Daya Tampung Terbatas, Hanya 10% Pasien Covid-19 di Bantul yang Dirawat di RS & Tempat Isolasi Terpusat

Dinkes Bantul akui keterbatasan jumlah bed isolasi pasien Covid-19 di RS dan selter isolasi yang membuat banyak pasien yang harus jalani isoman.
Daya Tampung Terbatas, Hanya 10% Pasien Covid-19 di Bantul yang Dirawat di RS & Tempat Isolasi Terpusat

Solopos.com, BANTUL — Hingga Senin (26/7/2021) ada 12.522 pasien Covid-19 di Bantul, DIY. Dari jumlah tersebut, hanya 10% nya atau sekitar  1.252 pasien yang dirawat di RS dan selter isolasi terpusat. Sisanya yang 90% harus menjalani isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Hal ini dikarenakan keterbatasan tempat tidur di rumah sakit rujukan hingga selter kabupaten dan kalurahan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, Agus Budi Raharja, mengatakan saat ini di Bantul ada 39 critical bed, 325 noncritical bed , 1.000 bed di selter kalurahan, dan kabupaten. Jumlah itu belum bisa menampung seluruh pasien Covid-19.

“Dengan kemampuan tersebut, hanya sekitar 10 persen yang bisa tertampung. Otomatis, sisanya menjalani isoman  di rumah,” kata Agus, Selasa (27/7/2021).

Baca Juga: Duka Mendalam, 47 Dokter di Jatim Meninggal Karena Covid-19 Sepanjang Juli

Meski demikian, Agus memastikan pasien yang menjalani isoman tercatat di Dinkes Bantul dan puskesmas terdekat. Nantinya pengawasan terhadap pasien Covid-19 yang menjalani isoman dilakukan oleh puskesmas melalui daring.

“Puskemas juga memberikan obat sesuai dengan gejala yang dilaporkan pasien,” lanjutnya.

Agus mengungkapkan, dengan tidak berimbangnya jumlah bed dan jumlah pasien Covid-19 memberi dampak terhadap penambahan kasus kematian. Sampai Senin (26/7), telah ada 890 kematian pasien Covid-19. Adapun kematian pasien rata-rata terjadi karena desaturasi oksigen yang akhirnya tidak tertolong.

Oleh karena itu, menurut Agus, sejumlah upaya terus dilakukan oleh Pemkab untuk menambah tempat tidur. Untuk RSLKC Bambanglipuro akan ditambah sebanyak 30 tempat tidur, dan RSPS Bantul ditambah 14 tempat tidur kritikal.

“Penambahan juga dilakukan di RS Hardjolukito dan RS PKU Muhammadiyah Bantul,” ucapnya.

Baca Juga: Kisah Pilu Pria Mojokerto, Akhirnya Meninggal Dunia Setelah Ditolak 9 RS

Kembangkan RS Lapangan jadi RS bertipe D

Di sisi lain, Pemkab Bantul telah merencanakan untuk mengembangkan RSLKC Bambanglipuro sebagai rumah sakit tipe D. Sejumlah langkah awal telah dilakukan, salah satunya adalah pembebasan lahan seluas 2.000 meter dengan menggunakan APBD 2020 senilai Rp2,5 miliar untuk lahan di sisi timur bangunan RSLKC.

“Awalnya memang mau kita kembangkan jadi RS tipe D. Namun karena pandemi maka kami gunakan sebagai RS lapangan. Sertifikat, alih fungsi juga sudah selesai. Insyaallah tahun ini sebenarnya sudah mulai lah pembangunannya,” kata Agus.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih sejatinya telah berkomunikasi dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono  terkait rencana pengembangan RSLKC menjadi RS tipe D.

Baca Juga: Duka Ghifari Bocah Sukoharjo Yatim Piatu Karena Covid-19, Kerap Nangis di Makam Ayah Ibu

“Tadi pak bupati sudah diamanahkan oleh pak Menteri PUPR untuk bekerja sama dengan Kepala Balai PUPR agar bisa difasilitasi dan disupport dari PUPR untuk pengembangan,” katanya.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mengatakan pengembangan RSLKC menjadi RS tipe D  karena dananya belum dianggarkan. Ia beralasan ada kebijakan refocusing anggaran utamanya pembangunan fisik untuk penanganan Covid-19.

“Harapannya ini nanti bisa dibiayai oleh APBN. Kalau tidak ya, kita akan bangun sendiri,” ucap Bupati Halim.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago