top ear
Saidi, 67, menunggu penumpang dii becaknya di area Purwosari, Jl. Slamet Riyadi, Solo, Selasa (17/3/2020). (Solopos/Wahyu Prakoso)
  • SOLOPOS.COM
    Saidi, 67, menunggu penumpang dii becaknya di area Purwosari, Jl. Slamet Riyadi, Solo, Selasa (17/3/2020). (Solopos/Wahyu Prakoso)

Cuhat Penarik Becak Solo Selama KLB Corona: Sudah Sepi Masih Ditawar, Purwosari-Tirtonadi Dihargai Rp10.000

Nasib penarik becak di Solo selama KLB corona semakin tak menentu di tengah pandemi corona.
Diterbitkan Rabu, 8/04/2020 - 15:15 WIB
oleh Solopos.com/Wahyu Prakoso
2 menit baca

Solopos.com, SOLO – Penarik becak adalah salah satu yang terdampak akibat pandemi corona. Sederet penarik becak di Solo mengeluhkan nasib mereka yang tak menentu akibat wabah corona.

Padahal, sebelumnya penarik becak di kawasan Purwosari kehilangan pendapatan akibat pembangunan flyover. Mereka tetap bertahan meski banyak orang beralih ke transportasi online.

Kini, kekhawatiran mereka semakin menjadi-jadi di tengah wabah korona. Salah satu tukang becak, Saidi, 67, memarkirkan becak di trotoar jalur rekayasa lalu lintas Jl. Slamet Riyadi, Solo, setelah mengantar dua orang penumpang ke Pasar Klewer.

96.469 Siswa Lolos SNMPTN 2020! Cek Pengumuman Di Sini

Dua penumpang itu merupakan pelanggan pertama bapak lima anak tersebut, Selasa (17/3/2020) lalu. Dia bersyukur mendapatkan uang dari jasanya.

“Alhamdulillah. Udah narik satu. Tadi ngenyang [menawar] Rp25.000. Saya antar,” kata Saidi.

Saidi yang berasal dari Gemolong, Sragen, kala itu memilih bertahan di Solo sebagai penarik becak. Dia tidak punya rumah dan keluarga di Solo. Jadi, setiap hari dia tidur di becaknya.

Nasib serupa dialami Paiman, 56, seorang penarik becak di Kota Solo. Kala itu dia bercerita kepada Solopos.com mendapat penumpang dua manula dari Stasiun Purwosari ke Terminal Tirtonadi.

121 Mahasiswa Perantau di Sukoharjo Dapat Bantuan Sembako

Ditawar Penumpang

Dia sempat menawarkan harga Rp40.000 yang ditolak oleh penumpangnya. Dia akhirnya hanya menerima upah Rp10.000 setelah mengantarkan dua penumpang pada pukul 01.30 WIB.

“Mereka nawar Rp10.000. Saya terpaksa mengantar mereka karena tidak ada uang untuk beli makan. Saya iyakan [terima]. Walau badan mereka besar,” ujar penarik becak di Solo itu.

Paiman masih menyimpan asa karena ia harus mempersiapkan dana pendidikan untuk putra bungsunya, Rifano, yang menginjak Kelas IX SMP. Adapun anak pertamanya, Sri Wahyuni, telah menikah dan tinggal di Sulawesi.

MUI Jateng Belum Putuskan Teknis Ibadah Ramadan Selama Pandemi Corona

“Niatnya cari uang untuk persiapan biaya sekolah. Cita-cita anak saya ingin melanjutkan ke jenjang SMK. Saya lihat situasi dulu. Semoga Solo membaik. Kalau cari pekerjaan lain susah karena sudah tua,” katanya.

Jumlah penumpang kereta api di Kota Solo menurun drastis sejak ditetapkan status Kejadian Luar Biasa Corona. Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, memastikan status KLB corona bakal diperpanjang melihat perkembangan kondisi.

Banner SBBI

Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini