top ear
Lamiyanto dan istrinya menyiapkan soto untuk pelanggan di warungnya, Rabu (22/1/2020).
  • SOLOPOS.COM
    Lamiyanto dan istrinya menyiapkan soto untuk pelanggan di warungnya, Rabu (22/1/2020).

Curhat Bakul Soto di Klaten Cemas Tergusur Proyek Tol Solo-Jogja: Ini Tanah Leluhur Saya

Proyek infrastruktur Tol Solo-Jogja membuat salah satu warga Klaten cemas bakal tergusur dari tanah leluhurnya.
Diterbitkan Minggu, 26/01/2020 - 12:00 WIB
oleh Solopos.com/Ponco Suseno
3 menit baca

Solopos.com, KLATEN – Sunanti, 50, sibuk mengiris kubis di warung sotonya, Rabu (22/1/2020) siang. Warga Slametan RT 011/RW 004,Gatak, Ngawen, Klaten ini hendak menyajikan soto pesanan pelanggannya.

Di tengah menuangkan kuah soto ayam, Sunanti sempat ditanya oleh pelanggannya soal proyek Tol Solo-Jogja. “Opo kene sido keno tol? Yen sido wis dadi miliarder mengko [apa di sini terdampak tol? Kalau iya bisa jadi miliarder nanti]” teriak salah seorang pelanggan soto di warung Sunanti.

Mendengar pertanyaan itu, Sunanti seolah tak memperhatikan. Dirinya tak tahu-menahu soal perkembangan rencana pembangunan Tol Solo-Jogja.

“Sudah banyak yang tanya seperti itu [soal tol]. Saya pun tidak tahu. Info awal memang rumah saya akan terdampak pembangunan itu. Selaku warga saya manut saja nantinya,” kata Sunanti.

Di sebelah Sunanti, turut berdiri suaminya, Lamiyanto, 50. Sembari menyiapkan pesanan es teh, Lamiyanto menimpali pertanyaan iseng dari salah seorang pelanggannya itu.

“Kalau dipilih memilih, semoga pembangunan jalan tol itu tidak mengenai rumah dan warung ini. Sehingga saya masih bisa tinggal di sini. Apapun, ini tanah leluhur saya. Sungguh berat hati meninggalkan rumah ini,” kata Lamiyanto.

Meski demikian, Lamiyanto mendukung proyek Tol Solo-Jogja itu. Dia pun sudah berembuk dengan sang istri jika tergusur akibat proyek infrastruktur negara itu.

“Tapi, jalan tol ini menjadi proyek negara. Mau enggak mau, ya harus mau [mendukung]. Saya sudah berembuk dengan istri nantinya akan pindah ke mana. Istri saya memilih pindah ke tanah kelahirannya, di Bantul,” sambung dia.

Lamiyanto mengatakan cerita pembangunan jalan tol Solo-Jogja mulai santer didengar warga di Slametan, Gatak, Ngawen, Klaten, sejak setahun terakhir. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah menyurvei lokasi sejumlah lahan di Slametan sebanyak tiga kali.

“Survei yang pertama itu memang mengenai rumah saya. Selanjutnya, survei kedua sempat tidak mengenai rumah saya. Di survei ketiga, lagi-lagi rumah saya terkena. Meski berpeluang terdampak proyek tol, saya pribadi masih berdoa semoga tidak kena. Jika akhirnya terdampak, ya tidak bisa ngapa-ngapain juga,” terang Lamiyanto.

Di hadapan Solopos.com, Lamiyanto bercerita tentang warung sotonya. Sekitar sewindu silam, Lamiyanto sengaja mendorong istrinya agar bersedia mengelola warung soto. Kisah itu bermula saat rumah Lamiyanto dijadikan sebagai tempat kumpulan warga setempat. Di saat itu, istri Lamiyanto menyuguhkan soto di hadapan tamunya. Tak disangka, warga mengacungi jempol rasa soto buatan istrinya.

Dari pujian warga itu, Lamiyanto mendesak istrinya agar membuka warung soto. Semula, istrinya tidak mau. Setelah dibujuk beberapa kali, akhirnya istrinya bersedia. Warung soto dibangun tepat di depan rumahnya.

“Warung soto ini ada sejarahnya juga. Omzet dari warung soto sudah senilai Rp400.000-Rp500.000 per hari. Harga soto per mangkuk senilai Rp5.000. Itu menjadi sumber penghasilan di keluarga saya. Jika saya pindah [terdampak jalan tol], otomatis saya harus merintis usaha lagi dari nol di lahan yang baru,” katanya.

Di dukuhnya, Lamiyanto juga dikenal sebagai takmir masjid. Sesuai rencana, Masjid Al Hidayah di kampungnya juga berpotensi terdampak Tol Solo-Jogja.

“Di hadapan pengurus Masjid Al Hidayah Slametan, saya sempat sampaikan semoga masjid ini tak terdampak pembangunan jalan tol. Jika terkabul [tidak terdampak jalan tol] akan menyembelih hewan sapi,” katanya.

Diwawancarai terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Klaten, Jaka Sawaldi, mengatakan Pemkab Klaten masih sebatas menggelar rapat koordinator (Rakor) persiapan menyikapi rencana pembangunan Tol Solo-Jogja. Di antaranya mengidentifikasi fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos), seperti sekolah, balai desa, Puskesmas, dan lainnya.

“Di rapat awal pekan lalu, kami sudah instruksikan ke masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) agar mengidentifikasi fasum dan fasos itu,” katanya.

Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkait