top ear
Duri, 55, (kiri) saat menunggui istrinya, Munipah, 48, yang tengah menjalani perawatan medis usai menjadi korban kecelakaan di indekos Jl. Pemugaran Utama, Nusukan, Solo, pada Sabtu (26/9/2020) sore. (Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman)
  • SOLOPOS.COM
    Duri, 55, (kiri) saat menunggui istrinya, Munipah, 48, yang tengah menjalani perawatan medis usai menjadi korban kecelakaan di indekos Jl. Pemugaran Utama, Nusukan, Solo, pada Sabtu (26/9/2020) sore. (Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman)

Curhat Pasutri Pemulung di Banjarsari Korban Tabrak Lari:  Jual Becak Demi Sambung Hidup

Begini kisah tragis yang dialami pasutri di Banjarsari Solo yang menjadi korban tabrak lari hingga kehilangan bayi kembar.
Diterbitkan Minggu, 27/09/2020 - 14:00 WIB
oleh Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman
4 menit baca

Solopos.com, SOLO – Pasutri pemulung yang saat ini singgah di Tegalmulyo, Nusukan, Banjarsari, Solo mengalami nasib tragis setelah menjadi korban tabrak lari. Pasangan suami istri bernama Suri, 55, dan Munipah, 48, itu terpaksa menjual becak demi menyambung hidup.

Mereka juga harus  rela kehilangan dua bayi kembar dalam kandungan yang dinantikan selama 15 tahun terakhir. Mereka menjadi korban tabrak lari di Solo pada 9 September 2020. Kecelakaan itu terjadi di kawasan Nusukan, Jl. Pierre Tendean.

“Saya mendorong becak, sedangkan Munipah menuntun sepeda kayuh. Saya berjalan dari arah selatan ke utara kawasan Nusukan (Jl. Pierre Tendean). Tiba-tiba dari belakang kami ditabrak mobil berwarna hitam sangat keras sekali. Kejadiannya saya tidak ingat, 18 hari ini sepertinya,” ujar Duri dengan Bahasa Jawa aksen Kediri Jawa Timur, saat ditemui Solopos.com, Sabtu (26/9/2020).

Kemarin Duri telah kembali bekerja. Becak sumber penghidupannya ia jual menjadi besi rongsokan. Ia menerima uang Rp200.000 dari menjual becak itu. Ia mengakui sangat terasa sulit bekerja sendirian setelah menjadi korban tabrak lari.

Mayat Pria di Selokan Tawangmangu Ternyata Korban Tabrak Lari, Pelaku Berhasil Ditangkap 

Selama ini ia mengandalkan Munipah untuk urusan baca tulis. Sehingga, ia harus kembali pulang dulu meminta Munipah mencatatkan rongsokan yang sudah Duri peroleh.

“Saya tidak bisa kalau tidak bekerja. Dulu saya punya dua becak, satu rusak satu dipinjam orang, tapi tidak bayar sewa ke saya. Setelah tahu saya tertimpa musibah, becak itu dikembalikan,” papar Duri.

Penghasilan

Duri mengaku dalam sehari, berangkat pagi kembali ke rumah dini hari ia memperoleh uang sekitar Rp50.000. Uang itu cukup untuk menghidupi Munipah, orang yang mendampingi Duri kemana pun.

Duri pun tak menuntut banyak atas peristiwa tabrak lari yang menimpanya. Ia pun tak melaporkan peristiwa itu ke polisi. Ia tak mengharap pelaku datang meminta maaf atau sekadar memberikan tali asih. Ia tak mengharapkan itu semua. Ia hanya meyakini segala yang ada dunia pasti ada balasnya. Entah langsung, entah suatu saat nanti.

“Sampun kulo pasrah kaliyan sing ndamel urip. Tiyang ngoten niku tetep angsal alangan. Kulo sampun ikhlas. [Sudah, saya ikhlas pasrah kepada Tuhan, orang seperti itu pasti nanti banyak halangan. Saya ikhlas],” ujar Duri.

Kisah Mbah Dalimin, Bakul Kangkung Berusia 80 Tahun di Alkid Solo 

Diberitakan sebelumnya, saat kecelakaan terjadi Duri terpental cukup jauh, sedangkan Munipah terseret beberapa meter terhantam mobil dari arah yang sama. Seketika, Duri berusaha menarik tubuh kecil Munipah agar tak terseret. Tak sempat berhenti, mobil itu terus menghantam becak dan sepeda mereka hingga koyak. Kardus dan botol bekas air mineral yang bakal jadi sandang pangannya pun berceceran di jalanan.

Pokoke pas meh subuh kejadiane, mobil werno iremobil opo, aku gaisoh moco e. Kulo ditabrak disik, bojo kulo kegeret mobil ireng. [Kejadiannya saat subuh, mobil berwarna hitam pendek. Saya tidak tahu itu mobil apa karena saya tidak bisa membaca. Saya ditabrak dulu, lalu istri saya terseret],” ujar Duri.

Cedera Kaki

Duri yang mengalami cedera kaki berat saat itu melupakan kondisinya. Istrinya yang tengah mengandung buah hatinya tengah terkapar di pinggir jalan. Kepala istrinya penuh dengan darah yang terus mengalir menutupi wajah.

Video Sejoli Mesum di Alun-Alun Sragen Viral, Ini Peringatan Satpol PP 

Becak sumber penghasilannya ringsek, ia tak pedulikan. Ia hanya terpikir untuk segera membawa Munipah ke rumah sakit. Dalam beberapa menit, warga sekitar ada yang mencarikan mobil untuk mengevakuasi mereka.

“Kami di bawa ke RSUD Ngipang terus kami dirujuk ke RS. dr. Moewardi. Saya tahu mobil itu mobil sewa, tetapi katanya sudah ada yang membayar,” papar Duri.

Duri memilih menuruti penindakan medis yang diberikan. Nahas, bayi yang dinanti selama 15 tahun itu tidak tertolong. Ia menyebut jika tidak terjadi kecelakaan, tiga hari kemudian ia dikaruniai dua anak lelaki kembar. Namun, Allah berkehendak lain, Duri belum dikaruniai anak.

Jadi Tontonan, Wanita Cantik Asal Karanganyar Bersihkan Kali Pepe Solo Akibat Terjaring Razia Masker

“Saat di rumah sakit, saya cuma bawa uang Rp5.000. Saya sangat lapar sekali, saya juga ingin membelikan istri saya minuman. Tetapi tidak bisa, saya sempat ditanyai dokter apa sudah makan. Ya saya menjawab belum, lalu saya diberi uang untuk makan,” imbuh Duri.

Seusai menjalani perawatan medis, dua bayinya dimakamkan ke Kediri. Namun, Munipah harus menjalani perawatan medis akibat luka parah di kepala. Sangat tidak memungkinkan jika Duri harus mengajak Munipah ke gubug reot beralas tanah beratap plastik.

Berbekal bantuan uang dari para donatur, Duri menyewa kamar indekos. Duri menyebut sudah enam tahun di Solo, jika siang tidur di gubug jika malam tidur di pinggir jalan. Ia mengaku data-data kependudukan yang mereka miliki hilang diambil orang saat mereka terlelap.


Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini