Dibangun di Sragen, Jembatan Terpanjang di Jateng Butuh Rp75 Miliar

Pemerintah menyiapkan anggaran senilai Rp75 miliar untuk membangun proyek jembatan sepanjang 600 meter melintasi Waduk Kedung Ombo (WKO).
Dibangun di Sragen, Jembatan Terpanjang di Jateng Butuh Rp75 Miliar
SOLOPOS.COM - Petugas meninjau lokasi jembatan sepanjang 600 meter melintasi Waduk Kedung Ombo atau WKO yang akan dibangun untuk menghubungkan dua desa terpencil, yakni Gilirejo dan Gilirejo Baru, Kecamatan Miri, Sragen. Foto diambil belum lama ini. (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN – Pemerintah menyiapkan anggaran senilai Rp75 miliar untuk membangun proyek jembatan sepanjang 600 meter melintasi Waduk Kedung Ombo (WKO). Jembatan itu bakal menghubungkan dua desa terpencil di tepi WKO yakni Desa Gilirejo dan Desa Gilirejo Baru di Kecamatan Miri, Sragen.

Progres proyek jembatan sepanjang 600 meter melintasi Waduk Kedung Ombo (WKO ) memasuki tahap akhir pembebasan lahan. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Sragen pada Senin (6/12/2021) menggelar sosialisasi proyek tersebut di Balai Desa Gilirejo Lama. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah warga terdampak, aparat pemerintah Kecamatan Miri, perangkat desa, serta TNI/Polri.

Kepala DPUPR Sragen, Marija, menjelaskan proses pembangunan jembatan telah melewati tahapan feasibility study dan tahapan penyelesaian detail engineering design (DED). Tahapan tahun ini berupa proses pengadaan lahan.

Baca Juga: Pemkab Sragen Gulirkan Sekolah Unggulan di Saat Ada SD Ambruk

“Kegiatan saat ini dalam rangka sinkronisasi penyelesaian pengadaan [pembeasan] lahan,” kata dia. Dia menjelaskan ada ada 22 pemilik lahan yang terdampak proyek pembangunan jembatan dari Desa Gilirejo Lama dan Gilirejo Baru. Pemerintah Kabupaten Sragen menyediakan anggaran sekitar Rp900 juta untuk pembebasan lahan. Pencairan dilakukan 15 Desember 2021.

Marija memaparkan jembatan ini akan dibangun dengan rangka baja yang membentang sepanjang 600 meter dengan lebar 6 meter. Jembatan itu bakal menjadi jembatan terpanjang di Provinsi Jawa Tengah.

Pemkab Sragen telah menghitung biaya konstruksi untuk mewujudkan jembatan terpanjang di Jateng itu yakni Rp75 miliar. Dengan anggaran sebesar itu, dia belum bisa memastikan kapan pembangunan konstruksi jembatan dilaksanakan.

Baca Juga: Ngantuk, Mobil Jasa Ekspedisi Tabrak Pagar Jembatan di Gondang Sragen

“Program berikutnya semua itu sesuaikan dengan kondisi anggaran pemerintah daerah,” ungkap dia. Salah satu warga yang terdampak proyek, Mudzakir, 65, mengatakan lahannya yang terdampak seluas 1.276 meter persegi yang ditanami sejumlah jenis pohon, antara lain jati. Dia tidak berencana membeli lahan pengganti sebab masih memiliki lahan yang luas.

“Saya mendukung saja demi kebaikan daerah. Pembangunan jembatan bisa membangkitkan ekonomi warga,” paparnya. Sebagai informasi, Desa Gilirejo Baru merupakan salah satu desa terpencil Sragen sebab untuk mengakses desa dari Sragen harus melewati wilayah Boyolali dengan perjalanan memutar.

Jembatan itu dibangun sesuai dengan aspirasi warga Desa Gilirejo Baru. Dari Desa Gilirejo ke Desa Gilirejo Baru, saat ini bisa dijangkau dengan waktu sekitar satu jam karena harus lewat daerah Andong dan Kemusu di Boyolali yang kondisi jalannya rusak parah. Dengan adanya jembatan itu, waktu tempuhnya bisa dipangkas menjadi sekitar 10 menit.

Baca Juga: Sejarah 2 Desa di Sragen yang Landasi Proyek Jembatan Terpanjang Jateng

Karena kondisi jalan yang cukup memprihatinkan, warga Desa Gilirejo Baru butuh waktu lebih dari dua jam menuju pusat Kota Kabupaten Sragen. Satu jam di antaranya digunakan untuk melewati jalan dari tepi WKO melewati wilayah Kemusu, Pelemrejo Kecamatan Andong hingga simpang empat Kacangan di Kabupaten Boyolali.

Setelah jembatan selesai dibangun, warga Gilirejo Baru punya jalur pintas menuju pusat Kota Kabupaten Sragen. Jembatan itu akan dibangun dengan kedua ujung di Dukuh Dondong Desa Gilirejo Baru dan Dukuh Gunungsono Desa Gilirejo.

Kepala Desa Gilirejo, Parjo, menyambut baik rencana pembangunan jembatan sepanjang 600 meter yang menghubungkan Desa Gilirejo Lama. Menurutnya, warga di dua desa itu sebetulnya masih bersaudara. Desa Gilirejo Baru merupakan sempalan dari Desa Gilirejo akibat proyek pembangunan WKO pada 1989. “Pembangunan jembatan itu bisa merekatkan kembali hubungan persaudaraan antara warga desa yang terpisah karena proyek waduk,” ujarnya.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago