Citra Solo The Spirit of Java

Sejak masih menjadi calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka melihat The Spirit of Java masih relevan sebagai city branding Kota Solo. Visi dan misi dia sebagai Wali Kota Solo juga terkait erat dengan tagline Solo The Spirit of Java.
SHARE
Citra Solo The Spirit of Java
SOLOPOS.COM - Irfan Sutikno (Solopos/Istimewa)

Solopos.com, SOLO — Pada 9 Juni 2022 masyarakat Kota Solo dikejutkan sekaligus merasa bangga dengan pemberitaan berbagai media tentang acara Java in Paris yang berlangsung di pusat perbelanjaan Le BHV Marais Paris, Prancis.

Acara yang mengusung ratusan produk usaha mikro, kecil, dan menengah serta karya seni budaya Kota Solo di pentas dunia tersebut berlangsung 16 bulan setelah Gibran Rakabuming Raka dilantik menjadi Wali Kota Solo.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Ini layak disebut mengulang sejarah 133 tahun lalu saat digelar acara Paris’s World Fair of 1889. Dalam acara tersebut juga ditampilkan seni budaya Nusantara. Kalau dirunut ke belakang, sebenarnya hal tersebut bukan sesuatu yang mengejutkan.

Sejak masih menjadi calon Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka melihat The Spirit of Java masih relevan sebagai city branding Kota Solo. Visi dan misi dia sebagai Wali Kota Solo juga terkait erat dengan tagline Solo The Spirit of Java.

Ia berkehendak memajukan tata ruang, pariwisata, dan pelestarian budaya untuk kemajuan Kota Solo. Program unggulannya adalah peningkatan sektor pariwisata dan industri kreatif, pembenahan tata ruang dan infrastruktur, investasi kebudayaan, pembinaan kebudayaan dan kesetaraan gender, serta kerja sama wilayah Soloraya.

Ia sadar betul bahwa city branding penting sebagai payung semua kegiatan yang dilakukan selama masa kepemimpinannya, utamanya adalah implementasi dari tagline yang diusung. Dalam sebuah diskusi di Sunan Hotel pada 12 November 2022, ia berkata orang-orang yang datang di Kota Solo pasti mencari aspek budaya.

Itulah sebabnya nilai-nilai budaya Jawa bersinergi dengan apik dalam rancang bangun interior Masjid Raya Sheikh Zayed yang diresmikan belum lama ini. Motif batik kawung mendominasi lantai marmer masjid tersebut. Motif batik yang lain mudah dijumpai di banyak sudut.

Penggunaan huruf Jawa tampak selalu di signage atau papan tanda yang tersebar di banyak lokasi. Meski masih dalam proses pengerjaan, proyek penataan kawasan Jl. Jenderal Gatot Subroto mengutamakan struktur bangunan di perempatan Ngarsapura sebagai tampak seperti gapura Pura Mangkunegaran.

Kita masih menunggu kejutan-kejutan lain dalam proyek perluasan Taman Balekambang yang diproyeksikan sebagai pusat studi kebudayaan jawa, revitalisasi Taman Satwa Taru Jurug, dan lain-lain. Redesain logo yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo saat ini tengah berlangsung.

Redesain logo dikemas dalam lomba desain ulang logo Solo The Spirit of Java dan maskot Canthik Rajamala. Hal tersebut seolah-olah menjadi lonceng yang mengabarkan bakal tiba waktunya era baru city branding Kota Solo yang lebih terkonsep, modern, didukung birokrasi yang gesit dan partisipasi publik yang kreatif.

Terbayang pekerjaan besar menghidupkan filosofi ”jiwane Jawa” hingga menjadi payung dalam berbagai sektor aktivitas masyarakat maupun program pembangunan kota hingga ”jiwane Jawa” bukan saja menjadi janji yang ditawarkan, tapi fakta yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan oleh siapa pun yang datang di kota yang dikenal kaya ragam kulinernya tersebut.

Terbayang suara gamelan akan lebih sering terdengar di ruang-ruang publik dan hotel, mal, terminal, stasiun, dan lain-lain. Kualitas dan frekuensi pergelaran budaya kian meningkat, perilaku masyarakat dalam keseharian yang lebih njawani, hingga merebaknya produk turunan dari logo baru maupun maskot Rajamala dalam berbagai bentuk suvenir khas Kota Solo, antara lain, T-shirt, boneka, hingga lokasi-lokasi swafoto yang baru.

Di pintu-pintu masuk kota sangat mungkin diberi penanda kota bertuliskan logo baru dan visualisasi tiga dimensi maskot Rajamala dalam ukuran besar. Sarana transportasi publik seperti Batik Solo Trans, Kereta Batara Kresna, maupun bus-bus antarkota antarprovinsi seperti Raya, Rosalia Indah, dan sebagainya perlu memajang logo baru atau visual Rajamala.

Begitu juga dengan aktivitas kehumasan maupun media sosial akan lebih marak dengan aroma jiwanya Jawa dalam format kekinian. Tentu saja intervensi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk menopang rencana program pembangunan berbasis jiwanya jawa tersebut sangat penting, bahkan dominan, tanpa neninggalkan pentingnya partisipasi publik untuk bergerak bersama.

Peran setiap organisasi perangkat daerah di Kota Solo secara konsisten diperlukan menjadi ”penjaga gawang” keberhasilan city branding Kota Solo masa depan. Kegayengan dan keguyuban dialog bersama elemen pemangku kepentingan Kota Solo akan menjadi kunci awal keberhasilan.

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 21 November 2022. Penulis adalah pemerhati pembangunan citra Kota Solo)




Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode