Desa Bonyokan Klaten: Dulu Tempat Berkumpulnya Orang-Orang Bonyok, Kini Rutin Lahirkan Atlet Panahan

Nama Desa Bonyokan sempat dianggap aneh sehingga sempat diusulkan diubah menjadi Subursari pada 1972, namun akhirnya batal.
Desa Bonyokan Klaten: Dulu Tempat Berkumpulnya Orang-Orang Bonyok, Kini Rutin Lahirkan Atlet Panahan

Solopos.com, KLATEN — Desa Bonyokan di Kecamatan Jatinom, Klaten, Jawa Tengah, menjadi perhatian karena rutin melahirkan atlet panahan. Ternyata ada sejarah menarik hingga desa diberi nama Bonyokan.

Kasi Pemerintahan Desa Bonyokan Sri Widayanti mengatakan nama Bonyokan ada sejarahnya. Desanya sempat dijadikan tempat penampungan korban perang dengan penjajah.

“Dulu jadi tempat penampungan korban perang. Tapi perang apa belum diketahui,” tambah Sri di kantornya, Sabtu (8/2/2020), sebagaimana dikutip dari Detikcom.

Nama Bonyokan berasal dari kata ‘bonyok’ yang artinya orang yang terluka parah. Tambahan ‘-an’ di belakang adalah menunjuk lokasi, seperti kebanyakan nama-nama lokasi atau pedesaan di Jawa pada umumnya.

Baca Juga: Gawat! Lonjakan Kasus Positif Corona di Klaten Melampaui Kudus

“Bonyokan dari kata bonyok artinya luka parah. Sering dianggap aneh sehingga pernah diusulkan diganti,” sambung Sri.

Usulan perubahan nama itu mencuat pada 1972. Dalam forum rapat, nama desa itu diusulkan menjadi Subursari. Namun karena kurang familier akhirnya tidak disetujui. “Usulan penggantian nama itu hanya sekali. Sejak itu tidak ada usulan perubahan lagi,” imbuh Sri.

Tokoh masyarakat Desa Bonyokan, Nanang Nuryanto, mengatakan sejarah banyak orang yang luka bonyok akibat perang masih samar. Namun sebagai masyarakat tidak mempermasalahkan nama.

“Kita tinggal menerima dari para sesepuh jadi ya diterima saja. Meskipun bagi orang lain kadang aneh,” terang Nanang.

Atlet Panahan Asal Desa Bonyokan

Kini Desa Banyokan menjadi perhatian karena Alvianto Bagas Prastyadi yang merupakan warga desa itu tampil di Olimpade 2020 di cabang olahraga panahan. Desa Banyokan memang dikenal sebagai daerah yang rutin melahirkan atlet panahan. Mereka berlaga dari tingkat Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga puncaknya Bagas tampil di Olimpade 2020.

Baca Juga: Asale Pesanggrahan, Saksi Bisu Kejayaan Kopi di Desa Deles, Klaten pada Zaman Kolonial

Atlet panahan di desa ini sebagian besar berasal dari Dukuh Bonyokan RT 004/RW 002. Mantan atlet panahan tingkat nasional sekaligus pelatih klub panahan Smartku di Sribit, Jatinom, Esti Setyaningsih, 40, menyatakan banyak warga desa itu yang berprestasi sebagai atlet panahan.

Saking banyaknya prestasi yang dihasilkan warga di RT 004/RW 002, gapura masuk menuju kampung tersebut diberi simbol orang memanah dan papan sasaran memanah.

“Di sini banyak ditemukan atlet andalan panahan. Saya ini meski dari ndeso pernah ikut Pelatnas juga. Ada nama-nama yang lain, seperti Bambang Wisnu, Heri, dan lainnya. Ada juga Imam Marwanto yang menjadi ketua wasit panahan di Indonesia. Pokoknya banyak, kalau dikumpulkan ada 30-an orang. Hingga sekarang ini ada Alvianto Bagas Prastyadi,” kata Esti Setyaningsih, saat ditemui wartawan di Bonyokan, Kecamatan Jatinom, Sabtu (24/7/2021).

Baca Juga: Malam-Malam Kapolres dan Dandim Klaten Antarkan Bantuan ke Rumah Warga Terdampak Pandemi

Esti Setyaningsih mengatakan dirinya pernah ikut membela Jateng di ajang PON sebanyak lima kali. Hal tersebut termasuk saat berjuang di PON Kalimantan 2008 dan PON Riau 2012.

“Saya pernah meraih medali di worldcup state di Thailand tahun 2013 [medali perunggu],” katanya.

Hal senada dijelaskan mantan atlet panahan asal Bonyokan lainnya, Kusmiyati, 39. Ibu dari Alvianto Bagas Prastyadi menceritakan warga Bonyokan pernah memenuhi pesawat Garuda Indonesia di tahun 2008. Waktu itu, warga asli Desa Bonyokan membela sejumlah daerah berbeda di Tanah Air di ajang PON Kalimantan 2008.

Kini ada Alvianto Bagas Prastyadi yang sedang berjuang mengharumkan nama bangsa Indonesia di ajang Olimpiade Tokyo 2020, 23 Juli 2021-8 Agustus 2021.

Baca Juga: Kisah Bagas Pemanah Indonesia di Olimpiade Tokyo: Anak Pak Bon SD Asal Klaten & Mantan Atlet Panahan Andalan Jateng

Rencananya, pria yang akrab disapa Bagas itu akan mulai tampil di nomor beregu recurve putra cabor panahan di Jepang, Senin (26/7/2021). Di nomor tersebut, Bagas bakal bahu-membahu bersama dua rekannya, Riau Ega Agatha dan Arif Dwi Pangestu. Selanjutnya, Bagas juga dijadwalkan tampil di nomor individu di Olimpiade Tokyo Jepang 2020, Selasa (27/7/2021).

“Prestasi yang diraih Alvianto Bagas Prastyadi saat ini tergolong yang tertinggi diraih warga Bonyokan [di cabor panahan]. Pencapaian saat ini menjadi bonus bagi dia. Tujuan awal itu fokus di PON Papua, ternyata bisa melampui seperti ini,” kata Esti Setyaningsih yang juga dikenal sebagai pelatih Bagas tersebut.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago