputra
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini