[x] close
top ear
Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Daster

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 14 Juli 2020. Esai ini karya Rini Yustiningsih, jurnalis Solopos. Alamat e-mail penulis adalah rini.yustiningsih@solopos.co.id.
Diterbitkan Kamis, 23/07/2020 - 21:08 WIB
oleh Solopos.com/Rini Yustiningsih
5 menit baca

Belakangan ini daster, gaun longgar semata kaki maupun selutut, kerap tampil di status Whatsapp, beranda Facebook, maupun tampilan Instagram. Foto daster yang dipasang itu merupakan barang dagangan. Daster kini makin ngehits pada masa pandemi Covid-19.

Dalam tiga tahun terakhir pamor daster sebenarnya terangkat gara-gara, salah satunya, istri Ruben Onsu, Sarwendah Tan, kerap menggunggah foto saat dia mengenakan daster di rumah. Saat artis kelahiran 29 Agustus 1989 ini menyuapi putri pertamanya, Thalia Putri Onsu, jamak mengenakan daster.

Saat membeli sayur di tukang sayur keliling, Sarwendah juga memakai daster dengan rambut dikucir ekor kuda. Saat beres-beres rumah, dia juga berdaster. Daster sama sekali tak mengurangi keartisan Sarwendah. Banyak warganet memuji keberanian Sarwedah mengunggah foto berdaster di media sosial.

Sarwendah layak disebut duta daster, berhasil mengemas daster menjadi ”pakaian” artis yang menghiasi media sosial. Daster yang dikenakan perempuan di Indonesia sebenarnya berasal dari Amerika Serikat. Sejumlah catatan menyebut daster berasal dari kata duster yang merupakan pakaian berpotongan jubah panjang.

Bahan duster adalah kain ringan yang tak membuat gerah pemakainya. Duster mulai dikenal pada era 1800-an. Saat itu dikenakan oleh para laki-laki koboi. Modelnya berupa jubah panjang terbuka di bagian depan atau biasa disebut outer, pakaian luar untuk menutupi pakaian lain.

Seiring berkembangan waktu, duster berubah pemakainya. Para perempuan mengenakan duster. Konsepnya masih sama, duster hanya sebagai outer.  Baru pada pertengahan abad  ke-20, duster tak lagi sebagai baju luaran.

Mulailah duster menjadi jenis baju tersendiri. Ada yang tetap bukaan luar (tanpa kancing) maupun berkancing di bagian depan. Panjangnya tidak hanya semata kaki, ada juga yang pendek selutut. Ada yang berlengan maupun tanpa lengan.

Fungsi duster saat itu sebagai baju dobelan atau pelindung baju sebenarnya saat si pemakai memasak maupun membersihkan rumah. Dari sinilah duster kemudian mengalami pergeseran fungsi menjadi identik dengan baju rumahan.

Di Indonesia daster identik sebagai baju rumahan. Banyak perempuan yang mengenakan daster sebagai baju tidur, pakaian saat memasak, mencuci, hingga aktivitas beres-beres rumah. Potongan yang longgar membuat pemakai bebas bergerak.

Kain yang digunakan terasa adem. Sangat cocok dengan iklim tropis Indonesia. Biasanya kain yang dipakai jenis katun, rayon, katun jenis paris, maupun batik. Harga daster yang relatif murah, mulai Rp30.000, menjadi nilai lebih.

Pada masa pandemi Covid-19 ini daster kerap muncul di media sosial hingga situs pencarian. Di kolom komentar media sosial cukup banyak yang menjadikan daster sebagai kambing hitam atas lonjakan angka kehamilan di beberapa daerah selama pandemi.

Perempuan yang sering memakai daster di rumah dinilai memicu terjadinya peningkatan angka kehamilan. Begitulah pandangan banyak warganet. Di Indonesia masih banyak (kaum lelaki) yang mempunyai pikiran sempit,  bahwa pakaian merupakan pemicu angka kehamilan. Lagi-lagi daster juga dijadikan kambing hitam atas kenaikan berat badan.

”Keseringan pakai daster di rumah selama work from home [WFH] jadi tidak bisa mengontrol berat badan. Soalnya dasternya longgar banget,” ujar seorang teman.

Anggapan teman saya, pakaian itu bisa menjadi pengontrol kenaikan berat badan. Dia sering pakai celana jeans.  Nah, pakaian yang dia pakai itu sering dijadikan alarm. Jika merasa sesak saat mengenakan pakaian itu artinya berat badannya naik.

”Kalau sudah begitu, aku kontrol makanan,” kata teman saya itu.

Yang terjadi selama WFH ini dia selalu memakai daster yang ukurannya longgar banget. Efeknya, kata dia, tidak tahu berat badannya  naik atau tidak. Alhasil, menurutnya, gara-gara daster berat badan dia ikutan naik.

Gak ada yang ngontrol, jadi makanan apa saja masuk,”  ujar dia.

Alamak, daster...daster, seandainya dia bisa berbicara pasti akan komplain keras: jangan salahkan aku!

Menggembirakan

Di tengah tuduhan menjadi biang semua itu, daster memunculkan hal menggembirakan. Jenis pakaian ini dalam empat bulan terakhir menjadi produk laris yang dicari masyarakat.

Tak lain karena anjuran “di rumah saja” menjadikan orang lebih banyak bekerja di rumah dan enggan keluar rumah. Daster menjadi baju kebesaran dan yang paling banyak dicari para perempuan.

Pada masa awal pemerintah menyatakan status darurat Covid-19 untuk Indonesia,  pada Maret, penjualan daster bisa melonjak sampai 300%. Memasuki Juli mulai turun tipis, tetapi penjualan masih tinggi dibanding masa-masa sebelum pandemi.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Teten Masduki pada 8 Juli lalu mengatakan penjualan daster dan sarung melonjak tajam mengalahkan penjualan baju formal atau resmi.

Teten menyebut kenaikan produk daster dan sarung karena banyak aktivitas masyarakat yang dilakukan di rumah. Penjualan baju formal, seperti batik formal dan sejenisnya, turun karena banyak acara yang ditiadakan, seperti hajatan, acara pertemuan formal, dan lainnya.

Sejumlah merek lokal sekarang menggenjot produksi daster, bahkan agar terkesan naik kelas menggunakan istilah home dress alias baju rumah. Perbedaan dengan daster pada kualitas bahan. Meskipun maknanya sama, menurut mereka menggunakan bahasa Inggris supaya baju itu naik kelas.

Di Indonesia harga produk yang menggunakan bahasa Inggris biasanya lebih mahal dibanding yang menggunakan bahasa Indonesia. Contoh harga es teh. Di restoran/kafe yang daftar menunya menggunakan bahasa Inggris, ice tea, harga yang dipatok mulai Rp15.000.

Di restoran/kafe yang daftar menu menggunakan bahasa Indonesia es teh harganya Rp5.000-Rp7.000. Lebih murah lagi di lapak kaki lima, es teh paling mahal Rp2.000-Rp4.000.

Makin ngehitsnya daster bisa menjadi momentum kebangkitan usaha mikro, kecil, dan menengah bidang fesyen pada masa Covid-19, termasuk juga industri tekstil dan produk tekstil.

Nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia masih membangkitkan optimisme. Situs kemenperin.go.id menjelaskan kinerja ekspor tekstil dan produk tekstik dalam tiga tahun terakhir menanjak.

Pada 2016 senilai US$11,87 miliar. Pada 2017 mencapai US$12,59 miliar. Pada 2018 nilai ekspornya US$ 13,27 miliar. Periode Januari-Mei 2019, ekspor tekstil dan produk tekstil nasional US$5,63 miliar atau naik dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapaiUS$5,61 miliar.

Pada masa pandemi Covid-19 ini inovasi dan respons atas perkembangan pasar yang dinamis mutlak diperlukan. Para pelaku usaha sektor apa saja yang tak berani berinovasi dan adaptif dengan pasar siap-siap dikategorikan sebagai sunset industry. Mereka yang bisa merespons pasar dengan cepat berpeluang menjadi sunrise industry.

Jangan-jangan dalam beberapa tahun ke depan alat pelindung diri lengkap termasuk baju hazardous materials atau hazmat akan dikemas sebagai busana modis alias fashionable yang digunakan sebagai pakaian sehari-hari karena Covid-19 belum ketahuan kapan berakhir. Semoga vaksin Covid-19 segera ditemukan.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini