[x] close
Clubhouse dan Kesan Pertama
Solopos.com|kolom

Clubhouse dan Kesan Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat 26 Februari 2021. Esai ini karya Hery Trianto, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Solopos.com, SOLO -- Senin malam (22/2) adalah kali pertama saya mengunduh Clubhouse, aplikasi media sosial berbasis obrolan suara. Berbeda dengan Line atau Whatsapp yang berbasis teks, Clubhouse lebih difokuskan pada konten audio untuk berinteraksi.

Aplikasi obrolan ini memang lagi ngetren setelah digunakan oleh Elon Musk, salah satu orang terkaya di dunia pendiri Tesla, tetapi sayang baru bisa melalui sistem operasi IOS. Clubhouse ini masih agak ekslusif karena populasi telepon pintar saat ini didominasi oleh sistem operasi Android.

Sebagai orang baru, denga tertatih-tatih saya menelusuri berbagai ruang obrolan yang tersedia. Diskusi soal media dan industri kreatif, hoaks, hingga entrepreneurship tersedia malam itu dengan jumlah peserta belasan hingga ribuan.

Perhatian saya tertarik dengan topik Pandemic Talk: Pariwisata di Tengah Pandemi. Pertama, karena salah satu moderatornya dokter Tirta Hudi. Kedua, karena para pembicara tersohor dan berkompeten seperti Menteri Pariwisata dan Industri Kreatif Sandiaga Uno dan Menteri Kesehatan Budi Sadikin.

Sandiaga bergabung di ruang obrolan itu dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta seusai bertemu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Ia pamit sebelum acara berakhir karena mengantuk dan hendak berangkat tidur. Budi Sadikin mengaku malam itu untuk kali pertama ngobrol melalui Clubhouse.

Pembicara lainya juga tak kalah menarik. Mereka adalah sosiolog, pelaku pariwisata, selebritas media sosial hingga Wakil Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.  Doni Oskaria. Diskusi gayeng, diikuti tak kurang dari 1.900 orang.

Sebagian di antara mereka saya kenal karena kebetulan menyimpan nomor telepon di handset seperti Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja, Direktur Utama PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Jobi Triananda, Ketua Forum Pemred Kemal Gani, hingga teman sekantor Annisa Magrit.

Seru kan? Iya benar. Ini adalah obrolan seru. Saya menangkap Sandiaga bicara dengan sangat rileks. Mungkin karena tidak harus mematut diri di depan layar seperti layaknya diskusi virtual melalui Zoom.

Budi sadikin sama, sering menggunakan kata ”aku” yang terdengar  informal dan bahasa campuran Indonesia-Inggris. Sandiaga, misalnya, menjelang pukul 23.00 WIB  berbicara sebelum pamit kira-kira begini,” Sebelum aku pamit untuk bobok, karena besok mesti kerja pagi pagi….(tertawa) karena ini udah beda dari saat ‘menggangur’ dulu…..” Para pembicara lain pun tertawa ngakak.

Ruang ngobrol virtual ini juga sangat adem, juga asyik. Semoga saya tak menemukan orang berantem melalui aplikasi ini sebagaimana dengan mudah kita jumpai pada platform media sosial lain. Mungkin karena ini barang baru, entah nanti.

Sepenangkapan saya yang masih terbatas, Clubhouse ini juga unik. Diskusi tanpa tatap muka--seperti webinar yang mulai membosankan-- justru membuat orang bicara lepas. Budi Sadikin beberapa kali seperti kelepasan berbagi informasi konfidensial. Ia segera menegaskan bahwa itu bukan untuk dikutip alias tidak boleh dipublikasikan.

Budi seperti lupa, bahwa hampir 2.000 orang memantau diskusi, mendengarkan sambil beraktivitas lain, makan, atau bahkan ada yang beranjak tidur. Kata ”jangan dikutip” mungkin tidak terlalu mujarab bila merujuk audiens yang cukup besar, tetapi informasi seperti ini  justru semakin menarik.

Clubhouse bisa disebut aplikasi digital anak kandung pandemi Covid-19. Aplikasi ini hadir dengan segala kepraktisan, multitasking, dan tentu saja nyaman. Siapa saja bisa menciptakan kelab dan ngobrol apa saja secara terbuka tanpa harus bertatap muka.

Menurut laporan firma riset aplikasi App Annie, pengguna Clubhouse secara global kini meningkat dari 3,5 juta menjadi 8,1 juta dalam jangka waktu 1-16 Februari 2021. Mengutip BBC, Minggu (21/2/2021), sekitar 2,6 juta dari total unduhan baru ini berasal dari Amerika Serikat. Pengunduh lainnya juga tersebar luas di seluruh dunia.

Aplikasi ini mungkin bisa menjadi antitesis dari Zoom, aplikasi chit-chat yang sedang digandrungi ketika pandemi telah memaksa orang bekerja dari rumah, dan menyelesaikan berbagai persoalan ketika mobilitas sedang dijauhi.

Anda pasti mengalami, orang sekarang mulai enggan menampakkan muka ketika rapat virtual dan mematikan layar. Apakah Clubhouse ini akan bisa populer jika hanya mengandalkan 7,39% populasi sistem operasi mobil di Indonesia?

Mari kita tunggu. Saya bisa mafhum, Android menguasai 92,39% pasar sistem operasi yang kebanyakan melekat pada telepon pintar, sementara 0,22% lain menggunakan Samsung, Windows, dan Nokia.

Jawaban kedua mungkin sangat mudah, Clubhouse bisa diunduh melalui Android–dan kabarnya memang begitu--sehingga lebih cepat populer. Namun, jika memang mau eksklusif dan memanjakan para die hard IOS dan Iphone tetap saja seperti sekarang.

***

Lalu, bagaimana dengan substansi diskusi pada Senin malam tersebut? Saya rasa ini tak kalah menarik daripada aplikasi media sosial anyar itu. Sekilas, pandemi covid-19  dan pariwisata adalah dua hal yang bertolak belakang.

Pandemi adalah arti lain dari hilangnya mobilitas manusia karena berisiko persebaran virus. Pariwisata adalah identik dengan pergerakan orang untuk berlibur, piknik, dan bepergian dalam sebuah kerumunan massa.

Sebagaimana dikatakan Budi Sadikin, setelah hampir satu tahun pandemi melanda Indonesia, bukan saatnya lagi kita mempertentangkan hal tersebut. Fokus saat ini adalah bagaimana masyarakat hidup bersama Covid-19 dan menemukan cara-cara yang efektif untuk menanggulangi.

Dengan umpan lambung ini tentu saja Sandiaga setuju. Dia lalu mengutip pernyataan Gubernur Tokyo Yuriko Koike, ibu kota Jepang yang tahun ini menggelar olimpiade tertunda.

”Saat [pandemi] seperti sekarang bukan soal melakukan atau tidak melalukan, jalan atau tidak jalan, tetapi adalah soal bagaimana,” begitu dia menirukan.

Kutipa pertanyaan ini memang sangat dalam maknanya. Pertanyaan ini menuntun manusia untuk menghadapi realitas sekarang karena hidup memang akan terus berputar. Masalahnya memang bagaimana agar kita bisa bertahan hidup, melakukan sesuatu tetap tetap aman, dan tidak tertular Covid-19.

Menurut Sandiaga, industri pariwisata Indonesia melibatkan 34 juta pekerja. Jelas kontribusi ekonominya tidak bisa diabaikan begitu saja. Oleh karena itu, sejak diangkat menjadi menteri oleh Presiden joko Widodo, dirinya bekerja untuk memastikan bahwa sektor ekonomi ini bisa bertahan.

Pandemi telah memaksa para pelaku bisnis menyesuaikan diri untuk bertahan, mengubah cara hidup, termasuk melahirkan inovasi sebagai anak kandung krisis. Sandiaga bercerita kini tengah memutar otak untuk menemukan cara, termasuk sertifikasi CHSE.

CHSE adalah kependekan dari cleanliness, health, safety, environment sustainability. Ini adalah sebuah standar penerapan protokol kesehatan yang berbasis pada kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan.

Menurut Sandi, sertifikasi ini akan menjadi bukti pelaku usaha telah memiliki, menerapkan, hingga meningkatkan protokol kesehatan di usaha masing-masing. Inilah yang disebut ”bagaimana”, kendati semua tahu setelah pandemi telah dunia tak lagi sama, tak pernah sama.

Dunia yang tak sama lagi ini mengingatkan saya pada  Chatib Basri, menteri keuangan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut ekonom Universitas Indonesia ini, sebagai penopang ekonomi, sektor pariwisata harus mengubah cara, termasuk jeli membaca perubahan cara manusia berwisata.

Sebagai contoh, karena interaksi antarmanusia harus dihindari, maka orang lebih suka destinasi yang soliter, hotel dalam bentuk resor dengan bangunan terpisah dan sistem sirkulasi udara terpisah. Wisatawan juga suka pergi dengan mobil pribadi dan tentu saja tempat yang memenuhi sertifikasi CHSE.

Apakah semua ini akan terus-terusan begini? Pada masa awal pandemi industri pariwisata global memperkirakan akan merumahkan 50 juta pekerja. Anda pasti bisa membayangkan bagaimana kehidupan negeri-negeri dengan kontribusi besar produk domestik bruto dari pariwisata.

Sebagaimana telah disepakati Sandiaga Uno dan Budi Sadikin, sekarang tak perlu lagi mempertentangkan pandemi dan kegiatan ekonomi.  Kini tinggal bagaimana semua mencari cara dalam menghadapi pandemi, termasuk dua menteri itu.


Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago