Dipuji Iriana Jokowi, Ini Sejarah Lahirnya Batik Kliwonan Sragen

Kemunculan perajin batik di Desa Kliwonan, Kecamatan Masaran, Sragen dimulai di tahun 1990-an. Kemudian menyebar ke Desa Pilang.
SHARE
Dipuji Iriana Jokowi, Ini Sejarah Lahirnya Batik Kliwonan Sragen
SOLOPOS.COM - Warga sibuk mengecat ornamen batik di industri batik tulis Windasari di Desa Kliwonan, Masaran, Sragen, belum lama ini.(Solopos.com/Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN — Iriana Jokowi sempat memuji Batik Kliwonan khas Sragen dalam kunjungannya beberapa waktu lalu. Ternyata Batik Kliwonan memilih sejarah panjang yang tak lepas dari peran perajin batik Kota Solo yang hijrah ke Sragen kemudian merintis usaha mandiri.

Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengatakan Iriana Jokowi memuji kain Batik Kliwonan yang halus. Istri Presiden Jokowi itu datang bersama rombongan istri para menteri yang tergabung dalam Organisasi Aksi Era Solidaritas (OASE) Kabinet Indonesia Maju (KIM) pada Kamis (22/9/2022). Dalam kunjungan ke Sragen mereka menyempatkan mampir ke sentra batik di Desa Kliwonan dan memborong banyak batik untuk oleh-oleh.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

“Batik Kliwonan asal Sragen ini memang sudah jadi langganan Istana Negara,” terang Bupati Yuni.

Sekretaris Desa Kliwonan, Wiyono, mengatakan para perajin batik di Sragen dulunya merupakan karyawan usaha batik di Kota Solo. Mereka tersebar di sejumlah wilayah tepatnya di Kecamatan Masaran, dan Kecamatan Plupuh. Karena lokasinya berada di pinggir  Bengawan Solo maka komunitas mereka bernama Batik Girli akronim dari pinggir kali.

“Para perajin batik tersebut kemudian lambat laun mulai membuka usaha sendiri di sekitar Desa Pilang dan Desa Kliwonan,” terang Wiyono saat ditemui belum lama ini.

Baca Juga: Ternyata Gerai Batik Sragen Ini Jadi Langganan Istana Negara

Perajin batik asal Desa Pilang, Suwanto, mengatakan para perajin batik yang kembali ke kampung halaman tersebut kemudian mendirikan usaha batik. Di Desa Kliwonan kemudian muncul pioner usaha batik, seperti Batik Dewi Arum, Batik Sadewa, dan Batik Brotoseno. Karena lokasinya di Desa Kliwonan, batik-batik itu lebih dikenal dengan sebutan Batik Kliwonan.

“Munculnya batik di Kliwonan sendiri sudah ada dari 1990-an,” tambah Suwanto.

Ciri khas Batik Kliwonan terlihat pada warnanya, bukan pada motifnya. Berbeda dengan warna batik asal Solo yang warna-warnanya bernuansa klasik. Batik Kliwonan khas Sragen memiliki warna yang lebih berani seperti merah, hijau, atau kuning. Sehingga terlihat lebih ramai.

“Semakin berkembangnya industri batik, maka teknik membatik pun berkembang mengenai teknik batik cabut. Batik cabut adalah teknik yang menggabungkan cara membatik tulis dan cap. Sehingga tidak menghasilkan batik yang monoton seperti batik cap, namun prosesnya tidak terlalu lama seperti batik tulis,” tambah Suwanto.

Baca Juga: Undang Bupati Sragen, Iriana Jokowi: Aku Meh Mantu Lho!

Suwanto menambahkan, minat masyarakat pun bertambah, membuat permintaan pasar menjadi masif. Namun kendalanya ketika batik tulis yang dirasa eksklusif dan mahal tidak bisa menjangkau semua kalangan. Sehingga muncul teknik batik cap, kombinasi, dan printing.

Menurut Kades Kliwonan, Kaswanda, terdapat 20 rumah produksi batik di Kliwonan dan Pilang.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode