[x] close
Chief of Transformation Officer Itu Bernama...
Solopos.com|kolom

Chief of Transformation Officer Itu Bernama...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 4 Juni 2021. Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI).

Solopos.com, SOLO -- Awal April 2020. Kurang lebih sebulan setelah Covid-19 merebak. Optimisme masih ada pada PT Hero Supermarket Tbk. (HERO). Operator Gerai Hero, Giant, Guardian, dan IKEA itu masih mantap dengan sejumlah rencana transformasi.

Tak ada sedikitpun sinyal tentang langkah yang ditempuh baru-baru ini. Justru, berbagai strategi baru, termasuk mengubah format, dilakukan. Tujuannya jelas. Beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen. Juga tentu saja, strategi menyikapi pandemi.

Memasuki 2021, isyarat itu mulai terlihat. Giant, salah satu brand ritel di bawah HERO, mulai ditutup. Awalnya, hanya tiga gerai. Belakangan, HERO membuat keputusan yang tentu saja mencengangkan. Semua gerai Giant—total ada 100 toko yang tersebar di 96 daerah di Indonesia—resmi ditutup Juli 2021. Permanen. Jumlah karyawannya 14.000 orang.

Keputusan perseroan ini tentu tak datang dalam semalam. Setidaknya itu pengakuan Patrik Lindvall, Presiden Direktur HERO. Patrik sempat berbincang dengan Bisnis Indonesia secara eksklusif.

“Kami sudah mempelajari tren di industri hypermarket selama bertahun-tahun, tidak hanya di Indonesia, tapi juga secara global dan regional,” ungkapnya, Selasa (25/5). Sebelum dikagetkan dengan hengkangnya brand Giant untuk selama-lamanya, kejutan sudah terjadi di pasar ritel dalam negeri sejak 2020.

Matahari, peritel department store, juga mulai menutup gerai. Gerai fesyen di bawah naungan PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) ini hanya mengelola 147 gerai per Desember 2020. Padahal, per Desember 2019, jumlah toko milik LPPF masih 169 gerai.

Gelombang penutupan gerai masih tak berhenti. Dalam catatan Bisnis Indonesia, sepanjang 2021, LPPF masih merencanakan penutupan toko. Kabarnya, jumlahnya lebih dari 20 gerai. Boleh jadi lebih.

Setali tiga uang dengan Centro. Penutupan gerai pun tak terhindarkan. Yang terbaru, pengelola Centro Department Store, PT Tozy Sentosa, resmi dinyatakan pailit pada medio Mei lalu. Sebelum menyandang status pailit, Tozy Sentosa juga berhadapan dengan gugatan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Di Indonesia, Tozy Sentosa juga mengelola Parkson.

***

Lanskap ritel di negeri ini boleh dibilang sudah berubah. Signifikan, bahkan. Faktor penyebabnya banyak. Dimulai dari pertumbuhan e-commerce yang bak cendawan di musim penghujan.

Sejak kemunculan berbagai macam platform e-commerce, peritel seperti sedang membunyikan lonceng tanda bahaya. Bagaimana tidak. Berkembangnya teknologi digital membuat perilaku konsumen pun berubah. Termasuk milenial, yang tentu saja menjadi pasar potensial.

Kenikmatan berbelanja di toko fisik tak lagi menjadi yang utama. Kini berbelanja, barang apa saja, semudah menggenggam ponsel. Semuanya di ujung jari. E-commerce panen omzet, di sisi lain peritel yang selama ini mengandalkan toko fisik harus gigit jari.

Dihadapkan pada situasi ini, tentu tidak semuanya dalam posisi siap. Yang tak mau terlindas pesatnya pertumbuhan e-commerce, lantas mengambil langkah sigap. Berbenah diri untuk menghadapi persaingan. Tidak sedikit yang mungkin pasrah pada keadaan, dan lalu mati diterjang kompetisi yang kian sengit.

Kompetisi sengit juga terjadi antara peritel yang berbeda kelas. Apa yang terjadi pada Giant mungkin bisa dijadikan contoh paling nyata yang tengah kita hadapi saat ini.

Secara umum, ada beberapa bentuk toko swalayan, mulai dari minimarket, supermarket, department store, hypermarket, hingga grosir. Pembeda dari masing-masing adalah ukuran luasan, format, dan fasilitas. Giant sendiri masuk dalam kategori hypermarket, dengan ukuran di atas 5.000 meter persegi.

Hypermarket pernah menjadi primadona pada masanya ketika belanja bulanan masih menjadi gaya hidup. Namun, belakangan popularitasnya pun mulai meredup. Tentunya sejalan dengan perubahan perilaku konsumen yang kini lebih mempertimbangkan alasan kepraktisan dan efisien.

Masyarakat, dalam beberapa tahun terakhir, mulai menyasar toko swalayan yang jauh lebih mudah dijangkau alias dekat dengan wilayah tempat tinggalnya. Praktis, alih-alih berbelanja di toko swalayan dengan ukuran yang jauh lebih besar, minimarket ataupun midimarket kini jadi andalan. Kapan pun stok di rumah menipis, konsumen dengan mudah dan cepat berbelanja setiap saat.

Namun, lagi-lagi, kompetisi tidak hanya terjadi antarsegmen, seperti hypermarket dan minimarket/midimarket yang sebarannya kian luas. Antara peritel dalam satu segmen pun terlihat persaingannya. Tak heran, berbagai strategi dan program terus dilakukan hanya untuk beradaptasi dengan tuntutan konsumen.

Di tengah upaya mati-matian peritel untuk bertahan, muncul lagi pandemi Covid-19. Seperti sudah jatuh ditimpa tangga pula. Covid-19 tak hanya menekan daya beli konsumen, tetapi juga berdampak pada pembatasan aktivitas masyarakat. Bagi bisnis ritel yang sangat bergantung pada inventori, tentu saja dua faktor tersebut sangat berpengaruh pada kelangsungan usahanya.

Coba tengok kinerja keuangan beberapa peritel. HERO, misalnya. Sebelum kehadiran IKEA di Indonesia pada 2014, pendapatan perusahaan ditopang oleh HERO, Giant, dan Guardian. Per akhir Desember 2013, pendapatan bersih perusahaan Rp11,9 triliun.

Masuknya IKEA membuat pundi-pundi keuangan perusahaan terdongkrak. Penjualan sempat mencapai Rp14,3 triliun pada 2015, sebelum akhirnya turun lagi ke posisi sekitar Rp13 triliun. Pada akhir 2019, sebelum Covid-19 menyerang, penjualan HERO tercatat di angka Rp12,1 triliun.

Pendapatan bersih menurun signifikan pada 2020. Pandemi Covid, yang berdampak pada pembatasan aktivitas masyarakat, kian menekan HERO. Alhasil, penjualan pada akhir tahun lalu hanya Rp8,8 triliun. Sampai akhir kuartal I/2021, pendapatan HERO hanya Rp1,7 triliun, dengan kerugian sekitar Rp2 miliar.

Kondisi ini dapat dipahami. Pendapatan yang masuk jelas terkoreksi karena pandemi. Di sisi lain, beban operasional tetap tinggi.  Begitupula yang terjadi pada Matahari Department Store. Dalam catatan Bisnis, penjualan Matahari terkoreksi begitu dalam pada masa awal-awal pandemi.

Pembatasan kegiatan masyarakat untuk memutus mata rantai penyebaran Covid membuat penjualan tertekan signifikan. Stok barang menumpuk. Diadang situasi kalut saat itu, tidak sedikit konsumen yang akhirnya menahan pembelian produk fesyen.

Kalaupun keinginan berbelanja itu masih ada, banyak juga yang kemudian beralih ke platform online. Matahari juga memiliki platform online. Sayangnya, penjualan dari segmen ini tak bisa mengompensasi kerugian yang terjadi pada gerai-gerai fisik Matahari.

Alhasil, penjualan kotor pada akhir 2020 hanya sekitar Rp8,6 triliun, anjlok dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp18,03 triliun.  Matahari pun mencatat rugi bersih sebesar Rp823 miliar. Tahun sebelumnya, LPPF masih mencatat laba bersih Rp1,3 triliun.

Kondisi yang dihadapi oleh masing-masing peritel itu berbeda-beda. Namun, benang merahnya jelas. Keduanya tengah tertekan dan terdesak. Oleh berbagai macam faktor. Dan, tidak ada jalan lain selain merumuskan strategi bisnisnya kembali. Agar tetap menjadi pemenang.

***

Ini soal pilihan. Strategi untuk keluar dari berbagai tekanan ini tentu berpulang pada peritel itu sendiri. Apakah tetap akan mempertahankan bisnis, tetapi harus terus berdarah-darah; atau merumuskan kembali strategi baru agar tetap bertahan.

Dalam keterangan resmi tentang pencapaian HERO pada kuartal I/2021, isyarat itu terungkap dengan jelas dari Patrik Lindvall. Bagi HERO, angka kerugian sebesar Rp2 miliar sangat mengecewakan. Akan tetapi, kerugian tersebut bisa jauh lebih besar jika tidak dilakukan langka pemulihan.

Alih-alih tetap mempertahankan Giant yang secara bisnis tidak lagi prospektif bagi masa depan HERO—tercermin dari perkembangan kinerja keuangan HERO dalam beberapa tahun terakhir—perusahaan pun memilih untuk fokus ke tiga nama dagang lainnya.

Ini pun terlihat dari strategi yang diambil perusahaan. Dalam rencana HERO, beberapa gerai Giant akan dialihkan menjadi IKEA. Jumlah IKEA dan Century—lini bisnis yang masih dinilai prospektif—akan diperbanyak. Segmen online juga akan semakin digencarkan oleh HERO. Lagi-lagi, tentu saja ini bukan rencana yang dibangun semalam.

Beda peritel, beda pula strateginya. PT Matahari Putra Prima Tbk. yang mengelola Hypermart—perusahaan ritel milik Lippo yang bermain di segmen yang sama dengan Giant—justru kian memperluas kemitraan dengan Tokopedia lewat toko virtual. Kolaborasi keduanya memang telah dimulai sejak Desember 2020, dimulai dari 23 gerai. Kini, toko virtual MPPA tercatat sebanyak 95 toko.

Transformasi yang dilakukan oleh peritel-peritel yang selama ini mengandalkan toko fisik tentu sudah masuk dalam rencana masing-masing perusahaan sejak lama. Bisa jadi sejak disrupsi yang terjadi di sektor ritel. Atau sejak mencuatnya persaingan antarsegmen, pun di dalam segmen yang sama.

Namun, mungkin saja, jika tak ada pandemi Covid-19, semua masih asyik dengan model bisnis yang sudah ada. Ini berarti, Covid-19 membuat transformasi bisnis di sektor ritel pun berjalan lebih cepat. Oleh karena itu, Chief of Transformation Officer (CTO) pantas disematkan pada Covid-19…



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago