Desain Sirkuit Mandalika: Paduan Gaya Modern & Kearifan Lokal

Desain Sirkuit Internasional Mandalika di Lombok, NTB, memadukan gaya modern dengan kearifan lokal dari cerita rakyat Putri Mandalika.
Desain Sirkuit Mandalika: Paduan Gaya Modern & Kearifan Lokal
SOLOPOS.COM - Sirkuit Mandalika Lombok. (Instagram/@itdc_id)

Solopos.com, LOMBOK — Desain Sirkuit Internasional Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) memadukan gaya modern dan kearifan lokal.

PromosiIni Alasan Maluku Utara Jadi Provinsi Paling Aman di Indonesia

Sirkuit yang akan menjadi tuan rumah ajang World Superbike (WSBK) dan MotoGP ini didesain oleh perusahaan asal Inggris, Populous yang sudah berpengalaman.

Race Control

Salah satu landmark Sirkuit Mandalika adalah Race Control Building atau ruang kendali yang dibangun super megah. Race Control Building Mandalika International Street Circuit memiliki luas 1.045 m2 dengan disain yang memadukan karakter kecepatan dan dinamis lintasan balap dan kearifan lokal cerita Putri Mandalika.

Baca juga: Ini Tampang Maling Celana Dalam di Banyuwangi

Fasad bangunan dengan transformasi bentuk dan material mencerminkan kecepatan dan dinamisme di atas lintasan balap serta artikulasi Atap Nyale mempersatukan gubahan massa Race Control Building dengan bangunan Pit dan Paddock, menciptakan arsitektur yang khas di Mandalika. Bangunan ini memiliki akses langsung menuju Pit Lane dan sedekat mungkin dengan Start Line.

Aspal Terbaik

Selain itu, Sirkuit Mandalika yang berkelas dunia itu memiliki lintasan sepanjang 4,31 km dengan 17 tikungan yang siap ditaklukkan para pembalap. PT Indonesia Tourism Development Corporation (PT ITDC) mendatangkan aspal khusus dari Inggris untuk lapisan paling atas trek.

Kabarnya aspal di Sirkuit Mandalika ini jauh lebih bagus daripada di Sirkuit Sepang Malaysia. Sirkuit ini menggunakan aspal terbaru Stone Mastic Asphalt (SMA) dan disebut merupakan yang terbaik di dunia.

SMA merupakan merupakan bahan campuran aspal dan digunakan untuk melapisi permukaan atas aspal. Lapisan aspal ini diperuntukkan demi memperkuat struktur lapisan permukaan lintasan agar tetap kuat dengan prinsip kontak stone by stone untuk memperkuat struktur lapisan meski volume aspalnya sedikit.

Baca juga: Biaya Pembangunan Sirkuit Mandalika Tak Sampai Rp1 Triliun, Yakin?

Aspal jenis ini membuat jalanan lebih mulus, sehingga pembalap tidak mudah tergelincir saat kondisi hujan dan mengurangi risiko pembalap jatuh saat melintas di trek basah.

Untuk mendukung penggunaan SMA ini, pihak pengembang mendatangkan batu Tau agregat kasar dari Palu, Sulawesi Tengah yang terkenal dengan kekerasannya.

Selain itu, pihaknya juga mendatangkan Additives Cellulose Fiber dari Jerman untuk bisa merekatkan batu dan aspal serta Limestone filler yang berasal dari Ponorogo dan Probolinggo, Jawa Timur.

“Jadi kita bawak yang terbaik di dunia untuk sirkuit Mandalika,” kata Direktur Konstruksi dan Pengembangan MGPA, Dwianto Eko Winaryo, seperti dikutip dari Okezone.com.

Baca juga: Ada Menara Eiffel di Rawa Pening, Tak Perlu ke Paris Gaes

Direktur Utama ITDC, Abdulbar M Mansoer, menyatakan pekerjaan penghamparan aspal pada main track menggunakan 3 unit alat finisher dengan teknologi satelit yang menjamin kualitas permukaan dan kemiringan sesuai desain, serta diawasi langsung oleh tenaga profesional.

Hal ini menjadikan Mandalika International Street Circuit sebagai salah satu sirkuit yang bisa menawarkan kecepatan 330 kilometer per jam dengan tetap memiliki tingkat keamanan yang tinggi bagi pembalap.

Baca juga: Demi Vaksin, Kakek Nenek Asal Wonogiri Rela Jalan Kaki 12 KM PP

Biaya

Dengan segala fasilitas yang super mewah itu, pembangunan Sirkuit Mandalika pun menghabiskan biaya sekitar Rp1,1 triliun. Dwianto Eko Winaryo, Direktur Kontruksi dan Pengembangan Mandalika Grand Prix Associaton (MGPA), mengatakan, biaya tersebut untuk pekerjaan dasar sirkuit dan pembangunan sirkuit.

Dwi menjelaskan ada dua pekerjaan utama dalam proyek tersebut, yaitu groundwork dan pembangunan sirkuit. Dia menambahkan tim menemukan ada bahaya likuifaksi atau pencairan tanah yang terjadi ketika tanah kehilangan kekuatan.

Guna mengantisipasi risiko tersebut, ITDC melakukan penguatan yang membutuhkan biaya sekitar Rp100 miliar hingga Rp120 miliar. Sementara penyelesaian sirkuit menelan anggaran sekitar Rp900 miliar. Biaya ini belum termasuk pembangunan tribun dan pit building.


Berita Terkait
    Berita Lainnya
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago