;

Di Balik Slogan Solo The Spirit Of Java, Ternyata Begini Ceritanya

Slogan Solo The Spirit Of Java lahir dari sayembara yang digelar Pemkot Solo sekitar tahun 2005 sebagai upaya branding promosi pariwisata dan kebudayaan regional Soloraya.
SHARE
Di Balik Slogan Solo The Spirit Of Java, Ternyata Begini Ceritanya
SOLOPOS.COM - Logo Solo The Spirit Of Java. (soloposfm.com)

Solopos.com, SOLO — Tulisan Solo The Spirit Of Java bisa dijumpai hampir di seluruh sudut Kota Solo. Biasanya pada media branding promosi pariwisata dan event budaya.

Bagi warga asli dan pendatang yang lama tinggal di Solo dan sekitarnya yang kerap disebut Soloraya mungkin sudah tidak asing atau bahkan sudah paham arti slogan ini. Namun bagi warga luar Soloraya, mungkin kurang paham artinya.

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Berdasarkan informasi yang Solopos.com himpun dari berbagai sumber, slogan Solo The Spirit Of Java lahir sebagai bagian upaya memperkuat otonomi daerah Soloraya dengan Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa. Saat itu, sekitar 2005, daerah-daerah di Indonesia saling berlomba untuk mempromosikan potensi masing-masing agar mendapat perhatian hingga level internasional.

Solo sebagai daerah yang mengandalkan sektor perdagangan dan pariwisata untuk perputaran ekonominya dan kental dengan budaya Jawanya memiliki ide membuat slogan sebagai branding untuk pemasaran pariwisata dengan budaya Solo sebagai daya tarik.

Solo sebagai jiwanya Jawa, pusat kebudayaan Jawa, terukir lewat slogan Solo The Spirit of Java tersebut. Menurut artikel di laman uns.ac.id, November 2017, slogan tersebut dibuat pada 2005 dan disahkan pada 2008 melalui peraturan bersama kepala daerah se-Soloraya.

Baca Juga: Gibran & Bagyo Ngobrol Brand Solo the Spirit of Java, Mau Dibawa ke Mana?

Dosen Prodi Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, Taufik Murtono, dalam tulisannya di kolom gagasan yang diunggah Solopos.com, 13 Maret 2013 lalu, menyebutkan slogan itu lahir dari sayembara yang digelar Pemkot Solo. Pemenangnya adalah Dwi Endang Setyorini.

Pembuatan Logo Butuh 6 Bulan

Kemudian tampilan visual logo The Spirit Of Java dibuat oleh perusahaan periklanan pemenang pitching, Freshblood Indonesia. Dalam pembuatan gambar logo itu, Freshblood Indonesia didampingi tim konsultan desain Optimaxi dari Jakarta yang berada di bawah pengawasan GTZ-RED.

Perancangan gambar visual slogan Solo The Spirit Of Java sebagai representasi kawasan Soloraya membutuhkan waktu sekitar enam bulan. Puncaknya saat sosialisasi yang melibatkan perwakilan tujuh wilayah kabupaten/kota Soloraya di Ballroom Hotel Quality (sekarang Hotel Sunan).

Baca Juga: Jateng-DIY Pakai Java, Solo Tetap Spirit of Java

Setelah diluncurkan sebagai sarana branding pariwisata dan budaya, berbagai event digelar untuk menghidupkan slogan tersebut. Berbagai festival hingga konferensi tingkat dunia digelar di Solo dengan harapan bisa mendatangkan multiplier effects bagi sektor pariwisata dan ekonomi.

Selain itu sebagai upaya menerjemahkan slogan The Spirit Of Java itu, berbagai warisan budaya Jawa juga dijadikan ornamen pada kendaraan umum maupun wisata di Solo. Misalnya di bodi bus Batik Solo Trans (BST) dihias gambar tokoh pewayangan.

Kemudian nama Jaladara pada kereta uap atau sepur kluthuk sebagai kendaraan wisata juga diambil dari cerita pewayangan Mahabarata. Konon dalam cerita itu disebutkan Jaladara merupakan nama kereta milik Prabu Kresna.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago